Netral English Netral Mandarin
banner paskah
05:14wib
KontraS menyatakan selama 100 hari kepemimpinan Jenderal Listyo, kondisi penegakan hukum dan HAM yang dilakukan oleh kepolisian tak kunjung membaik. Pemerintah Nepal tengah kelabakan karena jumlah kasus infeksi virus corona di negara itu melonjak 57 kali lipat, akibat penyebaran virus jenis mutasi dari India.
Survei: Kritis Terhadap Kinerja Gubernur Anies, Elektabilitas PSI Meroket di Jakarta

Sabtu, 17-April-2021 08:10

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan
Foto : Istimewa
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan
14

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Hasil survei Jakarta Research Center (JRC) menunjukkan, elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bakal meroket di Jakarta pada pemilihan legislatif (pileg) mendatang.

Survei JRC dilakukan pada 1-10 April 2021, secara tatap muka kepada 800 responden mewakili seluruh wilayah di DKI Jakarta. Metode survei adalah multistage random sampling, dengan margin of error ±3,4 persen dan pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Dalam survei JRC, elektabilitas PSI berada di urutan kedua, menempel PDIP di posisi puncak. Sementara posisi ketiga ditempati Partai Golkar.

"PDIP dan PSI diprediksi bakal menguasai DKI Jakarta dalam pemilihan anggota legislatif, diikuti oleh Golkar yang masuk dalam peringkat tiga besar," kata Direktur Komunikasi JRC Alfian P dalam siaran persnya, di Jakarta, Jumat (16/4/2021).

Berdasarkan survei JRC, elektabilitas PDIP sebesar 20,09 persen, tidak jauh berbeda dari hasil Pileg 2019 yaitu sebesar 22,6 persen.  

Kemudian PSI yang sebelumnya meraih 6,8 persen suara dalam Pileg 2019, melonjak menjadi 15,4 persen dan menduduki urutan kedua.

Sedangkan Golkar dari 5,1 persen naik menjadi 8,3 persen, memantapkan diri dalam jajaran tiga besar.

"Peringkat tiga besar yang semula dikuasai Gerindra dan PKS bergeser, digantikan oleh PSI dan Golkar," ujar Alfian.

Adapun PKS turun ke posisi 4, elektabilitasnya anjlok dari 15,5 persen pada Pileg 2019 menjadi 7,6 persen.

Di posisi kelima ada Partai Demokrat yang mengalami kenaikan dari 5,2 persen menjadi 7,1 persen.

Sementara Partai Gerindra yang sebelumnya meraih 15,8 persen suara dan berada di posisi kedua, kini jeblok dan turun ke posisi 6. Partai yang dipimpin Prabowo Subianto itu hanya mampu meraih 5,6 persen suara responden.

Parpol lainnya adalah NasDem (6,4 persen menjadi 4,1 persen), PKB (5,2 persen menjadi 2,9 persen), Partai Ummat bentukan Amien Rais (2,1 persen), PAN (6,5 persen turun menjadi 1,9 persen), dan PPP (3,0 persen menjadi 1,4 persen).  

Menurut Alfian, meskipun PDIP unggul tetapi partai besutan Megawati Soekarnoputri itu cenderung mengalami stagnasi, sementara PSI berhasil meningkatkan elektabilitasnya lebih dari dua kali lipat perolehan hasil Pemilu 2019.

"Jika terus meningkat, PSI bisa menyalip dan menjadi parpol terbesar di DKI Jakarta," ungkap Alfian.

Melejitnya elektabilitas PSI, lanjut Alfian, tak lepas dari sikap kritis anggota DPRD DKI dari Fraksi PSI selama ini terhadap kinerja Pemprov DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Anies Baswedan, seperti isu banjir, program Rumah DP 0 Rupiah, dan transparansi anggaran.

Hal itu berbanding terbalik dengan dua parpol utama pengusung Anies di Pilkada 2017 lalu, yakni Gerindra dan PKS.

Alfian menyebut, kinerja Anies yang tidak menunjukkan prestasi signifikan berdampak pada rontoknya elektabilitas Gerindra dan PKS.

"Kinerja Anies yang tidak menunjukkan prestasi signifikan turut memberi disinsentif bagi parpol-parpol pengusung-nya," jelas Alfian.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sesmawati