Netral English Netral Mandarin
banner paskah
01:03wib
Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya akan menggunakan 17 titik periksa yang sebelumnya disiapkan untuk pengamanan mudik sebagai pos pemeriksaan Surat Izin Keluar-Masuk. Dua hari ke depan diperkirakan akan terjadi lonjakan masyarakat yang nekat mudik Idulfitri 2021.
Tukang Pijat Pembunuh Anggota Kopassus Divonis Mati, Kisah Jagal Kartasura Berakhir

Kamis, 15-April-2021 14:06

Yulianto pembunuh berantai dengan tujuh korban jiwa menjalani proses sidang.
Foto : Istimewa
Yulianto pembunuh berantai dengan tujuh korban jiwa menjalani proses sidang.
15

SUKOHARJO, NETRALNEWS.COM - Majelis Mahkamah Agung (MA) memutuskan menolak peninjauan kembali hukuman mati terhadap Yulianto pembunuh berantai dengan tujuh korban jiwa.

MA menguatkan putusan Pengadilan Negeri (PN) Sukoharjo yang memvonis mati warga RT 02/RW 15, Kragilan, Pucangan, Kartasura, Sukoharjo itu.

Mahkamah Agung (MA) memvonis mati Yulianto seorang tukang pijat yang dikenal sebagai "Jagal Kartasura".

Upaya hukum terakhir dilayangkan ke MA, yaitu peninjauan kembali (PK).

Baca Juga :

“Menolak permohonan peninjauan kembali dari Pemohon Peninjauan Kembali/Terpidana Yulianto bin Wir Sentono tersebut,” kata ketua majelis Sri Murwahyuni yang tertuang dalam salinan putusan sebagaimana dilansir website MA, Rabu (14/4/2021).

Duduk sebagai ketua majelis Sri Murwahyuni dengan anggota Eddy Army dan Gazalba Saleh.

Majelis menyatakan PK Yulianto ditolak dengan alasan Yulianto terbukti telah membunuh korban Sugiyono di rumahnya yang kemudian jasadnya dimakamkan di dekat kandang sapi.

Salah satu korban Yulianto adalah anggota Grup 2 Kopassus Kandangmenjangan, Kartasura, Sukoharjo, Kopda Santoso.

Dilansir dari Solopos, kasus ini bermula saat Yulianto dipinjami uang Rp40 juta oleh salah seorang rekannya, Sugiyono, pada 2005. Saat ditagih, Yulianto tidak mau membayar utang.

Yulianto yang tersinggung lantas menghabisi nyawa Sugiyono yang sedang dipijitnya. Pelaku memberikan ramuan kecubung kepada Sugiyono. Setelah itu, mayat Sugiyono dikubur di samping kandang rumahnya.

Dua tahun kemudian, Yulianto menghabisi nyawa Suhardi saat Suhardi sedang bersemedi di Gua Cermai, Bantul. Mayat Suhardi dibiarkan di sebuah genangan air dan ditindih dengan batu besar.

Pembunuhan terus diulang hingga pembunuhan ketujuh, yaitu Kopda Santoso. Kala itu, Kopda Santoso datang ke Yulianto mau pijat badan. Saat pijat itu, Yulianto dan Santoso terlibat percakapan yang membuat Yulianto tersinggung.

Yulianto kemudian membuat ramuan jamu dan menyerahkan ke Kopda Santoso untuk diminum. Ternyata minuman itu sudah dicampur kecubung sehingga Kopda Santoso pusing dan sempoyongan. Yulianto mencekik Kopda Santoso hingga meninggal. Jenazah Kopda Santoso kemudian dikubur di dapur rumahnya.

Kematian Kopda Santoso membongkar kedok Yulianto. Akhirnya, aparat mengungkap si pembunuh berdarah dingin, Yulianto.

Pria kelahiran 28 Juli 1973 itu akhirnya diproses secara hukum dan diadili di Pengadilan Negeri (PN) Sukoharjo.

Pada 20 April 2011, PN Sukoharjo menjatuhkan hukuman mati kepada Yulianto.

Selama sidang pembacaan vonis yang dipimpin Dwi Yanto, Yulianto terlihat tegang dan sesekali mengusap air mata. Ruang sidang dipadati keluarga korban dan terdakwa atau pun teman-teman korban.

Hukuman mati itu dikuatkan Pengadilan Tinggi (PT) Semarang pada 5 Juli 2011. Kasasi yang diajukan Yulianto juga tidak membuahkan hasil. Ketua majelis hakim,  Velerina JL Kriekhoff, dengan anggota Rehngena Purba dan Zaharudin Utama menolak permohonan kasasi itu.

Reporter : Nazaruli
Editor : Nazaruli