Netral English Netral Mandarin
banner paskah
19:16wib
Isu reshuffle kabinet kian mengemuka pasca rencana penggabungan Kemenristek ke dalam Kemendikbud. Satgas Penanganan Covid-19 memastikan pengembangan vaksin Merah Putih tetap berjalan dan tidak terpengaruh peleburan Kemenristek dengan Kemendikbud.
Rustam: Yang Dituduh BuzzeRp Pemerintah Cukup Efektif Lawan Buzzer Oposisi... 

Jumat, 12-Februari-2021 19:00

Pemerhati sosial dan politik, Rustam Ibrahim
Foto : Istimewa
Pemerhati sosial dan politik, Rustam Ibrahim
8

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pemerhati sosial dan politik, Rustam Ibrahim ikut mengomentari fenomena buzzer atau pendengung yang beberapa hari terakhir kembali dipersoalkan oleh sejumlah tokoh dan politisi oposisi lantaran dianggap menyerang para pengkritik pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) di media sosial. 

Melalui akun Twitternya, Rustam menyoroti soal "buzzeRp" atau buzzer yang dituding dibayar untuk membela pemerintah. 

Menurutnya, aksi para pendengung yang dituduh buzzeRp pemerintah itu cukup efektif melawan buzzer oposisi yang hanya bermodalkan cacimaki, hinaan, hoaks dan ujaran kebencian yang diklaim sebagai kritik. 

"Yang dituduh sebagai buzzerRp pemerintah, dalam pengamatan saya cukup efektif melawan buzzer oposisi yang bermodal cacimaki, hinaan, hoax & ujaran kebencian yang mereka sebut sebagai kritik," cuit @RustamIbrahim, Kamis (11/2/2021). 

Pendengung yang dituduh buzzeRp pemerintah, dinilainya juga mampu menghadapi para pengkritik pemerintah yang tidak berbasis data atau menyampaikan opini bohong. 

"Juga dalam menghadapi kritik-kritik tidak berbasis fakta. Sekedar opini bohong, halusinasi atau delusi," kata Rustam. 

Lebih lanjut, Rustam berpendapat, yang dituduh buzzeRp tidak akan efektif mempengaruhi opini publik jika para oposan menyampaikan kritik berbasis data, bukan opini palsu, cacimaki, hinaan atau ujaran kebencian. 

"Yang dituduh sebagai buzzerRp pemerintah, menurut saya tidak akan efektif mempengaruhi opini publik di medsos, jika para oposan mengkritik pemerintah berbasis fakta. Bukan sekedar kata cacimaki, hinaan, ujaran kebencian, opini berdasar berita palsu, halusinasi maupun delusi," jelas Rustam. 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Nazaruli