Netral English Netral Mandarin
banner paskah
02:17wib
Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya akan menggunakan 17 titik periksa yang sebelumnya disiapkan untuk pengamanan mudik sebagai pos pemeriksaan Surat Izin Keluar-Masuk. Dua hari ke depan diperkirakan akan terjadi lonjakan masyarakat yang nekat mudik Idulfitri 2021.
Rhoma Irama dan Sederet Artis Pejuang Hak Royalti di Indonesia

Sabtu, 17-April-2021 15:50

Rhoma Irama
Foto : Instagram rhoma_official
Rhoma Irama
4

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Pengadilan Negeri (PN) Surabaya menolak gugatan pedangdut Rhoma Irama sebesar Rp1 miliar melawan PT Sandi Record. Pengadilan menyebut Rhoma telah mendapat bayaran Rp500 juta oleh tergugat atas royalti lagunya tersebut sesuai Undang-undang dan perjanjian. 

Kasus royalti lagu para musisi di Indonesia sudah terjadi sejak lama. Sudah bukan menjadi isapan jempol bila kesejahteraan musisi di Indonesia terbilang cukup buruk. Para musisi mengeluarkan karya gemilang yang bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat, namun di masa tuanya, mereka seolah-olah terlupakan.

Banyak dari musisi ternama Indonesia yang di akhir hayatnya harus hidup susah, bahkan tak bisa membiayai pengobatannya sendiri. Padahal, karya mereka masih sering diputar hingga saat ini. 

Para musisi tak merasakan royalti lewat pemutaran karya-karya mereka. Oleh karena itu, beberapa musisi Indonesia berusaha memperjuangkan hak royalti untuk seluruh penyanyi Indonesia. Berikut lima musisi Indonesia yang getol memperjuangkan hak royalti seperti dilansir dari berbagai sumber:

1. Rhoma Irama

Sebelum bersengketa di PN Surabaya melawan Sandi Record, Rhoma Irama bersama dengan Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia (PAMMI) sudah bergerak untuk memperjuangkan hak moral para penyanyi dangdut Indonesia, terutama dalam segi hak cipta.

Menurut Rhoma, hak moral yang ingin diperjuangkannya adalah lembaga penyiaran dilarang untuk memodifikasi, memutilasi, atau bahkan mendistorsi karya seseorang tanpa izin dari sang penciptanya.

Oleh karena itu, Rhoma meminta agar para pencipta lagu harus paham terlebih dahulu mengenai hak-hak yang seharusnya mereka dapatkan sebagai seorang musisi. Hak moral tersebut harus mencantumkan nama pencipta, misalnya pada media penyiaran.

Hal itu harus dilakukan agar jika ada seseorang yang hendak melakukan pembajakan terhadap karya seni baik secara fisik atau IT, maka bisa dilaporkan ke pihak komisioner untuk ditindaklanjuti perkaranya.

2. Glenn Fredly

Glenn Fredly menjadi salah satu penyanyi yang selalu kritis untuk memperjuangkan hak-hak bagi seluruh musisi di Indonesia. Musisi yang menghembuskan nafas pada 2020 itu bahkan menjadi salah satu penggagas diselenggarakannya Konferensi Musik pertama di Indonesia, yang digelar pada 7-9 Maret 2018 di Ambon, Maluku.

Selain berjuang untuk memajukan industri musik Tanah Air, Glenn juga berharap jika kesejahteraan para pelaku musik terpenuhi dengan dibayarkannya royalti atas tiap karya yang diputar dimana pun.

Menurut Glenn, royalti yang selama ini didapatkan musisi terkait hasil karyanya, masih belum transparan.

"Kayak televisi yang menggunakan musik kita, belum tentu mereka bayar ke kita. Mungkin mereka mau bayar, tapi kanalnya meragukan. Jadi mau kasih ke mana?" ungkap Glenn, beberapa waktu lalu.

Bersama dengan sahabatnya, Tompi, pelantun lagu 'Januari' tersebut sempat mengutarakan keresahan mereka yang mewakili para musisi se-Tanah Air ke hadapan Ari Juliano Gema, perwakilan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Saat itu, Ari menjelaskan bahwa Bekraf tengah bekerja keras untuk mengoleksi data hasil karya para musisi.

"Ketika membicarakan pembajakan yang kalau dibasmi hari ini lalu besok muncul lagi. Pemerintah sedang mencari cara lain terkait Undang-Undang HKI untuk memikirkan cara memperoleh data secara transparan dan profesional. Tujuannya, agar musisi dapat keuntungan yang maksimal," jelas Ari, dalam kesempatan yang sama.

3. Anang Hermansyah

Anang Hermansyah memperjuangkan nasib musisi di Indonesia dengan cara maju menjadi anggota Dewan. Ia pernah duduk di Komisi X DPR 2014-2019, yang membidangi masalah pendidikan, kebudayaan, pariwisata, ekonomi kreatif, pemuda, olahraga, dan perpustakaan.

Soal industri kreatif, terutama musik, suami dari Ashanty ini bersuara cukup lantang di DPR, apalagi ketika membahas soal pembajakan. Ia bahkan pernah menemui Kapolri Jenderal Tito Karnavian pada 18 Oktober 2016 untuk membahas soal pembajakan karya seni dan hak cipta.

Kala itu, Anang hadir bersama Abdee Negara dan juga para pengurus Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASRI) di Mabes Polri Jakarta. Bagi Anang, Kapolri juga perlu berkomitmen untuk memberantas pembajakan fisik dan digital serta menegakkan Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI). Oleh karena itu, Anang masih berjuang untuk menggolkan UU Musik.

Kegelisahan-kegelisahan yang Anang sampaikan di DPR dianggapnya sebagai bagian dari perjuangannya di industri musik. Bahkan, sejak sebelum ia menjadi anggota DPR,

"Aku banyak belajar dari Candra Darusman, diskusi dengan beliau royalti itu bagaimana. Bahwa seniman itu punya masa depan yang cerah di penduduk yang punya 250 juta ini. Bahwa itulah bagian dari pemerintah dan DPR untuk merumuskan tata kelola yang mumpuni bahwa tulang punggung baru adalah creative industry," jelas Anang seperti dilansir dari kumparan beberapa waktu lalu.

"Aku berjuang mendorong mati-matian kenapa industri musik hari ini kita enggak bisa naik, karena pembajakan luar biasa, penghargaan terhadap hak cipta minim. Aku tanya pemerintah data seniman enggak ada data, aku kritisi untuk segera dilakukan. Pengalamanku di musik, kalau industri ini bisa steady dengan ekosistem yang bagus, ini pasar besar," lanjutnya.

4. Sam Bimbo

Raden Muhammad Samsudin Dajat Hardjakusumah atau yang kerap disapa Sam Bimbo, memulai kariernya di industri hiburan sejak tahun 1970. Namanya melejit bersama dengan band Bimbo yang pernah berjaya di sepanjang tahun 1960 hingga 1990-an.

Untuk memperingati perjalanan karier di dunia tarik suara, Sam bersama dengan personel Bimbo lainnya menggelar konser 50 tahun Bimbo pada 2017 lalu.

Selain untuk mengenang eksistensi mereka, konser tersebut juga terwujud karena terdorong oleh motivasi untuk memperjuangkan hak-hak moral para seniman musik Indonesia yang kini nasibnya sangat memprihatinkan karena kerap tak mendapatkan royalti atas karya-karyanya.

Sam mengatakan bahwa selama ini tidak sedikit musisi Indonesia yang meskipun populer di TV, namun di kehidupan asli, ternyata mereka tak memiliki banyak uang.

Melihat fenomena tersebut, akhirnya Sam bersama Raja Dangdut Rhoma Irama memimpin performing rights di Lembaga Manajemen Kolektif Nasional. Sam berujar bahwa dirinya sudah membagi tugas untuk memperjuangkan permasalahan yang dialami oleh musisi Indonesia. Rhoma yang mengurus soal hak cipta, sedangkan Sam mengurus hak penyanyi, pemusik, dan label.

Sam menjelaskan bahwa selama ini sistem royalti yang diberikan kepada para musisi masih berupa paket. Namun, mereka mengupayakan harga yang diberikan harus berdasarkan lagu yang dimainkan. Sehingga, penyanyi yang sudah pensiun bisa mendapatkan nilai rupiah sesuai dengan karya mereka yang kembali diputar.

 

Reporter : Dimas Elfarisi
Editor : Irawan HP