Netral English Netral Mandarin
06:03wib
Hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen masyarakat setuju sekolah dan rumah ibadah dibuka kembali meski masih di tengah kondisi pandemi corona. Data pengguna Facebook yang mencapai 533 juta, baru-baru ini dikabarkan telah dicuri hacker. Facebook menyatakan, tak akan memberi tahu data siapa saja yang telah dicuri.
Stop Kasus BLBI, Fahri Hamzah: Era KPK Jadi 'Dewa' Sudah Usai, Harus Bekerja Sama

Senin, 05-April-2021 20:50

Politisi Fahri Hamzah
Foto : Istimewa
Politisi Fahri Hamzah
1

JAKARTA, NETRALNEWS. COM - Politisi sekaligus eks wakil DPR Fahri Hamzah ikut mengomentari kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Apalagi, banyak pihak kecewa dengan keputusan surat perintah penghentian penyidikan (SP3) kasus BLBI dengan terdakwa Syamsul Nursalim.

Menurut eks politisi PKS itu mengungkapkan kalau selama ini KPK menjadi 'pahlawan' satu-satunya. Dengan langkah penghentian kasus BLBI membuat lembaga anti rasuah itu lemah.

"Penting bagi @KPK_RI untuk nampak lemah, atau dianggap remeh, atau diragukan, gapapa ini pelajaran. Bayangkan 2002-2019 selama 17 tahun dianggap hero dan “satu2nya” cukup melelahkan. Sementara korupsi gak hilang2 tapi KPK dapat pujian. Aneh, bukankah ini yg perlu perbaikan?," tulisnya seperti dilansir Jakarta, Senin (6/4/2021).

Fahri menambahkan aturan terkait KPK juga tak menganggu secara kinerja. Namun, KPK harus bekerja sama dengan semua pihak.

"Tidak banyak yang berubah dalam revisi UU @KPK_RI yang baru, KPK masih kuat. Tuntutannya sederhana, agar KPK kembali menjadi lembaga negara yang normal. Bekerjasama dalam Sistem Integritas Nasional. Karena tidak ada korupsi dalam negara yang bisa hilang tanpa kerja bareng," tulisnya lagi.

Era KPK lanjut Fahri sebagai pahlawan tunggal sudah kita tinggalkan. Sekarang KPK sebagai kekuatan penindakan yang harus bisa melakukan kordinasi, supervisi dan monitoring dengan Semua lembaga negara termasuk presiden dan DPR.  "Masa depan KPK ada di otak bukan di otot," tulisnya lagi.  

Reporter : PD Djuarno
Editor : Widita Fembrian