Netral English Netral Mandarin
banner paskah
10:10wib
Presiden Joko Widodo mengingatkan jajaran kepala daerah untuk berhati-hati menghadapi potensi pandemi Covid-19 gelombang kedua. Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengungkapkan pemerintah masih memiliki utang penugasan sebesar Rp1,27 triliun kepada perusahaan.
Ribut Vaksin, Andi Arief: Terserah yang Penting Ekonomi Tumbuh 7 Persen

Minggu, 18-April-2021 11:20

Politisi Partai Demokrat, Andi Arief
Foto : Istimewa
Politisi Partai Demokrat, Andi Arief
11

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Politisi Partai Demokrat, Andi Arief enggan menanggapi pro kontra penggunaan vaksin bagi masyarakat.

Menurutnya, terserah mau vaksin apa yang digunakan, yang terpenting ekonomi tumbuh, dan pembangunan terus berjalan 

"Terserah mau ribut gunakan Sinovac, Astrazeneca atau vaksin Nusantara, yang penting ekonomi tumbuh 7 persen dan pembangunan ibu kota baru jalan terus. Itu titah Raja," kata Andi dalam akun Twitternya.

Sebelumnya, Vaksin Nusantara kembali menuai pro-kontra di masyarakat. Terbaru, beberapa anggota DPR RI dan politisi beramai-ramai mencoba Vaksin Nusantara besutan Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto di RSPAD Gatot Soebroto, Rabu (14/4/2021).

Padahal, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) belum memberikan rekomendasi kepada peneliti Vaksin Nusantara untuk melakukan uji klinis lanjutan. Ahli Biologi Molekuler Ahmad Rusdan Utomo angkat bicara terkait perdebatan Vaksin Nusantara, khususnya di media sosial.

Dia mendapat informasi bahwa banyak pihak menyatakan dukungan terhadap Vaksin Nusantara dan menyayangkan keributan yang terjadi karena seharusnya semua komponen bangsa mendukung produk inovasi anak bangsa.

@PakAhmadUtomo, dia menjabarkan permasalahan yang terjadi dalam uji klinis Vaksin Nusantara, termasuk soal alasan pemerintah mempersulit inovasi karya anak bangsa.

"Pertama, bukan inovasi anak bangsa. Inovasinya berasal dari Amerika oleh peneliti Amerika dari perusahaan biotek komersil di Amerika. Tim Dr Terawan tidak menceritakan keutuhan teknologi ini dan cenderung menamainya ‘nusantara’ yang sebenarnya tidak akurat," tulisnya seperti dikutip dari akun @PakAhmadUtomo, Kamis (15/4/2021).

Reporter : Wahyu Praditya P
Editor : Sesmawati