Netral English Netral Mandarin
banner paskah
09:00wib
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem mulai Rabu (14/4) hingga Kamis (15/4). Cuaca ekstrem ini diakibatkan Siklon Tropis Surigae. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebut semua komponen utama yang digunakan dalam pengembangan Vaksin Nusantara diimpor dari Amerika Serikat.
Tetap Keren Traveling dengan Nge ‘Jeans’ 

Sabtu, 06-Maret-2021 14:40

Tetap Keren Traveling dengan Nge ‘Jeans’.
Foto : Good Jeans
Tetap Keren Traveling dengan Nge ‘Jeans’.
23

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Celana jeans digemari hingga sekarang. Apalagi banyak modifikasi fashionable yang bisa membuat perjalanan atau acara jalan-jalan lebih bergaya sesuai dengan situasi dan kondisi.

Keabadian jeans menjadi pasar tersendiri. Tidak mengherankan jika banyak negara memiliki sentra-sentra shopping jeans. Mestinya masih ingat, pada tahun 1980-an, Bandung punya Jalan Cihampelas yang sempat jadi kiblat shopping produk fesyen berbahan denim, mulai dari celana jeans, jaket, dan sejenisnya. Sayang, akhirnya Cihampelas tergilas zaman.

Jepang seperti ditulis Travel Story, sampai sekarang punya Kojima Jeans Street di Perfecture Okayama. Tempat itu jadi tujuan penggemar denim dari seluruh Jepang dan sudah pasti wisatawan.

Kawasan Kojima ditata menarik, menempati bangunan-bangunan tua yang sudah direstorasi dan berubah menjadi kafe dan toko-toko yang sebagian besar menawarkan berbagai merek jeans terkenal dari seluruh dunia.

Untuk lebih menarik wisatawan, banyak spot-spot cantik dihias dengan identitas terkait denim. Celana-celana jeans menggantung di jalanan, tangga-tangga stasiun digambar jeans, bus kota, dan masih banyak lagi.

Tertarik? hmmm… siapa tahu usai pandemi yang memberi dampak luar biasa ini bisa tercapai keinginan jalan-jalan ke Jepang. Kojima Jeans Street lokasinya hanya 5 menit dari Stasiun JR Kojima. Jika enggan berjalan kaki, ada banyak penyewaan sepeda yang bisa dimanfaatkan.Suka Jeans Suka jeans? Jelas banyak yang suka. Jeans memberi persepsi praktis, kuat, bisa dipakai berhari-hari, dan tetap gaya.

Jeans juga digemari karena ketika dibutuhkan untuk menghadiri acara semi formal, bisa dipadu-padankan dengan mudah. “Saat waktu sempit dan harus hang out dengan pakaian lebih rapi, saya hanya perlu mengikat scraf di leher. Praktis,” ujar Ananda yang gemar melakukan perjalanan solo dan mengaku tergila-gila dengan Labuan Bajo, Sumba dan Jepang.

Jeans fleksibel dikenakan dimana saja. (Dok:Stylish)

Jeans memang bisa menciptakan beberapa citra hanya dengan memadu-padankan atasan dan aksesoris. Pilihan alas kaki yang dikenakan juga akan memperkuat tampilan, baik itu kets, sepatu boots, wedges, hak tinggi, sampai sandal jepit.

“Jika bepergian, andalan saya sepatu kets dan sandal jepit. Saya senang jeans karena tidak sulit memadu-padankan dengan atasan dan alas kaki,” ujar Ananda.Usman Iskandar, fotografer yang hobi traveling juga mengandalkan celana jeans. Katanya, jeans itu bisa bikin dirinya tambah percaya diri. “Lagi pula praktis, bisa dipakai berhari-hari,” ujar Usman yang akrab dipanggil Paimo.

Tidak mengherankan jika lelaki humoris berpenampilan nyentrik ini, sehari-harinya baik saat bekerja mau pun traveling menjadikan jeans sebagai celana ‘kebangsaan’ Lydia Naboi Gemulai, pekerja kreatif yang tinggal di Jakarta juga mengaku sangat menyukai celana jeans, baik saat hangout mau pun traveling. “Jeans itu sesuai kepribadianku. Aku suka penampilan santai, kasual, dan apa adanya.”

Lebih dari itu, katanya, kalau diperlukan jeans bisa multifungsi. “Misalnya kalau kita ada date makan siang dan cuma pakai t-shirt polos, jeans & sneakers, tapi tiba-tiba ada janji malam hari yang menuntut penampilan agak rapi, kita hanya perlu memakai blazer atau scarf, dan bisa juga ditambah anting, terus sepatu sneakersnya kita ganti pump shoes. Praktis!” katanya, dikutip dari travelstory.id.

Diana Kusnati, ibu rumah tangga yang suka traveling juga mengaku sangat menyukai jeans. “Suka sekali! Dari sekian banyak koleksi baju, ujung-ujungnya pilihan pasti jatuh ke jeans,” ujarnya.

Celana pendek dan panjang berbahan denim itu menurut Diana paling nyaman, mudah mix & match dengan atasan apa pun mulai dari kaos, blouse sampai jaket. “Semua ok saja. Ringkas, kasual, agile atau bebas bergerak. Apalagi sekarang ini, kalau kemana-mana harus membawa dua balita. Jeans terasa makin pas. Bahkan bepergian saat hamil pun saya banyak memilih bahan denim,” katanya.

Diana merasa hampir setiap orang di dunia suka memakai jeans, terlebih saat ini pilihan warna, model, dan material bahannya lebih bervariasi.

Bagi Diana, celana berbahan denim itu jadi pilihan nomor satu yang wajib dibawa dan dipakai saat traveling. “Kotor-kotor sedikit tidak jadi masalah. tetap bisa dipakai berkali-kali, tidak peduli merek apa pun. Selain itu, jeans bisa masuk kelompok sosial mana pun dan dipakai dalam kondisi apa pun.”

Meski demikian, jeans juga memiliki kekurangan. Karena bahannya tebal, jadi berat dan butuh ruang ekstra di dalam koper atau tas. “Itu sebabnya, saat traveling tidak bisa bawa terlalu banyak, paling satu sampai dua potong saja. Kekurangan lainnya karena berat dan bahannya tebal, kalau dicuci jadi lama kering.”

Perempuan yang menggemari pekerjaan kreatif ini kemudian memberi tips. Dia menyarankan agar mencari variasi warna/model/efek jeans yang berbeda-beda.

“Tapi, apapun model jeans yang dipilih, kenyamanan harus jadi pertimbangan utama. Jika kenyamanan harus dibayar dengan harga mahal, pasti setimpal karena usia jeans itu jangka panjang. O iya, kalau memilih jeans warna hitam, sebaiknya jangan disetrika, karena bisa merusak kepekatan warna. Jika pun harus disetrika, gunakan panas rendah,” tuturnya.

Celana jeans biasa untuk aktivitas di outdoor. (Dok: Stylish)

Aktivitas Outdoor Celana jeans dan aktivitas outdoor rasanya memang cocok. Namun, ternyata tidak semua aktivitas luar ruang cocok mengenakan celana denim, utamanya untuk kegiatan petualangan seperti mendaki gunung, panjat tebing, hingga arung jeram.

Yudi Kurniawan, owner brand peralatan outdoor Avtech dan penggiat alam bebas, mengatakan dirinya termasuk penggemar celana jeans. Namun, katanya, celana jeans tidak cocok digunakan untuk aktivitas petualangan seperti mendaki gunung dan climbing.

“Celana jeans bisa digunakan, tapi tidak ideal untuk kegiatan seperti itu. Bahannya berat, tidak bisa menahan dingin, kalau basah semakin berat, lama kering dan kurang lentur,” jelas Yudi.

Namun, untuk traveling biasa celana jeans bisa digunakan. “Dalam keseharian atau aktivitas perjalanan biasa saya juga senang menggunakan celana jeans,” tutur Yudi.

Elvis Presley kerap mengenakan celana jeans di setiap performnya. (Dok:Elvis.id)

Sejarah Jeans Elvis Presley disebut-sebut sebagai pesohor pertama yang memopulerkan jeans, kemudian diikuti James Dean, dan Marlon Brando. Mereka mengubah image jeans menjadi ikon tipe ‘bad boy’.

Berbagai sumber menyebutkan, perjalanan kain denim dimulai pada abad 18 di Prancis, dan dikenal dengan nama de dimes. Pada saat itu, Italia mencoba meniru pembuatan kain tersebut dan gagal.

Namun, dalam prosesnya seperti ditulis Boris Hodakel di Sewport, justru tercipta kain yang kuat dan tahan lama, dan kemudian dikenal dengan nama jean atau jeane yang menjadi cetak biru merek jeans legendaris, Levis.

Kisah celana jeans dimulai pada 1853, saat Levi Strauss memulai cabang bisnis keluarganya di San Fransisco. Dia menjual kain denim, dan salah satu pelanggannya adalah penjahit bernama Jacob W Davis.

Awalnya, Davis menggunakan bahan denim untuk membuat berbagai kebutuhan seperti penutup gerobak sampai selimut. Suatu hari, dia diminta membuat celana panjang yang dirancang khusus untuk pekerja.

Davis kemudian membuat celana panjang dari bahan denim dengan menambahkan paku untuk memperkuat area-area yang rentan. Davis membuat celana jeans pertama dan kemudian bermitra dengan Levis yang memasok bahan denim.Kedua pria itu kemudian mendirikan perusahaan jeans legendaris Levi Strauss yang sampai sekarang masih berproduksi dan digemari semua kalangan.

 

Reporter : Sulha
Editor : Sulha Handayani