Netral English Netral Mandarin
banner paskah
17:15wib
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem mulai Rabu (14/4) hingga Kamis (15/4). Cuaca ekstrem ini diakibatkan Siklon Tropis Surigae. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebut semua komponen utama yang digunakan dalam pengembangan Vaksin Nusantara diimpor dari Amerika Serikat.
Stafsus Milenial JKW Gagal Serap Aspirasi Anak Muda, Said Didu: Mereka Masih Ada toh? Milenial Duren Runtuh?

Senin, 22-Maret-2021 15:10

Stafsus Milenial yang dibentuk Presiden Joko Widodo
Foto : setkab.go.id
Stafsus Milenial yang dibentuk Presiden Joko Widodo
11

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Baru-baru ini, Stadsus Milenial yang dibentuk Presiden Joko Widodo dianggap gagal menyerap aspirasi anak muda khusunya untuk kebutuhan revisi UU ITE. 

Mohammad Said Didu langsung mengomentari hal itu melalui akun pribadinya. Said Didu malah mengaku kaget ternyata Stafsus Milenial masih ada. 

“Mereka masih ada toh? Gaji mereka lebih tinggi dari gaji Menteri tapi kerjanya tdk jelas. Milenial duren runtuh?” kata Didu, Senin, 22 Maret 2021.

Untuk diketahui, sebelumnya diberitakan bahwa bukan hanya Presiden Joko Widodo yang gagal menyerap aspirasi anak muda, Staf khusus (Stafsus) Presiden dari kalangan milenial juga dianggap gagal melaksanakan tugasnya.

Hal itu disampaikan oleh pengamat sosial politik, Muslim Arbi, atas hasil survei Indikator Politik Indonesia yang memperlihatkan bahwa 53,7 persen anak muda setuju UU ITE direvisi.

"Jelas, batalnya revisi UU ITE ini dapat dianggap sebagai salah satu kegagalan Jokowi menyerap aspirasi anak muda dan aspirasi publik," ujar Muslim kepada Kantor Berita Politik RMOL, Senin (22/3).

"Dan Stafsus yang milenial yang muda-muda itu juga gagal lakukan tugasnya," sambungnya.

Selain itu, Muslim juga menilai, gagalnya revisi UU ITE menunjukkan bahwa Jokowi gagal merawat demokrasi dan perbedaan pendapat, termasuk dalam mengelola negara.

"Akibat dari kegagalan revisi UU ITE itu, publik dan terutama anak-anak muda milenial akan ketakutan lontarkan pikiran dan pendapat kritis untuk perbaikan negeri," jelasnya.

"(Karena) Perbedaan pendapat dan kritik-kritik cerdas terhadap rezim, bisa-bisa berakhir di balik jeruji. Iklim demokrasi pasti mati. Dan rezim semakin mengerikan," pungkas Muslim seperti dinukil Rmol.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto