Netral English Netral Mandarin
banner paskah
05:53wib
Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Inspektur Jenderal Istiono bakal memberi sanksi dua kali lipat kepada personelnya yang kedapatan meloloskan pemudik pada 6-17 Mei 2021 mendatang. Presiden Joko Widodo meminta semua anggota Kabinet Indonesia Maju dan pimpinan lembaga tinggi negara untuk tidak mengadakan acara buka puasa bersama di tengah pandemi virus corona (Covid-19).
Refly Harun: Kalau Saya Bilang Pejabat Itu Bodoh dan Memang Bodoh, Masuk Kategori Apa? 

Selasa, 16-Februari-2021 19:08

Ahli Hukum Tata Negara Refly Harun (RH)
Foto : Solopos
Ahli Hukum Tata Negara Refly Harun (RH)
18

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun di akun Twitternya melempar pertanyaan ke warganet (netizen) apakah kalimatnya masuk dalam kategori kritik, fitnah, hinaan, ujaran kebencian, atau berita bohong (hoaks). 

"Kalau saya bilang pejabat A pintar, padahal bodoh. Ini kategorinya apa: kritik, fitnah, ujaran kebencian, atau berita bohong?" tanya @ReflyHZ, Selasa (16/2/2021). 

Refly Harun pun kembali mengajukan pertanyaan serupa, katanya jika dia menyebut 'pejabat bodoh dan memang bodoh' maka itu masuk dalam kategori kritik, fitnah, hinaan, ujaran kebencian, atau berita bohong. 

"Kalau saya bilang pejabat itu bodoh dan memang bodoh. Apakah ini kategorinya: kritik, fitnah, hinaan, ujaran kebencian, atau berita bohong?," cuit eks Komisaris Utama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I (Persero) itu. 

Pertanyaan Refly Harun mendapat jawaban beragam dari netizen. Ada yang berpendapat bahwa pernyataan itu merupakan penghinaan, namun netizen lainnya menilai sebagai kritik. 

Berikut beberapa komentar netizen, seperti dilihat netralnews.com di akun Twitter @ReflyHZ.

"Lho Prof, kalau sampean bilang pejabat bodoh ya penghinaan lah. Kalau sampean bilang kebijakan A kurang tepat atau justru bilang salah karena bla bla bla dengan argumen dan data yang jelas disertai saran yang menurut sampean tepat itu baru kritik dan saran. Itu baru kritik membangun," kata @RahardianRasya.

"Objeknya tidak jelas. 'itu', merujuk kepada siapa. Pejabat secara individu atau pejabat secara umum?. Kedua setiap predikat yang disematkan tak memiliki argumentasi. Bodoh ukurannya apa? Menurut pendapat siapa ukuran itu? Bagaimana cara mengukurnya?" jawab @PenyairTypo.

"Jika itu ditujukan ke pejabat, sebagai koreksi bung. Karena jika dikategorikan fitnah, hinaan dan ujaran kebencian serta berita bohong. Unsurnya tipis amat...ha," tulis @SugiyantoTtk.

"Kalau menurut saya itu namanya kritik, karena memang faktanya bodoh.. Yang menjadi pertanyaan saya selanjutnya mengapa orang bodoh bisa jadi pejabat??" komentar @RFun60275494.

"Kalau diucapkan saat terjaga maka nilainya hinaan dan ujaran kebencian, dan siap-siap ada yang melaporkan ke polisi. Kalau diucapkan saat tidur (mimpi), siap-siap juga ada yang lapor polisi... (emoji tertawa)," kata @Hakeem_bahaf. 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Nazaruli