Netral English Netral Mandarin
banner paskah
07:11wib
Pemerintah melalui Kementerian Agama memutuskan awal puasa atau 1 Ramadan 1442 Hijriah di Indonesia jatuh pada Selasa (13/4/2021). Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) setuju penggabungan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
Sebut Sikap Moeldoko Tidak Ksatria, AHY: Silahkan Masyarakat Nilai Sendiri

Sabtu, 06-Maret-2021 08:13

Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)
Foto : Twitter
Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)
18

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan, kesediaan Moeldoko menjadi Ketum Demokrat versi Kongres Luar Biasa (KLB) di Sumatera Utara (Sumut) pada Jumat (5/3/2021), membuktikan bahwa sejak awal Moeldoko terlibat dalam Gerakan Pengambilalihan Kepemimpinan Partai Demokrat (GPK-PD) secara ilegal dan inkonstitusional.

"Terkait dengan keterlibatan KSP (Kepala Staf Kepresidenan) Moeldoko, yang selama ini selalu mengelak, kini terang-benderang. Terbukti ketika diminta oleh para pelaku GPK-PD,  yang bersangkutan, KSP Moeldoko, menerima ketika diminta menjadi Ketua Umum Demokrat versi KLB Sumut," kata AHY di Jakarta, Jumat (5/3/2021).

"Artinya memang sejak awal motif dan keterlibatan KSP Moeldoko yang tidak berubah yaitu ingin ambil alih kepemimpinan Partai Demokrat yang sah menggunakan cara-cara inskonstitusional serta jauh dari moral dan etika politik," ungkapnya.

Kesediaan Moeldoko jadi Ketum Demokrat dalam KBL tersebut, lanjut AHY, juga meruntuhkan seluruh pernyataan Moeldoko selama ini bahwa ia tak tahu-menahu, tidak ikut-ikutan dan tidak terlibat dalam GPK-PD hingga mengatakan semua itu  permasalahan internal Demokrat.

"Faktanya, KSP Moeldoko bukan kader Demokrat. Jadi, jelas bukan hanya permasalahan internal Demokrat. Segelintir kader, mantan kader yang tadi semangat sekali KLB di Sumut, tidak mungkin punya semangat dan keyakinan kalau tidak mendapatkan dukungan dari KSP Moeldoko," ujar AHY.

"Jadi, sekali lagi saya katakan bahwa apa yang ia sampaikan selama ini ia pungkiri sendiri melalui kesediaannya menjadi Ketum Demokrat abal-abal versi KLB ilegal. Saya bisa menyampaikan ini karena banyak bukti yang kami dapatkan selama ini. Tentu tidak semua kita jelaskan ke publik, tapi bukti-buktinya lengkap," jelasnya.

Manuver Moeldoko itu, lanjut AHY, bukanlah sikap dan perilaku seorang ksatria dan juga tidak bisa dijadikan contoh oleh generasi muda. AHY pun meminta masyarakat untuk menilai sendiri bagaimana sikap dan perilaku mantan Panglima TNI itu.

"Kini saya mempersilakan kepada seluruh masyarakat Indonesia yang sangat saya cintai dan muliakan untuk menilai sendiri sikap-sikap dan perilaku tersebut. Bagi kami, sikap dan perilaku tersebut bukanlah sikap dan perilaku yang ksatria, bukan juga sikap perilaku yang bisa dijadikan contoh, baik bagi seluruh masyarakat Indonesia, juga generasi muda Indonesia," ucap dia.

Lebih jauh, AHY juga menyinggung bahwa dia dan Moeldoko sama-sama mantan prajurit TNI, di mana dalam dunia keprajuritan, seorang junior harus menghormati seniornya. Namun melihat sikap dan perilaku Moeldoko, AHY mengaku mengambil pelajaran bahwa tidak semua senior bisa menjadi contoh yang baik.

"Kami tentu sangat menghormati senior- senior dan pendahulu. Saya juga dulu adalah prajurit, beliau juga adalah prajurit. Dalam dunia keprajuritan, menghormati senior adalah sesuatu yang wajib kita lakukan. Tetapi dari para senior pula saya mendapatkan pelajaran bahwa tidak semuanya bisa menjadi contoh yang baik," jelas AHY.

"Kami berharap sebetulnya terus dapat keteladanan dan contoh-contoh yang baik untuk menjadi referensi dan memotivasi generasi muda Indonesia untuk bisa tumbuh berkembang dan lebih maju lagi,"pungkas putra sulung Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu. 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Nazaruli