Netral English Netral Mandarin
banner paskah
12:51wib
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem mulai Rabu (14/4) hingga Kamis (15/4). Cuaca ekstrem ini diakibatkan Siklon Tropis Surigae. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebut semua komponen utama yang digunakan dalam pengembangan Vaksin Nusantara diimpor dari Amerika Serikat.
VIVA Jajaki Refinancing, Intermedia Capital Optimistis Kinerja akan Membaik

Rabu, 30-December-2020 19:45

Paparan publik tahunan PT Visi Media Asia Tbk dan PT Intermedia Capital Tbk
Foto : Istimewa
Paparan publik tahunan PT Visi Media Asia Tbk dan PT Intermedia Capital Tbk
13

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) sedang menjajaki rencana restrukturisasi fasilitas utang yang ada saat ini melalui pembiayaan kembali (refinancing ) dalam mata uang rupiah. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menurunkan paparan risiko nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.

Manajemen VIVA, dalam acara paparan publik melaporkan rencana restrukturisasi utang kepada pemegang saham dan investor publik di Jakarta, Rabu (30/12). Perseroan juga berencana untuk mendapatkan tambahan fasilitas kredit modal kerja. 

"Fasilitas utang dari bank lokal memiliki tenor pinjaman yang lebih panjang, serta bunga yang lebih kompetitif," kata manajemen VIVA dalam keterangan tertulis terkait paparan publik ini.

Sebagai informasi, VIVA memiliki dua stasiun televisi free-to-air, yakni tvOne (PT Lativi Mediakarya) dan ANTV (PT Cakrawala Andalas Televisi) yang sebesar 99 persen sahamnya dimiliki oleh MDIA. VIVA juga mengelola portal berita viva.co.id melalui PT Viva Media Baru.

Menurut manajemen perseroan, hingga sekarang TV free to air di Indonesia tetap menjadi platform utama untuk beriklan. Hal ini tercermin dari nilai belanja iklan bersih secara nasional per akhir 2019 tercatat mencapai USD1,32 miliar dan diproyeksikan pada 2024 masih akan mampu bertahan sebesar USD1,29 miliar di tengah peningkatan belanja iklan melalui media internet.

Selain itu, stasiun TV FTA VIVA terbukti sukses dalam membidik pangsa pemirsa yang berbeda, tercermin dari segmen pasar tvOne yang didominasi pemirsa pria dengan rentang usia 35-55 tahun ke atas. 

Sedangkan, ANTV lebih dominan disaksikan oleh kalangan wanita yang memiliki rentang usia 45-55 tahun ke atas.

Manajemen VIVA optimistis bahwa recovery pertumbuhan ekonomi pasca penemuan vaksin Covid-19 akan berlanjut hingga tahun mendatang, sehingga belanja iklan bisa kembali bertumbuh. 

Laporan terakhir dari Media Partners Asia (MPA) juga memprediksi bahwa pertumbuhan belanja iklan di 2021 pada TV FTA platform akan meningkat 7,5 persen (y-o-y) menjadi USD1,2 miliar diikuti dengan pertumbuhan belanja iklan di sektor digital sebesar 31,1 persen (y-o-y) menjadi USD700 juta.

Secara umum, performa TV Share VIVA Group mengalami penurunan yang diakibatkan oleh kondisi new normal di masa pandemi Covid-19. Kendati tidak ada penayangan One Pride maupun One Prix, namun VIVA mengaku bahwa tvOne tetap menjadi TV berita #1.

Digelar secara bersamaan, dalam paparan publik tahunan PT Intermedia Capital atau MDIA, Direktur Utama perseroan yaitu, Arief Yahya yang terlibat secara virtual dalam paparan publik itu mengakui bahwa dampak pandemi Covid-19 telah menekan bisnis perseroan, tercermin dari penurunan performa TV share ANTV. 

"Di awal pandemi Covid-19, sekitar Maret 2020, tv share kami sempat menurun sampai di bawah 8 persen," kata Arief yang merupakan mantan Menteri Pariwisata dan pernah menjabat Dirut di PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.

Meski demikian, ia optimistis penurunan tersebut tidak berlangsung lama dan kondisi ANTV mampu kembali pulih. 

"Tv share kami naik lagi di atas 9,5 persen," ujar Arief seraya menyebutkan bahwa ada hal menarik terkait market share atau revenue share ANTV yang justru berada di atas 10 persen. 

"Ini yang membuat power ratio kami sangat bagus, sekitar 120 persen," imbuh Arief.

 

Reporter : Irawan HP
Editor : Irawan HP