Netral English Netral Mandarin
banner paskah
09:40wib
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberi peringatan kepada sembilan provinsi untuk bersiap siaga dari potensi hujan petir disertai angin kencang yang akan terjadi hari ini. Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya menambah jalur yang bakal disekat oleh kepolisian selama masa larangan mudik Lebaran pada 6 hingga 17 Mei 2021 mendatang.
Soal Impor Beras, Legislator PKS Ingatkan Seruan Jokowi Benci Produk Asing: Di Mana Moral Kita?

Selasa, 23-Maret-2021 11:00

Presiden Joko Widodo
Foto :
Presiden Joko Widodo
14

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Anggota Komisi VI DPR Rafli menilai, keputusan Pemerintah untuk mengimpor beras sangat kontraproduktif dengan rencana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) bahkan bertolak belakang dengan Program Strategis Nasional ( PSN ) Food Estate yang pernah digaungkan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Tentu, agenda impor beras jelang panen raya membuat banyak orang sedih. Sebab, Indonesia dikenal memiliki sumber daya alam yang melimpah. Kita ketahui Indonesia pernah swasembada beras, jika saat ini Pemerintah melakukan impor beras, berarti ada yang keliru dengan kebijakan," kata Rafli dalam siaran persnya, Senin (22/3/2021).

"Hal ini bertolak belakang dengan program strategis nasional food estate menuju swasembada pangan yang di canangkan Presiden Jokowi serta kontra dengan rencana Pemulihan Ekonomi Nasional ( PEN ) ditengah pandemi,” sambungnya.

Rafli mengatakan, pada dasarnya kondisi beras kita cukup, asal manajemennya diperbaiki. “Pembangunan Infrastruktur pertanian, teknologi dan edukasi ke petani bisa meningkatkan hasil produksi yang membuat petani sejahtera dan stok nasional akan terpenuhi dangan catatan di pasar juga diawasi,” terangnya.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menambahkan, beberapa daerah di Indonesia saat ini hampir memasuki masa panen. Karenanya, ia meminta pemerintah meninjau dan mengkaji ulang kebijakan impor beras.

“Untuk itu kita meminta pemerintah meninjau dan mengkaji ulang kebijakan impor beras. Karena sangat berdampak kepada penurunan harga jual hasil panen petani, serta membuat mental petani terus tertekan,” ungkapnya.

“Ingatan masyarakat kita juga masih segar dengan pesan Presiden Jokowi untuk cinta produk lokal, dan benci produk asing. Jika impor dilakukan di mana moral kita?” tanya Rafli.

Dijelaskan Rafli, berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pergerakan produksi beras pada 2020 lebih tinggi dari 2019. BPS juga merilis potensi peningkatan produksi padi pada 2021, yaitu subround Januari-April 2021 sebesar 25,37 juta ton GKG, mengalami kenaikan sebanyak 5,37 juta ton atau 26,88% dibandingkan subround yang sama pada tahun 2020 sebesar 19,99 juta ton GKG.

“Miris, jika ada yang mencari keuntungan di tengah penderitaan rakyat yang hidup dari hasil pertanian, bahkan ini mencederai cita cita swasembada pangan,” pungkasnya.

 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Nazaruli