Netral English Netral Mandarin
banner paskah
14:28wib
Pengadilan Negeri (PN) Surabaya menolak gugatan pedangdut Rhoma Irama sebesar Rp1 miliar melawan PT Sandi Record. Komisi IX DPR akan memanggil Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI yang masih mengizinkan Vaksin AstraZeneca untuk digunakan di Indonesia.
Sentil BEM UI, DS: Masih Cebok di Selokan Waktu Terjadi Pembunuhan Warga Ahmadiyah

Rabu, 06-January-2021 12:21

Sentil BEM UI, Denny Siregar sebut mereka Masih Cebok di Selokan Waktu Terjadi Pembunuhan Warga Ahmadiyah
Foto : Istimewa
Sentil BEM UI, Denny Siregar sebut mereka Masih Cebok di Selokan Waktu Terjadi Pembunuhan Warga Ahmadiyah
14

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pegiat media sosial Denny Siregar menyentil BEM UI, Rabu (6/1/21) melalui akun Twitternya, katanya: "Mungkin adek2 BEM @univ_indonesia  yg protes pembubaran FPI, masih pada korengan pantatnya dan ingusnya meler2 sambil cebok diselokan waktu terjadi pembunuhan warga Ahmadiyah di Cikeusik tahun 2011.."

Sentilan Denny disampaikan setelah BEM UI secara resmi memprotes Pemerintah Joko Widodo yang telah melakukan pembubaran FPI tanpa melalui proses pengadilan.

Denny juga mengunggah tautan berita lama yang menggambarkan tentang seruan membunuh bagi warga Ahmadiyah oleh tokoh FPI seperti diungkap ulang oleh Akhmad Sahal..

Seperti dilansir Tagar.id, Akhmad Sahal membocorkan potongan video tatkala bekas Ketua Umum Front Pembela Islam (organisasi terlarang di RI) Ahmad Sobri Lubis, mengajak umat melakukan pembantaian terhadap pengikut Ahmadiyah di Indonesia.  

Sahal meramaikan kembali video itu melalui kanal YouTube CokroTV dilihat Tagar, pada Jumat, 1 Januari 2021.

Di dalam video tersebut, Sobri Lubis nampak sedang berdakwah di depan umat. Dia mengajak para pengikutnya untuk memerangi dan menghabisi nyawa pengikut Ahmadiyah di manapun mereka berada.

"Bunuh. Enggak apa-apa bunuh. Dari mana belanya? Ini namanya bela paksa. Lu merusak aqidah gua, mudah-mudahan halal lagi, udah holol. Bukan main Ahmadiyah halal darahnya untuk ditumpahkan," kata Sobri Lubis dikutip dari video yang ditayangkan YouTube CokroTV.

Sobri pun mengaku tidak peduli terhadap pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) jika melakukan pembantaian terhadap pengikut Ahmadiyah.

"Enggak mau kembali kepada Islam, kita perangi atau tidak perangi Ahmadiyah, bunuh Ahmadiyah, bersihkan Ahmadiyah dari Indonesia Allahu Akbar," ujarnya.

Sobri mengaku siap bertanggung jawab apabila terjadi insiden berdarah yang menewaskan pengikut Ahmadiyah di Tanah Air.

"Kalau ada yang bunuh Ahmadiyah, bilang disuruh sama kami saudara, bilang disuruh oleh Ustaz Sobri Lubis, disuruh oleh Habib Rizieq Shihab. Kami siap tanggung jawab untuk dunia akhiratnya, untuk bunuh Ahmadiyah di manapun mereka berada," kata Sobri Lubis.

Lantas Sahal menerangkan cuplikan pidato Sobri Lubis dalam video tersebut dilakukan pada tahun 2008 lalu, saat yang bersangkutan masih menjadi Sekjen FPI.

Menurut dia, pada tahun 2011, pembantaian terhadap warga Ahmadiyah oleh massa FPI pecah di Cikeusik, Banten. Dia melanjutkan, sekurangnya ada tiga warga yang tewas dianiaya secara sadis.

Kemudian, sejumlah warga Ahmadiyah juga menerima tindakan persekusi, diteror, diintimidasi, rumahnya dibakar dan dirusak, serta mobilnya dibakar.

"Tragedi Cikeusik ini hanyalah salah satu dari sekian rentetan kasus pelanggaran dan pemberangusan HAM oleh FPI dari penggerudukan massal, penyerangan secara fisik, penggunaan kekerasan, intimidasi, teror, dan seterusnya," kata Sahal.

Selanjutnya ia mengungkit catatan Kompolnas, soal 37 eks anggota FPI sempat terlibat dengan jaringan terorisme di negeri ini. Sahal menilai, hal-hal semacam ini perlu diungkap dan diingat kembali untuk mengonter narasi terhadap framing yang dikembangkan oleh Munarman.

"Yang mengatakan bahwa FPI adalah korban penzaliman oleh negara. FPI adalah korban kekerasan HAM, dan ini dikaitkan dengan kasus penembakan terhadap enam laskar FPI di jalan tol beberapa waktu yang lalu," kata Sahal.

Sahal pun menyalahkan para aktivis HAM dan para pejuang masyarakat sipil yang lebih memilih berpihak kepada FPI.

Menurutnya, mereka tergopoh-gopoh percaya pada narasi Munarman, untuk selanjutnya beramai-ramai memvonis aparat menjadi pihak paling bersalah dalam kasus penembakan yang menewaskan enam laskar FPI di Jalan Tol Jakarta-Cikampek 7 Desember 2020 lalu.

"Jadi ini kayak semacam senada dengan framing-nya FPI ya. Kita tahu para aktivis HAM memang juga berseberangan dengan FPI. Mereka selalu bilang saya tidak suka FPI itu tetapi bla..bla..bla..bla.. Nah narasinya itu kemudian ternyata sejalan itu dengan dengan framing-nya Munarman," ucapnya.

"Padahal, investigasi terhadap kasus ini masih berjalan dan Komnas HAM belum mengambil keputusan apa-apa, tetapi kalangan aktivis HAM begitu saja memvonis dan mereka tidak percaya sepenuhnya, membuang, mengabaikan begitu saja kronologi yang dijelaskan oleh pihak kepolisian," kata Akhmad Sahal.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto