Netral English Netral Mandarin
banner paskah
11:15wib
Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Inspektur Jenderal Istiono bakal memberi sanksi dua kali lipat kepada personelnya yang kedapatan meloloskan pemudik pada 6-17 Mei 2021 mendatang. Presiden Joko Widodo meminta semua anggota Kabinet Indonesia Maju dan pimpinan lembaga tinggi negara untuk tidak mengadakan acara buka puasa bersama di tengah pandemi virus corona (Covid-19).
Video Malam Pertama Atta-Aurel Bikin Bodoh yang Terlalu ke Kaum Muda? Netizen: Tanda-Tanda Kejatuhan...

Kamis, 08-April-2021 18:47

Ilustrasi video malam pertama Atta-Aurel
Foto : Suara.com
Ilustrasi video malam pertama Atta-Aurel
5

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Video malam pertama Atta-Aurel yang diunggah dalam akun Channel Youtube Atta Halilintar dikecam banyak pihak, salah satunya oleh kalangan guru. Video tersebut dianggap “membodohi kawula muda.”

Di akun FB Mak Lambe Turah, banyak netizen ikut berkomentar pro dan kontra. 

MLT: “Siap2 akunnya bakal kena serbuan folowernya.”

Kumari Tery: “Tanda tanda kejatuhan manusia yang sudah terlalu ‘tinggi’ ..”

Vhendy Yanira: “Upload aja ke xnxxxx gk usah ke yutub.”

Maia Paramitha: “Pdhl Videonya ga da yg aneh2 loh mak, biasa ja. Cuma gra2 Thumbnailnya da tulisan 'Malam Pertama' jdinya org Mikir yg Aneh2. Click Bait bgt."

Erni MarianaRenata: “Kebabalasan dan anehnya banyak orang yg menjadi viewersnya.. ada apa ini dengan orang2 Indonesia.”

Wahyudin Roseman: “Goblok bisa nyerang orang kaya juga ya?”

Indi Sari: “Tapi bener sih isinya para yutuber rata2 pamer.”

Miratiani: “Viewers nya dia kebanyakan anak-anak sekolahan. Harusnya mikir-mikir dulu lah kalau bikin judul.”

Sebelumnya diberitakan, Atta Halilintar belum selesai menjadi perbincangan publik usai pemberitaan terkait pernikahannya dengan Aurel Hermansyah.

Baru baru ini, video malam pertama Atta dengan Aurel yang dia unggah di akun YouTube miliknya disoroti sejumlah netizen, khususnya para guru.

Masalahnya, Atta Halilintar punya 27 juta subscribers yang rata-rara remaja. Hingga saat ini, video malam pertama itu sudah ditonton lebih 5 juta orang.

Fritz Haryadi , Ketua PW PERGUNU (Persatuan Guru Nahdlatul Ulama) Papua, menyoroti video Atta tersebut lewat akun media sosialnya.

Menurut dia, video malam pertama Atta tersebut memang tidak mengandung konten porno. Tapi tetap saja itu menambah asupan kebodohan untuk para generasi muda kita.

“Kebodohan yang sudah terlalu lama dicekokkan kepada generasi muda kita,” tulis Fritz.

Dalam tulisannya, Fritz menyebut bahwa Atta dan banyak youtuber dengan tipe konten serupa, berada di kotak yang sama dengan sinetron, infotainment gosip, hingga gerakan agama yang puritan radikal.

“Mereka semua Bad Influencers, pembawa pengaruh buruk,” tulisnya lagi.

Fritz menyampaikan pembicaraan pembicaraan istrinya yang seorang guru dengan anak didiknya.

Rata rata mereka menjadi subscribers Atta Halilintar dan sering memperbincangkan konten konten di YouTube Atta, seperti prank, pamer mobil mahal, pamer keseharian yang bergelimang kemewahan, dan ucapan “asiyaaap”.

Menurut dia, seharusnya para guru dan orang tua sudah mengambil sikap. Yakni, membangun kesadaran siswa untuk mulai berhenti mengikuti Atta, bahkan memberi jempol terbalik atau dislike di postingannya.

Dinukil Terkini.id, berikut selengkapnya tulisan Fritz Haryadi:

Dengan subscribers rata-rata remaja usia sekolah, Atta Halilintar menayangkan video malam pertama. Lima juta penonton dalam tempo 24 jam. Tentu tidak ada konten po*no, platform melarangnya; tapi ini menambah dosis baru dalam asupan kebodohan yang sudah terlalu lama dicekokkan kepada generasi muda kita.

Atta, dan banyak youtuber dengan tipe konten serupa, berada di kotak yang sama dengan sinetron, infotainment gosip, hingga gerakan agama yang puritan radikal : mereka semua Bad Influencers, pembawa pengaruh buruk.

Istri saya yang mengajar di SMP, sudah 2 tahun ini mengajak ngobrol anak-anak didiknya yang menjadi subscriber Atta. Rata-rata mereka mengaku hanya ikut-ikutan tren, seperti bisa diduga. Yang disukai anak-anak ini dari channel Atta diantaranya konten prank, pamer mobil mahal, pamer keseharian yang bergelimang kemewahan, dan ucapan “asiyaaap” yang menjadi trademarknya. Pendeknya, Atta adalah perpanjangan dari sinetron. Ia menghadirkan bukti bahwa kebodohan fiktif bisa menjadi nyata. Dan untuk jasa itu anak-anak kita menimbunnya dengan uang.

Dalam sesi obrolan dengan anak-anak didik, istri saya mendapati bahwa mereka tidak mengerti bagaimana alurnya sehingga subscribe dan jempol mereka bisa menjadi uang buat Atta. Saat dijelaskan, merekapun mulai berpikir, mulai bisa menangkap ketidakadilan di hadapannya.

Orang tuanya banting tulang untuk membelikan pulsa mereka, lalu mereka habiskan untuk menonton channel Atta; sambil tidak mendapat manfaat apa-apa selain mengikuti tren, hanya untuk bisa nyambung dengan apa yang dibicarakan teman-temannya, hanya untuk menjadi pengikut. Sambil kehilangan waktu untuk belajar.

Tiap tipe konten Atta dibahas dalam obrolan itu. Tentang prank, istri saya menjelaskan bahwa itu bentuk bullying; hal yang sedang diperangi di lingkungan sekolah di seluruh dunia.

Tentang pamer kekayaan, digalinya aspirasi anak-anak didik; kalau teman pamer kekayaan, bagaimana perasaan mereka? Ternyata tidak senang. Lalu mengapa senang saat dipameri orang lain lewat layar internet?

Pamer kekayaan adalah konsep Vanity. Ini konsep yang sukar diterjemahkan dalam bahasa kita; sebab dalam budaya kita belum ada karsa untuk mengatai fenomena itu. Terjemahan yang biasa dipakai untuk vanity adalah “kefanaan”. Namun ini jauh dari akurat. Yang paling dekat adalah “pamer kekayaan”, tapi inipun baru sebagian.

Kata dasar dari Vanity adalah “vain”, artinya kosong, hampa, sia-sia. Maka vanity adalah sikap kesia-siaan, kekosongan, sikap mementingkan kulit tanpa peduli isi. Pencitraan adalah tindakannya, vanity adalah sifatnya.

Ironis, ini karakter paling mendasar dari bangsa kita, namun kita tidak punya nama untuknya.

Sesi obrolan itu diakhiri dengan langkah konkret, yang saya dukung lahir-batin. Ia minta anak-anaknya unsubscribe channel Atta. Kalau bisa jangan tonton lagi. Kalau masih terasa berat, tonton saja, tapi jangan subscribe. Habis nonton, jangan lupa dislike. Jempol turun.

Atta boleh kaya dari mana saja, tapi jangan dari anak-anak kita.

Istri saya, seorang wali kelas dan guru Bahasa Inggris, mengajak anak didiknya menyelami nalar mereka sendiri, perasaan mereka sendiri; merangsang kepekaan sosial, lalu membimbing mereka mengambil tindakan nyata.

Ini solusi. Inilah pendidikan karakter. Guru-guru se-Indonesia perlu mengambil langkah remedial yang dicontohkan di atas.

Ini langkah awal. Masih panjang daftar influencer di platform vlog yang setipe dengan Atta, yang harus menjadi target selanjutnya. Mereka adalah antitesis Pendidikan Karakter. Penghambat, penggagal, hama; bagi Pendidikan Karakter.

Hukum tidak bisa melarang orang menjual kebodohan. Caveat emptor : Salah beli, salah sendiri.

Satu-satunya yang mampu memberantas hama ini, hanya sekolah.

*) Fritz Haryadi , Ketua PW PERGUNU (Persatuan Guru Nahdlatul Ulama) Papua 

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto