Netral English Netral Mandarin
banner paskah
20:42wib
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem mulai Rabu (14/4) hingga Kamis (15/4). Cuaca ekstrem ini diakibatkan Siklon Tropis Surigae. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebut semua komponen utama yang digunakan dalam pengembangan Vaksin Nusantara diimpor dari Amerika Serikat.
Tips Jadi Ayah yang Baik, Bukan Fatherless

Rabu, 31-Maret-2021 15:30

Ayah dan anak sedang bercengkrama di saat senja.
Foto : spinditty.com
Ayah dan anak sedang bercengkrama di saat senja.
9

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti mengatakan, fenomena fatherless di Indonesia disebabkan karena tingginya peran ayah yang hilang dalam proses pengasuhan anak.

Saat ini, Indonesia merupakan negara ketiga tertinggi di dunia dalam hal perilaku fatherless. 

Menurut Retno, Rabu (31/3/2021) krisis peran pengasuhan ayah seringkali disebabkan oleh peran gender tradisional yang masih diyakini oleh masyarakat Indonesia.

Sementara itu, fatherless diartikan sebagai anak yang bertumbuh kembang tanpa kehadiran ayah, atau anak yang mempunyai ayah tapi ayahnya tidak berperan maksimal dalam proses tumbuh kembang anak dengan kata lain pengasuhan.

Fenomena fatherless di Indonesia yang terlihat misalnya sebuah keluarga miskin yang tidak memiliki figur ayah karena ibunya merupakan istri muda, keluarga kaya yang kehilangan figur ayah karena alasan sibuk bekerja dan sering bepergian keluar kota, atau tanpa sadar tidak menjadikan keluarga sebagai prioritas.

Nah, anak yang mengalami fatherless rata-rata merasa kurang percaya diri, cenderung menarik diri di kehidupan sosial, rentan terlibat penyalahgunaan NAPZA, rentan melakukan tindak kriminal dan kekerasan, kondisi kesehatan mental yang bermasalah, munculnya depresi hingga pencapaian nilai akademis yang rendah.

Adanya kekosongan peran ayah dalam pengasuhan anak, terutama dalam periode emas, yakni usia 7-14 tahun dan 8-15 tahun sangat berpengaruh dalam urusan prestasi sekolah.

Dampak fatherless bagi anak-anak yang bersekolah antara lain sulit konsentrasi, motivasi belajar yang rendah, dan rentan terkena drop out.

Meskipun anak memiliki ayah, namun mereka tidak mendapatkan pendampingan dan pengajaran dari sosok ayah maka tetap berdampak buruk bagi perkembangan masa depannya.

Penyedia platform edukasi GREDU memandang pentingnya memperkuat peran seorang ayah untuk mencintai anak dan keluarga, mendidik, dan sebagai model yang akan ditiru oleh anak.

Para ayah bisa menjadi idaman untuk anak dan istri dengan membuktikan rasa sayang atau cinta terhadap anak, seperti mengajak anak jalan-jalan, bersepeda, bahkan menemani permainan yang disukai oleh anak.

Semisal anak perempuan, maka ayah pun tetap bisa menemaninya bermain boneka begitupun sebaliknya untuk anak laki-laki yang suka bermain bola maka luangkanlah waktu untuk bermain bersama.

Menurut GREDU, untuk menjadi ayah yang baik, bukan berarti harus menjadi superdad.

Dari hal-hal yang simpel seperti meluangkan waktu, memberikan telinga untuk mendengarkan kisah dari anak-anak, memberikan kehangatan melalui ciuman, pelukan, atau bentuk kasih sayang lainnya, itulah yang diperlukan oleh anak.

Keterlibatan ayah dalam pendidikan anak merupakan kesempatan emas yang tidak akan terulang lagi.

Bersama ibu, ayah bisa mendedikasikan waktunya untuk tumbuh kembang anak. Orang tua juga perlu untuk memberikan dukungan satu lain dan memberikan waktu bagi anak-anak. Demikian seperti dilansir Antara. 

Reporter :
Editor : Irawan HP