Netral English Netral Mandarin
banner paskah
08:11wib
Pemerintah melalui Kementerian Agama memutuskan awal puasa atau 1 Ramadan 1442 Hijriah di Indonesia jatuh pada Selasa (13/4/2021). Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) setuju penggabungan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
Soal Impor Beras, Fadli: Artinya Pak Jokowi Dianggap Tak Mampu Penuhi Pangan Bagi Rakyat

Rabu, 24-Maret-2021 20:37

Anggota Komisi II DPR Fadli Zon 
Foto : Istimewa
Anggota Komisi II DPR Fadli Zon 
7

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Anggota Komisi II DPR Fadli Zon mengkritik pemerintah terkait rencana Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi untuk impor beras sebanyak 1 juta ton. 

Menurutnya, rencana Mendag impor beras itu sama saja dengan menyatakan bahwa pembangunan pertanian khususnya pangan telah gagal. Artinya, lanjut Fadli, pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dianggap tidak mampu untuk memenuhi pangan bagi rakyat.

Hal tersebut disampaikan Fadli mengomentari sikap Mendag yang mengaku siap berhenti dari jabatannya kalau keputusan mengenai impor beras sebesar 1 juta ton itu salah.

"Rencana Mendag untuk impor beras ini sama saja menyatakan pembangunan pertanian khususnya pangan telah gagal. Artinya P @jokowi bisa dianggap tak mampu penuhi pangan bagi rakyat," cuit @fadlizon, Selasa (23/3/2021).

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini menilai, kebijakan impor beras sebanyak 1 juta ton bisa menghancurkan sektor pertanian dalam negeri. "Luar biasa nafsu impor beras 1 juta ton ini, benar-benar mau menghancurkan petani dan sektor pertanian," tegas Fadli Zon.

Sebelumnya, dalam rapat bersama Komisi VI DPR pada Senin (22/3/2021), Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyatakan siap mundur dari jabatannya apabila ia salah dalam mengambil kebijakan untuk mengimpor 1 juta ton beras.

"Saya mesti memikirkan yang tidak terpikirkan, saya mesti mengambil keputusan pada keputusan yang tidak populer, saya hadapi. Kalau memang saya salah, saya siap berhenti, tidak ada masalah, tapi tugas saya memikirkan yang tidak dipikirkan oleh bapak dan ibu," kata Lutfi.

Lutfi mengungkapkan, ketika pertama kali menjabat sebagai Menteri Perdagangan pada 23 Desember 2020 lalu, sudah ada notulen rapat di tingkat kabinet yang menyatakan bahwa Perum Bulog harus memiliki cadangan beras atau iron stock sebesar 500 ribu ton dan pengadaan beras untuk iron stock itu bisa berasal dari impor.

"Sebelum saya datang 23 Desember 2020, sudah ada notulen rapat di tingkat kabinet. Jadi, artinya ini di tingkat lebih atas dari rakortas (rapat koordinasi terbatas) menko yaitu memutuskan bahwa Bulog untuk tahun 2021 itu mesti mempunyai cadangan/iron stock (beras), salah satunya pengadaan 500 ribu ton bisa dari impor. Sebelum saya datang. Jadi waktu saya datang, saya hanya hitung jumlahnya," ujarnya.

Lutfi kemudian menjelaskan soal persoalan stok beras saat ini dalam kaitannya dengan rencana impor. Ia mengatakan, posisi cadangan beras Bulog saat ini 800 ribu ton. Itu pun termasuk sisa beras impor pada 2018 sebanyak 270 ribu ton-300 ribu ton. 

"800 ribu ton dikurangi beras 2018, kalau 2018 antara 270 ribu sampai 300 ribu ton, artinya Bulog hari ini bisa cadangannya di bawah 500 ribu ton. Itu yang saya takutkan. Karena dengan 500 ribu ton itu pemerintah bisa dipojokkan oleh pedagang dan juga oleh spekulan. Kalau harganya naik, saya juga yang salah," ungkapnya.Lutfi pun membeberkan bahwa serapan gabah Perum Bulog dari tangan petani tidak berjalan baik karena cenderung turun. Bahkan, menurutnya, saat ini Bulog hanya bisa menyerap 85 ribu ton gabah. Kondisi inilah yang dikhawatirkan mempengaruhi cadangan beras Bulog.

"Yang jadi permasalahan berikutnya, Minggu lalu, Rabu atau Kamis, pengadaan untuk gabah petani itu hanya 85 ribu ton. Mustinya mendekati 500 ribu hari ini. Jadi penyerapan itu tidak berjalan dengan baik. Ini menyebabkan stok Bulog pada saat ini jadi yang paling rendah dalam sejarah," papar Mendag.

Pada kesempatan itu, Lutfi juga menegaskan bahwa soal rencana impor beras bukan kesalahan Kementerian Pertanian dan Bulog. Ia juga memastikan jika pemerintah tidak akan melakukan impor beras saat panen raya berlangsung.

"Tidak ada impor beras ketika ada panen raya. Itu pasti. Jadi saya ingin memenangkan semua. Yang ada hari ini adalah harga gabah petani turun. Bukan salah siapa-siapa, bukan salah Bulog, bukan salah Kementerian Pertanian," jelas Mendag.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Nazaruli