Netral English Netral Mandarin
banner paskah
08:46wib
Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Inspektur Jenderal Istiono bakal memberi sanksi dua kali lipat kepada personelnya yang kedapatan meloloskan pemudik pada 6-17 Mei 2021 mendatang. Presiden Joko Widodo meminta semua anggota Kabinet Indonesia Maju dan pimpinan lembaga tinggi negara untuk tidak mengadakan acara buka puasa bersama di tengah pandemi virus corona (Covid-19).
Marah ke Denny hingga Dewi Tanjung, TZ: Geng Ini Ribut Sampai ke Pluto kalau Banjir Landa Jakarta...

Kamis, 21-January-2021 10:25

Marah ke Denny hingga Dewi Tanjung, Tengku Zul sebut Geng Ini Ribut Sampai ke Pluto kalau Banjir Landa Jakarta...
Foto : Istimewa
Marah ke Denny hingga Dewi Tanjung, Tengku Zul sebut Geng Ini Ribut Sampai ke Pluto kalau Banjir Landa Jakarta...
8

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Mantan Wasekjen MUI Tengku Zulkarnain marah ulah dengan Denny Siregar, Ade Armando, Abu Janda, hingga Dewi Tanjung. Pasalnya, menurut Zul mereka selalu ributkan soal banjir di DKI Jakarta tapi diam jika banjir landa daerah lain.

Bahkan, Tengku Zul menyebut mereka adalah kelompok geng yang suka ribut sampai ke planet Pluto.

"Kelompok Geng ini ribut sampai ke Pluto kalau banjir melanda Jakarta. Dan adem ayem pada banjir selain Jakarta... Ada yg tahu kenapa? Tanya kenapa...," kata Tengku Zul melalui akun Twitternya, Kamis (21/1/21).

Sementara sebelumnya diberitakan, KLHK mengungkap penyebab banjir yang landa di wilayah Kalimantan Selatan.

Dilansir BBC, KLHK mengatakan bahwa penurunan luas hutan alam di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito di Kalimantan Selatan mencapai 62,8%. Sebelumnya tim tanggap darurat bencana di LAPAN menyebut penyebab banjir terbesar itu adalah berkurangnya hutan primer dan sekunder dalam 10 tahun terakhir di keseluruhan provinsi tersebut.

KLHK menyebutkan penurunan luas hutan alam di DAS Barito, wilayah yang mengalami bencana banjir di Kalsel, terjadi selama periode 1990-2019. Penurunan terbesar terjadi pada tahun 1990-2000 sebanyak 55,5%.

Untuk itu KLHK merekomendasikan kepada pemerintah daerah untuk mempercepat dan memfokuskan kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan di daerah sumber penyebab banjir.

Sebelumnya, tim tanggap darurat bencana di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), mengatakan penyebab terjadinya banjir terbesar di Kalimantan Selatan itu adalah berkurangnya hutan primer dan sekunder yang terjadi dalam rentang 10 tahun terakhir.

Dengan alasan ini, LSM Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mendesak pemerintah untuk mengevaluasi seluruh pemberian izin tambang dan perkebunan sawit di provinsi itu lantaran menjadi pemicu degradasi hutan secara masif.

Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, Roy Rizali Anwar, sendiri menjanjikan bakal melakukan audit secara komprehensif terkait penggunaan lahan di sana agar bencana serupa tidak terulang.

Anomali cuaca

Dalam jumpa pers pada Selasa (19/01), lima hari setelah banjir terjadi, Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK, RM Karliansyah, juga menyebutkan bahwa hujan bercurah tinggi dan anomali cuaca sebagai penyebab utama.

"Sistem drainase tak mampu mengalirkan air dengan volume yang besar. Selain itu lokasi banjir merupakan daerah datar dan elevasi rendah serta bermuara di laut. Sehingga merupakan daerah akumulasi air," kata Karliansyah.

"Lokasi banjir berada di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Barito di mana kondisi infrastrusktur ekologis - atau jasa lingkungan pengatur air - sudah tidak memadai, sehingga tidak mampu lagi menampung aliran air yang masuk," kata Karliansyah kepada media melalui konferensi pers virtual, pada Senin (19/01)

Ia mengatakan bahwa curah hujan mencapai hingga sembilan kali lipat dari sebelumnya.

"Normal curah hujan bulanan Januari 2020 sebesar 394mm. Sedangkan curah hujan harian 9-13 Januari 2021 sebesar 461mm selama lima hari. Atau terdapat kejadian sebesar 8-9 kali lipat curah hujan."

"Dengan dimikian, volume air yang masuk juga luar biasa," katanya.

Menurut KHLK, air yang masuk ke Sungai Barito mencapai sebanyak 2,08 miliar m3, sementara kapasitas sungai kondisi normal hanya 238 juta m3.

Ia menambahkan bahwa topografi wilayah juga mempengaruhi timbulnya banjir.

"Lokasi banjir merupakan daerah datar dan elevasi rendah dan bermuara di laut sehingga merupakan daerah akumulasi air dengan tingkat drainase rendah," ujarnya.

Penurunan luas hutan primer

Sebelumnya, Kepala Pusat Pemanfaatan Penginderaan Jauh di LAPAN, Rokhis Khomarudin, menjelaskan antara tahun 2010 hingga 2020 terjadi penurunan luas hutan primer sebesar 13.000 hektare, hutan sekunder 116.000 hektare, sawah dan semak belukar masing-masing 146.000 hektare dan 47.000 hektare.

Sebaliknya, kata Rokhis, area perkebunan meluas "cukup signifikan" 219.000 hektare.

Kondisi tersebut, ia melanjutkan, "memungkinkan terjadinya banjir" di Kalimantan Selatan, apalagi curah hujan pada 12 hingga 13 Januari 2020 sangat lebat berdasarkan pantauan satelit Himawari 8 yang diterima stasiun di Jakarta.

"Ya itu analisis kami, makanya disebutkan kemungkinan. Kalau dari hujan berhari-hari dan curah hujan yang besar sehingga perlu analisis pemodelan yang memperlihatkan apakah pengaruh penutup lahan berpengaruh signifikan," ujar Rokhis kepada Quin Pasaribu yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Minggu (17/01).

Data yang ia pegang menunjukkan total area perkebunan di sepanjang Daerah Sungai (DAS) Barito kini mencapai 650.000 hektare.

Jika dibandingkan dengan luasan hutan di sekitar DAS yang mencapai 4,5 juta hektare, maka perkebunan telah menghabiskan 12 hingga 14?ri keseluruhan area.

Kendati area hutan masih mendominasi, tapi Rokhis berharap tidak terus tergerus. Sebab kajian Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan Kalimantan Selatan termasuk daerah yang berisiko terhadap bencana banjir.

"Kita paham bahwa perkebunan itu berhubungan dengan ekonomi, tapi harus diperhatikan unsur lingkungannya," imbuh Rokhis.

Pantauan LAPAN setidaknya ada 13 kabupaten dan kota yang terdampak banjir, tujuh di antaranya luas genangan banjir mencapai 10.000 sampai 60.000 hektare.

"Kabupaten Barito luas genangan 60.000 hektare, Kabupaten Banjar 40.000 hektare, Kabupaten Tanah Laut sekitar 29.000 hektare, Kabupaten Hulu Sungai Tengah kira-kira 12.000 hektare, Kabupaten Hulu Sungai Selatan mencapai 11.000 hektare, dan Kabupaten Tapin 11.000 hektare."

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto