Netral English Netral Mandarin
banner paskah
05:35wib
KontraS menyatakan selama 100 hari kepemimpinan Jenderal Listyo, kondisi penegakan hukum dan HAM yang dilakukan oleh kepolisian tak kunjung membaik. Pemerintah Nepal tengah kelabakan karena jumlah kasus infeksi virus corona di negara itu melonjak 57 kali lipat, akibat penyebaran virus jenis mutasi dari India.
Waspada Herpes Zoster, Dampaknya Setara dengan Gagal Jantung dan Diabetes

Minggu, 11-April-2021 15:30

Waspada Herpes Zoster, Dampaknya Setara dengan Gagal Jantung dan Diabetes
Foto : Helathyline
Waspada Herpes Zoster, Dampaknya Setara dengan Gagal Jantung dan Diabetes
8

 

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Apakah Anda pernah mendengar Herpes Zoster (HZ)? Penyakit yang satu ini dapat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya secara fisik, psikologis serta kehidupan sosialnya. 

Pakar dr Anthony Handoko, SpKK, FINSDV mengatakan, dampak HZ pada kualitas hidup seseorang hampir setara kesulitannya dengan dampak yang ditimbulkan penyakit gagal jantung, diabetes, serangan jantung dan depresi. 

"Salah satu dampak penyakit ini yang sangat mengganggu yaitu rasa nyeri berkepanjangan yang dikenal sebagai Neuralgia Pasca Herpes (NPH). Namun demikian, jika diobati secara cepat dan tepat, harapan kesembuhan HZ akan meningkat," jelas dia baru-baru ini dalam konferensi pers virtual di Jakarta.

Lebih lanjut HZ juga dikenal sebagai shingles, cacar ular, atau cacar api, yaitu suatu sindrom khas yang disebabkan oleh reaktivasi virus varicella zoster (VZV). Virus ini merupakan virus yang sama yang menyebabkan cacar air. Reaktivasi ini terjadi ketika kekebalan terhadap VZV menurun karena penuaan atau imunosupresi. 

"Saat virus HZ masuk kedalam tubuh manusia, virus tersebut berdiam di sistem syaraf dan menetap di dalamnya, dan akhirnya aktif pada waktu yang tak terduga-duga," tukas dia.

Dia jelaskan, HZ terutama terjadi pada kelompok usia 45-64 tahun. Namun, saat ini tren kasus HZ cenderung terjadi pada usia yang lebih muda dan lebih sering terjadi pada wanita. 

"Kira-kira 30% populasi pernah mengalami HZ semasa hidupnya. Sedangkan insiden kasus NPH sekitar 10-40?ri kasus HZ. Semakin tinggi usia saat terkena HZ, semakin besar terjadinya komplikasi NPH," kata dia.

Penularan virus HZ ini bisa terjadi melalui pertukaran napas dan kontak dengan lesi/gejala di kulit. Penularan HZ terjadi ketika ada kontak langsung dengan cairan pada lepuhan ruam yang dialami penderita. Mereka yang belum pernah menderita cacar air atau tidak pernah menerima vaksin cacar air memiliki risiko tinggi tertular. 

Jika terinfeksi, mereka akan terkena cacar air, bukan herpes zoster. Lalu kemudian virus itu bisa berkembang sewaktu-waktu menjadi Herpes Zoster. Masa inkubasi setelah pertama kali kontak hingga timbulnya lesi di kulit sekitar 10-21 hari.

Pada dasarnya, yang pernah menderita cacar air punya risiko besar untuk Herpes Zoster. Namun, risiko besar ada pada orang yang memiliki daya tahan tubuh yang lemah (imunokompromais), seperti lansia, penderita HIV/AIDS, pasien transplantasi organ, penderita kanker, stress psikis, pasien pasca operasi, dan pasien yang minum obat-obat yang dapat menekan sel imun tubuh. 

“Maka, fokus pencegahan terhadap HZ yaitu meningkatkan imunitas tubuh secara umum, serta menghindari kontak terhadap virus dari penderita HZ," kata dia.

Gejala awal penyakit ini bersifat tidak spesifik, sebelum muncul tanda nyata pada kulit (ruam merah dan lenting berisi air) biasanya hanya berupa rasa lelah, sakit kepala dan lemas (disebut gejala pro dormal) yang berlangsung selama 1-5 hari. 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani