Netral English Netral Mandarin
banner paskah
16:16wib
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberi peringatan kepada sembilan provinsi untuk bersiap siaga dari potensi hujan petir disertai angin kencang yang akan terjadi hari ini. Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya menambah jalur yang bakal disekat oleh kepolisian selama masa larangan mudik Lebaran pada 6 hingga 17 Mei 2021 mendatang.
Sebut jika Tak Bisa Bela Ulama, Minimal Jangan ‘Memperdagangkan’ Mereka, Said Didu Sentil Jokowi?

Selasa, 23-Maret-2021 10:15

Said Didu dan Joko Widodo
Foto : Kolase Youtube
Said Didu dan Joko Widodo
13

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Diduga menentil Presiden Jokowi, Muhammad Said Didu membuat cuitan keprihatinannya terhadap ulama yang menurutnya selama ini menjadi korban politik bahkan “diperdagangkan.”

"Jika tidak bisa membela ulama, minimal jangan "memperdagangkan" mereka. Itu saja," cuit Said Didu. 

Memang, selama pemerintahan Joko Widodo, berkembang opini bahwa selolah Jokowi anti-ulama. Kritik yang sering dilontarkan oleh kelompok "Jokowiphobia” adalah bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu anti-ulama. Benar demikian?

Salah satu tokoh yang berusaha menjawab pertanyaan tersebut adalah Sumanto al Qurtuby seperti dilansir Dw.com.

Berikut catatan Sumanto:

Alasan utama yang mereka gunakan untuk mengklaim, menyuarakan, mengkampanyekan atau tepatnya mempropagandakan kalau Jokowi itu pemimpin anti-ulama adalah, antara lain, adanya penangkapan atau pemrosesan hukum sejumlah tokoh Muslim yang terlibat atau menjadi "penggerak utama” aksi massal 212, khususnya tentu saja Rizieq Shihab yang kini ngumpet di Arab Saudi (kini sebagian kasus yang menimpa Rizieq di SP3-kan).

Mereka ditangkap atau diproses secara hukum bukan lantaran menjadi otak aksi 212 yang berjilid-jilid itu tetapi lebih karena yang bersangkutan diduga terlibat berbagai isu dan skandal (seks, penipuan, korupsi, manipulasi), makar atau pendongkelan kekuasaan, ujaran kebencian, atau keterkaitan dengan jaringan terorisme internasional.

Slogan "kriminalisasi ulama” yang sering mereka lontarkan antara lain ditujukan untuk Jokowi (selain polisi), yang menurut mereka, telah "mengkriminalkan” ulama (maksudnya Rizieq dkk).  

Tentu saja publik yang waras akan menganggap klaim atau propaganda mereka itu omong kosong belaka.

Masyarakat yang berakal sehat sudah mengetahui bahwa apa yang mereka lakukan sejatinya hanyalah "bualan” saja. Tidak lebih, tidak kurang. Tetapi bagi "212 mania” (khususnya kelompok "Jokowi hater” dan "Rizieq lover”), mereka percaya kalau Jokowi itu adalah pemimpin anti-ulama yang telah melakukan kriminalisasi atas ulama.

Padahal, justru sebaliknya.

Padahal, sebenarnya tidak demikian. Jokowi adalah sosok pemimpin yang pro-ulamadan sangat menghormati mereka. Sependek yang saya tahu, Jokowi sangat dekat dengan berbagai kelompok ulama dan tokoh agama.

Jokowi bukan sosok seperti Amangkurat I, putra Sultan Agung, dari Kerajaan Mataram, seorang raja diktator yang bengal dan bengis yang pernah membantai dan membolduzer ribuan ulama karena dianggap membangkang terhadap kekuasaan. Ia juga tidak seperti mendiang Suharto yang pernah antipati terhadap kelompok ulama, khususnya dari kalangan NU, yang bersikap kritis terhadap rezim Orde Baru. 

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto