Netral English Netral Mandarin
07:25wib
Hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen masyarakat setuju sekolah dan rumah ibadah dibuka kembali meski masih di tengah kondisi pandemi corona. Data pengguna Facebook yang mencapai 533 juta, baru-baru ini dikabarkan telah dicuri hacker. Facebook menyatakan, tak akan memberi tahu data siapa saja yang telah dicuri.
Waspada, Ini Penjelasan Orang Obesitas Lebih Mudah Meninggal Bila Terinfeksi Covid-19 

Rabu, 10-Maret-2021 15:05

Foto : Obesitas
19

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Dr dr Zubairi Djoerban SpPD-KHOM imbau masyarakat waspada, pasalnya orang dengan obesitas lebih mudah meninggal apabila terinfeksi Covid-19.

Dia jelaskan, ada korelasi langsung antara obesitas dan risiko kematian Covid-19. Dari data, orang dengan obesitas itu 74 persen lebih berisiko memerlukan penanganan ICU. Angka kematiannya juga lebih tinggi 48 persen dibanding dengan pasien Covid-19 non obesitas.

"Kenapa? Sederhananya, seseorang dikatakan obesitas itu jika IMT-nya sama dengan atau di atas 30," kata Prof Zubairi, dikutip dari cuitannya, Rabu (10/3/2021).

IMT sendiri merupakan Indeks Massa Tubuh, yakni salah satu cara untuk mengetahui rentang berat badan ideal. Bahasa Inggrisnya dikenal sebagai BMI atau Body Mass Index.

"Tidak sedikit juga orang yang IMT-nya mencapai 40. Artinya, kondisi orang itu lebih serius lagi. Jangan diremehkan," kata dia.

Tidak sulit, Anda bisa menghitung IMT di pencarian Google. Caranya dengan mengetik kata kunci kalkulator BMI atau IMT. "Maka akan keluar nanti hitungannya. Mudah," sambung dia.

Kondisi berat badan berlebih atau obesitas ini menyebabkan banyak hal. Seperti kekebalan tubuh terganggu, sistem imun tidak ideal, hiperkoagulasi (sindrom kekentalan darah) dan peradangan kronik.

"Itu semua yang menyebabkan kondisi orang dengan obesitas lebih berat dan lebih mudah meninggal jika terinfeksi Covid-19," tegas dia.

Selain itu, biasanya pada obesitas memang akan lebih mudah terkena macam-macam penyakit. Misalnya saja jantung, paru, diabetes, sindrom metabolik, darah tinggi dan banyak lagi. Sehingga, mereka akan semakin gawat jika terinfeksi virus corona.

Lantas apa bukti bahwa orang obesitas  imunitasnya terganggu? Penelitian pada tikus membuktikan bahwa tikus yang obesitaa didapati kehilangan fungsi limfosit T dan kemampuannya melawan penyakit. Sehingga kondisinya jauh lebih buruk ketimbang tikus yang tidak obes.

Sementara, apabila bukti pada manusia bisa dilihat dari pelaksanaan vaksinasi influenza di Amerika. Hubungannya, orang dengan obesitas dan sudah divaksinasi itu didapati masih mungkin mendapati influenza dua kali lebih sering ketimbang yang non obesitas.

"Itu faktanya. Tapi, saya paham, terkadang orang dengan obesitas ini malu. Amat malu, bahkan," kata Prof Zubairi.

Mereka yang obesitas merasa mendapat stigma dari masyarakat sehingga jarang kontrol ke dokter. Pasalnya nasihatnya akan selalu sama: turunkan berat badan dan tentunya ini beban mental untuk mereka yang obesitas.

Pada beberapa kasus, pasien obesitas sudah berusaha menurunkan namun banyak yang tidak berhasil. Diakui Prof Zubairi, hal ini memang benar terjadi. Maka komunikasi dokter dengan orang yang amat gemuk itu harus diperbaiki.

"Harus bagus. Jangan sampai si obes merasa malu," harap diam

Apabila memang sungkan ke dokter, ada baiknya orang dengan obesitas ditemani sahabat atau anggota keluarga. Harapannya, komunikasi menjadi nyaman dengan dokter. Apabila sudah nyaman, program penurunan berat badan yang diberikan juga bisa terlaksana dengan baik. "Pasti bisa," kata dia.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani