Netral English Netral Mandarin
banner paskah
15:54wib
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberi peringatan kepada sembilan provinsi untuk bersiap siaga dari potensi hujan petir disertai angin kencang yang akan terjadi hari ini. Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya menambah jalur yang bakal disekat oleh kepolisian selama masa larangan mudik Lebaran pada 6 hingga 17 Mei 2021 mendatang.
'Sarang Ular Diasapi' Densus 88, Gerombolan Teroris Alami Kepanikan? DS: Mereka Sendiri yang Setor Nyawa

Kamis, 01-April-2021 07:35

Kolase kasus teror di Mabes Polri dan Denny Siregar
Foto : Istimewa
Kolase kasus teror di Mabes Polri dan Denny Siregar
19

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Benarkah kelompok teroris sedang alami kepanikan sehingga beraksi konyol cenderung menyerang dan menyerahkan nyawa mereka?

Denny Siregar melalui akun FB-nya membuat catatan berjudul “Teroris Panik”. Dalam catatan itu, Denny mengungkap bahwa pihak teroris terjepit mulai dari kesulitan mengumpulkan bahan bom hingga semua gerak geriknya terjepit. 

“Seperti sarang ular, Densus sudah mengasapi liangnya. Dan akhirnya para teroris keluar dengan senjata seadanya. Tinggal getok satu persatu kepalanya..,” kata Denny, Rabu malam, 1 April 2021.

Berikut catatan lengkap Denny Siregar:

TERORIS PANIK..

Saya jadi ingat peristiwa bom dan penembakan di jalan Thamrin tahun 2016 lalu. Ketika ngobrol dengan seorang anggota Densus 88, dia bercerita, "Peristiwa di Thamrin itu sebenarnya adalah peristiwa teroris yang panik.."

Teroris panik ? Saya baru menemukan istilah itu. 

Dia melanjutkan, "Iya, mereka panik. Semua jalur mereka untuk membuat bom sudah ditutup oleh aparat. Lokasi2 mereka juga sudah diketahui aparat. Jadi, mereka gak punya waktu lagi dan harus sesegera mungkin bertindak sebelum duluan ketangkap aparat.

Jadilah mereka dengan kemampuan seadanya melakukan pengrusakan di jalan Thamrin. Dan lihat hasilnya, nol besar. Mereka tanpa persiapan, tanpa kemampuan, sehingga apa yang mereka lakukan jadi sia-sia. Tidak ada korban. Mereka sendirilah yang setor nyawa.."

Dan peristiwa bom Makassar juga penembakan di Mabes Polri sore tadi, mengingatkan saya pada pembicaraan dulu itu. Para teroris sekarang ini bukan teroris jamannya Dr Azahari dan Imam Samudra yang benar2 terorganisir dengan rapih dan kemampuan merangkai bom yang dahsyat.

Teroris sekarang ini membuat bom dari bahan2 yang bisa mereka temukan seadanya. Dan kalau ga dapat bahan bom - karena jalur pembelian sudah dikuasai aparat - ya, mereka nekad bawa pistol seperti di Mabes Polri tadi sore.

Jadi bisa dibilang, munculnya teroris di Mabes tadi adalah usaha terakhir mereka. Dengan kemampuan menembak yang minus atau dibawah rata2, mereka menyerbu sarangnya para penembak jitu.

"Trus kenapa Mabes Polri kok kebobolan ? Apa itu bukan berarti mereka berhasil menyusup ke inti sarang ?"

Bukan begitu. Yang harus dipahami, Mabes Polri itu adalah tempat publik, tempat orang mengurus segala macam keperluan mereka sehingga banyak orang umum lalu lalang disana. Jadi wajar, pengawasan di pintu masuk tidak seketat waktu masuk ke BIN misalnya, karena BIN adalah tempat khusus. 

Tapi pasti sesudah ini, Mabes akan memberlakukan pengawasan yang lebih ketat dari sebelumnya. Juga ditempat2 publik lain..

Pada akhirnya, saya harus mengucapkan selamat kepada jajaran Kepolisian RI, utamanya Densus 88. Kerja keras mereka menutup jalur sumber bahan dan sumber dana para teroris, membuat ular-ular kecil itu akhirnya keluar dari sarangnya. 

Seperti sarang ular, Densus sudah mengasapi liangnya. Dan akhirnya para teroris keluar dengan senjata seadanya. Tinggal getok satu persatu kepalanya..

Jangan pernah takut. Kita support terus aparat yang bertugas supaya menemukan sarang2 lainnya. Indonesia ini luas. Teroris itu bisa membuat sarang dimana saja..

Seruput kopinya..

Denny Siregar

Pernyataan Kapolri

Sementara itu secara terpisah sebelumnya diberitakan, seorang terduga teroris diduga berupaya melakukan penyerangan ke area Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (31/3) sore.

Berdasarkan rekaman video yang beredar, terduga pelaku teror itu berhasil dilumpuhkan polisi dengan tembakan dan terjatuh di depan Ruang Rapat Utama (Rupatama) Mabes Polri.

Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit mengatakan aksi teror itu sendiri terjadi sekitar pukul 16.30 WIB. Dalam jumpa pers pada Rabu malam, Listyo membeberkan cara terduga pelaku teror yakni perempuan berinisial ZA (25) itu ke area Mabes Polri.

"Kronologinya, kurang lebih sekitar pukul 16.30 WIB ada seorang wanita yang berjalan masuk dari pintu belakang kemudian yang bersangkutan mengarah ke pos gerbang utama yang ada di Mabes. Yang bersangkutan kemudian tanya, di mana keberadaan kantor pos, kemudian dilayani, dan ditunjukkan arah kantor pos itu," kata Listyo di Mabes Polri.

Setelah meninggalkan pos tersebut, lanjut Listyo, ZA kemudian kembali ke pos penjagaan Mabes Polri dan melakukan penyerangan kepada personel kepolisian yang tengah berjaga.

Listyo mengatakan pelaku sempat mengeluarkan sebanyak enam kali tembakan dari senapan yang dibawanya ke berbagai arah.

"Dua kali ke anggota di pos, dua kali di luar, dan menembak lagi ke anggota yang ada di belakangnya," kata mantan Kabareskrim tersebut.

Melihat hal itu, Listyo mengatakan personel kepolisian yang berjaga melakukan tindakan tegas ke arah pelaku. Pelaku pun terjatuh dan tewas di tempat. Jenazahnya kemudian dibawa ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

Dari rekaman CCTV diterima CNNIndonesia.com yang merekam aksi teror, terlihat terduga yang mengenakan busana serba tertutup itumembawa sebuah map berwarna kuning. Map itu pun terjatuh, berikut diduga senjata api laras pendek yang ia pegang saat dilumpuhkanpolisi dengan tembakan.

"Kemudian dari olah TKP ditemukan identitas di ZA, umur 25 alamat di Jalan Lapangan Tembak Kepala Dua Wetan, Ciracas, Jakarta Timur," kata Listyo.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto