Netral English Netral Mandarin
banner paskah
06:43wib
Pemerintah kembali memperpanjang pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro. Kebijakan ini diperpanjang selama 14 hari, terhitung sejak 20 April. Komite Eksekutif UEFA meresmikan format baru untuk kompetisi Liga Champions yang akan mulai digunakan pada musim 2024/2025.
Teka-Teki CCTV di KM 50, RH: Apa Ada Orang Jahat yang Mau Menghabisi HRS?

Senin, 11-January-2021 10:53

Ahli Hukum Tata Negara Refly Harun (RH)
Foto : Istimewa
Ahli Hukum Tata Negara Refly Harun (RH)
11

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ahli Hukum Tata Negara Refly Harun (RH) turut angkat bicara terkait teka-teki CCTV di KM 50. Pasalnya, ini berkaitan dengan tewasnya enam Laskar Front Pembela Islam (FPI). 

Menurut RH, jadi pertanyaan besar apakah tewasnya Laskar FPI karena kecelakaan atau telah direncanakan. Dipertanyakan, apakah tewasnya Laskar FPI sebagai kejadian lapangan atau ada struktur yang menggerakkan. 

Apalagi diketahui RH, dalam laporan Komnas HAM, yang membuntuti Habib Rizieq Shihab (HRS) tidak hanya petugas Kepolisian. Disebut, ada orang atau kelompok lain yang juga turut membuntuti. 

"Tanda tanya siapa dia? Apakah orang yang juga termasuk jahat dan ingin menghabisi Habib Rizieq? Tentu kita tidak tahu," ujar RH, dikutip dari pernyataan di kanal Youtubenya, Senin (11/1/2021).

Pernyataan ini disampaikan Refly, pasalnya CCTV yang diambil di Rest Area KM 50 itu tengah menjadi perbincangan hangat. Dia nilai, soal CCTV merupakan misteri dari  pengungkapan Komnas HAM atas penyelidikan yang tengah dilakukan terhadap tewasnya 6 Laskar FPI.

"Polri ambil rekaman CCTV KM 50 untuk penyidikan saat kejadian atau hari lain? Kalau saat kejadian, maka jelas saat itu bahwa Polisi tidak mau ada jejaknya," tegas RH. 

Menurut RH, film atau potongan CCTV cepat beredar di media sosial dan dikonfirmasi. Misalnya pada pengunjung, Polisi minta rekaman di gawai untuk dihapus. 

"Semakin menujukan saat itu aparat tidak ingin ada yang merekam kejadian tersebut. Timbulkan pertanyaan besar," tegas dia. 

Lebih lanjut RH harap, Kapolri yang baru nantinya memiliki nyali untuk mengungkap kasus dari tewasnya 6 orang Laskar FPI. RH harap, Kapolri yang baru juga tidak khawatir mengungkap kasus yang bisa saja mencoreng "wajah" aparat sendiri. 

"Jauh lebih baik mengungkapkan kesalahan yang dilakukan negara apabila benar ada kesalahan, dibanding harus menutup kasus dengan segala upaya dan cara," kata dia.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sesmawati