Netral English Netral Mandarin
04:00wib
Komut PT Pertamina Basuki Tjahaja Purnama mengungkap selain menghapus fasilitas kartu kredit bagi direksi, komisaris, dan manajer, juga menghapus fasilitas uang representatif. Terdakwa kasus tes usap palsu RS Ummi Bogor, Rizieq Shihab, akan membacakan duplik pagi ini di Pengadilan Negeri Jakarta Timur.
Ngeri, Usai Kilat dan Bunyi ‘Cebur’ 3 Kali, Hantu Berdatangan Menggoda Jono

Sabtu, 20-Februari-2021 12:10

Ngeri, Usai Kilat dan Bunyi ‘Cebur’ Tiga Kali, Hantu Berdatangan Menggoda Jono
Foto : Istimewa
Ngeri, Usai Kilat dan Bunyi ‘Cebur’ Tiga Kali, Hantu Berdatangan Menggoda Jono
40

 

PURWOREJO, NETRALNEWS.COM – Pembangunan di pelosok desa-desa Jawa Tengah terus merangkak menyusup setiap sudut. Tak Terkecuali di pelosok Purworejo, Jawa Tengah. 

Program Dana Desa dari Pemerintah Jokowi terbukti dirasakan warga kampung di daerah ini. Jalan-jalan yang dahulu batu kerakal besar kini disulap berlapis beton. 

“Dulu pantat rasanya sakit kalau naik sepeda. Belum lagi jalanan yang terjal. Batu-batu besar saling menjulang seperti lomba menonjolkan diri. Alhasil, naik sepeda pun kadang harus dituntun,” kata Prajono (62) kepada Netralnews, Rabu (17/2/21). 

Ayah tiga anak dengan profesi sebagai petani ini tak pernah meninggalkan kampung halamannya. Baginya, tanah Purworejo adalah segalannya dalam memenuhi kebutuhan hidup. 

“Pernah di tahun 1980-an, belum ada listrik, jalan kaki dari kampung menuju Jrakah, Bringin, selalu dijumpai penampakan-penampakan misterius,” sambungnya. 

“Ada-ada saja. Saya sih yakin itu  pocong, wewe, kuntilanak. Ada yang bergelantungan ada juga yang bertengger di pohon. Dulu pohonnya besar-besar. Gelap sekali. Saya hanya pakai oncor kalau jalan malam,” sambung Jono.

Oncor adalah bambu yang dipotong dengan satu ruas tetap dibiarkan utuh. Bambu lalu diisi minyak tanah dan di satu sisi lubang disumbat dengan kain.

Saat dimiringkan, kain akan basa dengan minyak tanah, lalu kain itu dibakar. Dengan oncor inilah warga kampung menerabas setiap sudut desa yang di manapun serba gelap gulita. 

“Kalau  ndak punya minyak tanah, biasanya pakai daun kelapa kering diikat-ikat. Banyak bawannya dipanggul. Setiap ikatan dibakar, kalau habis ambil lagi dari ikatan yang digendong di punggung,” tutur Jono. 

Penerangan dengan daun kelapa biasa disebut “blarak”.  Fungsinya sama seperti oncor atau senter untuk zaman sekarang. 

“Orang mencari ikan, mencari belut di sawah, kala itu juga pakai oncor atau blarak. Tapi biarpun begitu, banyak yang didapat sebab dulu masih banyak ikan dan belut,” kata Jono, petani sederhana yang hanya mengenyam bangku SD itu.

Di tahun 1970-an, setiap seminggu sekali Jono memikul hasil panenan seperti jeruk, kacang tanah, jagung, untuk dijual di kota Purworejo. 

“Berangkat dinihari pukul 02.00 WIB. Orang lain seperti saya juga begitu. Juga dengan penerangan oncor atau blarak selama jalan. Melewati bulak sawah, jalanan gelap dengan rimbunan pohon menyeramkan,” kata Jono yang mengaku sering juga mengalami takut dengan hantu. 

“Yang paling ngeri, kalau sudah ada petir, bunyi guntur, kilat menyambar-nyambar. Lalu gerimis turun. Sudah. Ngeri sekali pokoknya,” tuturnya. Jono sering melihat penampakan aneka jenis hantu. Ia sering merinding takut kalau sudah turun hujan dan banyak petir.

“Tak hanya khawatir barang yang mau saya jual rusak karena hujan. Tapi yang terlebih adalah banyaknya penampakan. Juga suara-suara aneh, cekikikan bersahutan dengan bunyi burung hantu, bahkan kadang ada seperti rintihan minta tolong,” katanya.

Menurut Jono, salah satu lokasi yang paling ia takuti adalah jembatan Jrakah, Kabupaten Purworejo.

“Jembatan itu dibangun zaman Belanda. Angker sekali. Konon, saat dibangun, pakai tumbal orang ditanam hidup-hidup di pondasi sungai. Makanya angker sampai sekarang,” kenang Jono. 

“Lagipula,” imbuhnya, “sudah banyak sekali orang hanyut dan ditemukan mati di bendungan di bawah jembatan itu. Kalau banjir mengerikan dan sering warga mati terbawa banjir. Mungkin arwahnya belum tenang, jadi menghuni jembatan itu,” kata Jono. 

“Pernah suatu kali, saat saya mancing di bawah bendungan itu, tiba-tiba turun hujan rintik-rintik lalu kilat menyambar-nyambar. Disusul suara ‘cebur, cebur, cebur’ tiga kali. Munculah aneka rupa penampakan mulai dari kuntilanak hingga genderuwo. Sosok hitam besar. Saya takut bukan main. Habis, mereka seperti menggoda, mengganggu saat melihat saya memancing, lalu berbaris menuju arah Selatan,” kata Jono.

“Saat itu saya mau lari tapi tak bisa. Kaki saya seperti terjerat. Padahal hujan makin deras. Akhirnya saya pasrah. Orang kalau mati bisa di mana saja. Kalau memang Tuhan mau cabut nyawa saya, ya silakan. Gitu pikiran saya. Tapi setelah pasrah, malah hantu-hantu itu seolah tak pedulikan saya lagi. Mereka bergerak ke Selatan menyusuri pinggiran di seberang sungai,” lanjut Jono.

Baginya, kenangan-kenangan masa lalunya adalah harta berharga untuk cerita bagi anak cucunya. 

Kini Jono mengaku sudah sangat bersyukur. Di usia tuanya, ia masih bisa menikmati perubahan zaman. Kemana-mana jalanan bagus dan mudah dilalui. 

“Enak sekarang, semua jalan diaspal dan dibeton. Bahkan, pelosok sampai area makam juga dibeton,” kata Jono.

“Namun, aneh juga ya. Sejak banyak pembangunan dan listrik atau penerangan di mana-mana, sosok-sosok hantu seperti terusir. Seolah mereka tergusur oleh pembangunan,” kata Jono yang hingga kini masih setiap hari pergi ke sawah.

Meski usianya sudah 63 tahun, namun badannya masih terlihat berotot dan kuat mencangkul sawah ladangnya.  Ia sangat menikmati masa-masa hidup di hari tuanya. 

Pulang dari sawah ia biasanya bercengkerama dengan lima cucunya. Mereka tinggal tak jauh dari rumahnya sendiri. Masing-masing anaknya dibuatkan rumah meski sederhana. 

Kesederhanaan dan kepolosannya ternyata memberikan kebahagiaan.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto