Netral English Netral Mandarin
04:09wib
Hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen masyarakat setuju sekolah dan rumah ibadah dibuka kembali meski masih di tengah kondisi pandemi corona. Data pengguna Facebook yang mencapai 533 juta, baru-baru ini dikabarkan telah dicuri hacker. Facebook menyatakan, tak akan memberi tahu data siapa saja yang telah dicuri.
Ulil Ungkap Bahkan dalam Kajian Islam, Umat Islam Tak Bisa Berdaulat, Harus 'Diajari' Para Sarjana Bule tentang...

Minggu, 28-Februari-2021 08:10

Kolase Ulil Abshar Abdalla
Foto : Istimewa
Kolase Ulil Abshar Abdalla
14

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Berturut-turut, Ulil Abshar Abdalla mengungkap kajian-kajian orang Barat (bule) tentang Islam. Ia juga menyampaikan kegalauan hatinya. 

"Baru2 ini, saya membaca artikel David Shivanoff, seorang sarjana ahli ushul fiqh (Islamic hermeneutic) ttg kitab kecil yg banyak diajarkan di pesantren: Matn al-Waraqat, karya guru Imam Ghazali, yaitu Imam al-Haramain. Kitab tipis ini adalah ttg ushul fiqh," kata Ulil melalui akun pribadinya seperti dikutip Netralnews, Sabtu malam (27/2/21).

"Pada titik tertentu, saya merasa: bahkan untuk memahami diri sendiri, kadang kita, orang Muslim, butuh tulisan sarjana2 Barat ttg dunia Islam. Saya langsung ingat esai lama Gayatri Spivak yg membuat "terbelalak" banyak orang: "Can the Subaltern Speak?" APAKAH KESARJANAAN BARAT TTG ISLAM PATUT DISAMBUT DG GEMBIRA?" lanjut Ulil. 

"Hampir setiap bulan terbit buku baru ttg tema Islam oleh sarjana Barat, dG kualitas yg umumnya keren dan kerap 'thought provoking'. Ttp saya tak bisa menyembunyikan perasaan ambigu dan 'galau' menghadapi hal ini," sambungnya.

"Tentu saja, saya menikmati artikel Shivanoff itu (ia lulusan Emory University, Atlanta, tempat mengajar Abdullagi Ahmed An-Naim). Tetapi saya jg bertanya2: kenapa sarjana Muslim tidak menulis artikel keren seperti ini ttg kitab Waraqat? Apalah sarjana Barat lebih paham Waraqat?" ungkap Ulil.

Ulil pun akhirnya merasakan bahwa ternyata umat muslim pun tampaknya harus "diajari" sarjana bule untuk bisa membaca masa lalu mereka.

"Saya tak bisa mengelak dari perasaan ini: Bahkan dlm kajian Islam pun, umat Islam tak bisa "berdaulat". Mereka tampaknya harus "diajari" dulu oleh para sarjana bule ttg bagaimana membaca masa lalu mereka sendiri," kata Ulil.

Sampai di sini, Ulil langsung merasa sedih.  

"Saya, jika sudah sampai di sini, langsung sedih dan mellow. (emoticon menangis)," kata Ulil.

Di akhir cuitannya, Ulil mengulas Buku Thomas Bauer, Kultur der Ambiguität (2011).

"Buku Thomas Bauer, Kultur der Ambiguität (2011) ini sudah lama jadi bahan pembicaraan. Bulan Juni besok terbit edisi terjemahannya. Tema pokoknya: pemikiran Islam di abad2 pertama dulu lebih bisa menerima ambiguitas. Makin modern, makin terobsesi pada kepastian dan kejelasan," kata Ulil.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto