Netral English Netral Mandarin
banner paskah
04:40wib
KontraS menyatakan selama 100 hari kepemimpinan Jenderal Listyo, kondisi penegakan hukum dan HAM yang dilakukan oleh kepolisian tak kunjung membaik. Pemerintah Nepal tengah kelabakan karena jumlah kasus infeksi virus corona di negara itu melonjak 57 kali lipat, akibat penyebaran virus jenis mutasi dari India.
Ratapan Pilu! Mengapa KKB Bakar Sekolahan di Papua?

Selasa, 13-April-2021 11:05

Ilustrasi Pembakaran Sekolah di Papua
Foto : Pikiran Rakyat
Ilustrasi Pembakaran Sekolah di Papua
7

JAYAPURA, NETRALNEWS.COM - Sungguh disayangkan aksi barbar yang dilakukan gerombolan KKB di Papua. Sekolah dibakar menyisakan ratapan pilu bagi anak-anak Papua.

Kepala Dinas Pendidikan, Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Papua Christian Sohilait menyebutkan total kerugian atas pembakaran sekolah di Kampung Julukoma, Distrik Beoga, Kabupaten Puncak setelah kejadian penembakan menewaskan dua orang guru oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) mencapai Rp7,2 miliar.

Christian Sohilait di Jayapura, Selasa, mengatakan sejak Kamis (8/4) KKB sudah dua kali melakukan pembakaran fasilitas sekolah dengan total ruangan yang dibakar mencapai 12 unit.

"Pembakaran pertama dilakukan pada Kamis (7/4) sore yang menyebabkan tiga ruang SMA Negeri I Beoga hangus terbakar," katanya.

Menurut Christian, pembakaran kedua dilakukan pada Minggu (11/4) malam yang menyebabkan sembilan ruangan di SMP Negeri I Beoga juga terbakar.

"Dari sisi ekonomi, pembakaran 12 ruang sekolah tersebut telah menyebabkan kerugian dalam jumlah besar," ujarnya.

Dia menjelaskan untuk membangun satu ruang belajar mengajar di wilayah pegunungan membutuhkan biaya Rp600 juta, di mana ruangannya terbuat dari kayu, sehingga 12 ruang yang dibakar berarti kerugiannya sudah Rp7,2 miliar.

"Kami bingung mengapa KKB melakukan aksi pembakaran tersebut, pasalnya, aksi tersebut bisa berakibat fatal karena anak-anak di Beoga, yang kawasan pedalaman, tidak dapat mengenyam pendidikan dengan baik," katanya lagi.

Dia menambahkan di wilayah pegunungan yang menjadi masalah utama bukan biaya, tetapi tingkat kesulitan untuk memobilisasi bahan bangunan yang jauh lebih sulit karena semuanya harus diangkut menggunakan pesawat terbang.

"Kami berharap aparat keamanan bisa segera menindak para pelaku pembunuhan dua orang guru dan juga pelaku pembakaran fasilitas sekolah di Beoga," kata dia dilansir Antara.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto