Netral English Netral Mandarin
banner paskah
02:35wib
Manchester City melewatkan kesempatan mengunci gelar juara Liga Inggris musim ini seusai menderita kekalahan dari Chelsea, Sabtu (8/5/2021) malam WIB. Potongan surat perihal penonaktifan 75 pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang tidak lolos tes wawasan kebangsaan (TWK) beredar.
Skenario Brutal Balas Dendam bagi HRS Kembali Terkuak, DS Ungkap Strategi Kelompok Pengajian Yasin Rawatib

Kamis, 22-April-2021 07:55

Kolase Habib Rizieq Shihab dan Husein Hasni
Foto : Istimewa
Kolase Habib Rizieq Shihab dan Husein Hasni
6

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pegiat media sosial Denny Siregar kembali menjelaskan bagaimana kelompok FPI yang sudah dibubarkan bakal “membakar Indonesia” melalui kelompok pengajian bernama “Yasin Rawatib.”

Kelompok ini dikembangkan oleh Habib Husein Hasni. Ia mengumpulkan sejumlah simpatisan dan sudah berhasil menyiapkan sejumlah bom. Aksi dengan skenario brutal pun disiapkan.

Semua dilakukan sebagai upaya membalas dendam atas penahanan Habib Rizieq Shihab. 

Berikut catatan lengkap Denny Siregar:

FPI ORGANISASI TERORIS III

Bagian 3 : Kelompok Condet

Penangkapan Riziek dan tewasnya 6 anggota FPI di KM 50, membuat Husein Hasni gerah. 

Husein Hasni di Condet sering dipanggil "habib", karena dia warga keturunan Arab dan punya kelompok pengajian disana, yang dia beri nama Yasin Rawatib. Pangkat Husein Hasni di FPI adalah wakil ketua bidang Jihad. Dia bertugas mengamankan Riziek dengan "segala cara".

Husein Hasni lalu mengontak beberapa anggota FPI yang tergabung dalam kelompok pengajiannya. Dia punya rencana balas dendam dengan membuat kerusuhan di Indonesia. Inspirasinya datang dari kerusuhan Mei 2019 di KPU yang gagal dulu.

Seorang anggota mengusulkan, "Bagaimana kalau kita serang pakai bom molotov ?" Husein Hasni setuju. Dia lalu mengatur strategi yang menyeramkan. 

Pertama, atur bagaimana caranya supaya sidang Riziek yang online harus diadakan offline. Dan itu tugas Munarman dan para pengacara Riziek. 

Kedua, ini yang berbahaya. Ketika nanti terjadi sidang offline, mereka akan mengumpulkan para simpatisan FPI dari berbagai daerah untuk berkumpul di luar ruang sidang. Kerumunan massa itu pasti akan mengundang aparat polisi untuk berjaga-jaga.

Apa strategi Husein Hasni ?

Dia dan kelompoknya, akan membagikan bom molotov kepada para simpatisan FPI garis keras. Bom molotov ini akan dilempar ke tengah kerumunan dan ledakan apinya akan membuat kerusuhan. 

"Wah, nanti anggota kita bisa mati terbakar  ?" Begitu pertanyaan seseorang. Husein Hasni mengingatkan tentang jihad, bahwa mati membela "cucu Nabi" pahalanya surga. 

Sesudah ada kobaran api, pasti rusuh. Disaat rusuh itulah, simpatisan FPI akan melempar bom molotov ke arah polisi, sebagai balas dendam 6 orang anggota FPI yang tewas. 

"Kenapa harus bom molotov ? Kenapa gak buat bom beneran sekalian aja ?" Seorang yang hadir bernama Bambang, memberikan ide. Husein Hasni dan anggota yang lain terdiam. Ide yang bagus. 

"Tapi siapa yang bisa bikin bom beneran ? Kita gada yang bisa.." kata Husein Hasni.

Bambang mengusulkan nama seseorang, Zulaimi Agus. Zulaimi punya bengkel di Bekasi, dan disanalah, menurut Bambang, Zulaimi sering bereksperimen membuat bom.

"Kenalkan saya dengan Zulaimi Agus.." kata Husein Hasni. 

Bambang pun datang keesokan harinya dengan Zulaimi. Sesudah berkenalan dengan seluruh anggota, Zulaimi cerita kalau dia kecewa dengan hasil Pilpres 2019. Dia juga dendam dengan polisi, karena sewenang2 dengan massa waktu aksi di Bawaslu menolak hasil pilpres.

"Pas.." kata Husein Hasni. "Jadi kamu bisa bikin bom ? " Tanyanya lagi. "Bisa.." kata Zulaimi. "Saya belajar di internet dan percobaan saya berhasil.."

"Oke kalau begitu. Pertama, kita bikin grup WA dulu. Nanti kita samarkan istilah bom dengan kata takjil.." Husein Hasni kemudian membubarkan kelompok itu. Masing-masing punya tugas untuk mengumpulkan bahan pembuat bom. 

Detik demi detik berlalu. Situasi diluar semakin tegang. Degup jantung para anggota FPI itu semakin keras.

"Kita akan balas dendam.." kata2 itu terngiang di telinga mereka..

Ah, kayaknya menarik kalau kita seruput kopi dulu, sambil ambil nafas perlahan.. 

Denny Siregar

Penjelasan Polisi

Sebelumnya diberitakan, aparat kepolisian berhasil meringkus empat teroris yang merupakan pendukung Eks Pentolan Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab.

Keempat teroris simpatisan Rizieq Shihab tersebut diketahui berinisial ZA, BS, AJ, dan HH. Mereka digerebek di dua tempat berbeda yakni di Condet, Jakarta Timur dan Cikarang, Bekasi Jawa Barat.

Setelah keempatnya berhasil diringkus aparat, beredar video pengakuan mereka di media sosial.

Salah satu teroris simpatisan FPI tersebut, Bambang Setiono alias BS mengungkapkan bahwa dirinya sudah bergabung di FPI sejak awal Desember 2022.

“Saya Bambang Setiono alias BS menjadi simpatisan FPI yang bergabung sejak awal Desember 2020,” ujar BS seperti dilihat dalam videonya itu, Minggu 4 April 2021.

Ia pun mengaku merencanakan meledakkan bom molotov di salah satu SPBU di Jakarta. Dalam rencana aksinya itu, BS menuntut agar Habib Rizieq Shihab dibebaskan.

“Merencanakan penyerangan SPBU menggunakan bom molotov untuk menuntut bebasnya HRS,” ungkapnya.

BS juga mengatakan bahwa rencana tersebut merupakan perintah dari teroris Husein Hasni alias HH yang ditangkap di Condet.

“Mengetahui pembuatan bahan kaseel atas perintah Husein Hasni di Condet,” tuturnya.

Selain BS, Ahmad Junaidi atau AJ yang juga mengaku sebagai simpatisan FPI mengungkapkan, dirinya berencana akan meledakkan bom molotov di toko-toko orang China.

Hal itu hendak ia lakukan lantaran menurutnya Indonesia saat ini tengah dikuasai orang-orang China.

“Saya Ahmad Junaidi, anggota simpatisan FPI. Sejak Habib Rizieq Shihab pulang ke Indonesia. Merencanakan aksi pelemparan bom ke pada orang China dan toko usaha China,” kata AJ.

Mengutip Arrahmahnews.com, hal senada juga disampaikan teroris lainnya yang ditangkap di Bekasi yakni Zulaimi Agus (ZA).

ZA dalam videonya mengaku bertekad ingin menegakkan keadilan dengan caranya sendiri. Pasalnya, ia melihat bahwa keadilan di negeri ini sudah tercabik-cabik.

“Saya bergabung dengan organisasi FPI sejak tahun 2019 sebagai Wakabid FPI Bekasi. Saya merasa sudah tidak ada keadilan di negeri ini, saya ingin menegakkan keadilan dengan cara saya sendiri,” ujarnya.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto