Netral English Netral Mandarin
banner paskah
17:26wib
Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Inspektur Jenderal Istiono bakal memberi sanksi dua kali lipat kepada personelnya yang kedapatan meloloskan pemudik pada 6-17 Mei 2021 mendatang. Presiden Joko Widodo meminta semua anggota Kabinet Indonesia Maju dan pimpinan lembaga tinggi negara untuk tidak mengadakan acara buka puasa bersama di tengah pandemi virus corona (Covid-19).
Ternyata Pasien Meninggal COVID-19 Terbanyak dari Penyintas Obesitas

Sabtu, 06-Maret-2021 16:20

Ternyata Pasien Meninggal COVID-19 Terbanyak Karena Penyintas Obesitas
Foto : Halo sehat
Ternyata Pasien Meninggal COVID-19 Terbanyak Karena Penyintas Obesitas
28

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Tingkat kematian akibat COVID-19 sekitar 10 kali lebih tinggi di negara-negara yang setidaknya terdapat 50 persen orang dewasa mengalami kelebihan berat badan, menurut sebuah studi global.

Studi yang menganalisis data angka kematian COVID-19 dari Johns Hopkins University di Amerika Serikat dan data Observatorium Kesehatan Global Organisasi Kesehatan Dunia tentang obesitas, menemukan 90 persen atau 2,2 juta dari 2,5 juta kematian akibat penyakit pandemi sejauh ini terjadi di negara-negara dengan tingkat obesitas yang tinggi.

"Lihat negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan, yang tingkat kematian COVID-19 sangat rendah serta tingkat obesitas orang dewasa yang sangat rendah," kata Tim Lobstein, penasihat ahli Federasi Obesitas Dunia dan profesor di Australia's Sydney University yang ikut memimpin studi seperti dikutip dari Reuters, Jumat, (4/3/2021).

Menurut Tim, negara-negara ini memprioritaskan kesehatan masyarakat termasuk berat tubuh populasi penduduk.

Sebaliknya, studi menemukan negara seperti Amerika Serikat dan Inggris, dengan tingkat kematian karena COVID-19 dan obesitas pada kategori yang termasuk tertinggi.

Semenyara itu, Inggris tercatat sebagai negara dengan tingkat kematian akibat virus korona tertinggi ketiga di dunia dan tingkat obesitas tertinggi keempat yakni 184 kematian akibat COVID-19 per 100.000 dan 63,7 persen orang dewasa kelebihan berat badan, menurut data WHO.

Profesor kedokteran di Britain's University of Liverpool, John Wilding mengatakan obesitas harus diakui sebagai risiko kesehatan utama COVID-19 dan diperhitungkan dalam rencana vaksinasi.

"Sangat penting bagi kami untuk menyadari bahwa obesitas ... meningkatkan risikonnya (kematian akibat COVID-19). Oleh karena itu, seperti penyakit lain seperti diabetes dan penyakit kardiovaskular, penderita obesitas harus dipertimbangkan sebagai prioritas awal dalam program vaksinasi di seluruh dunia," demikian  ungkap John, dilansir Antara.

 

Reporter : Sulha
Editor : Sulha Handayani