Netral English Netral Mandarin
banner paskah
06:38wib
Pemerintah kembali memperpanjang pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro. Kebijakan ini diperpanjang selama 14 hari, terhitung sejak 20 April. Komite Eksekutif UEFA meresmikan format baru untuk kompetisi Liga Champions yang akan mulai digunakan pada musim 2024/2025.
Geger Bau Busuk Masa Lalu Dikuak, Putra SBY Dikabarkan Ikut Korupsi Hambalang, Netizen: Edisi Cokot Mencokot Dimulai

Kamis, 25-Maret-2021 21:07

Keluarga Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Foto : Liputan6.com
Keluarga Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
9

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Partai Demokrat kubu Moeldoko mengorek-ngorek luka lama alias bau busuk masa lalu tentang praktik korupsi  yang dahulu terjadi di masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. yakni kasus korupsi Wisma Atlet Hambalang. Hal itu disampaikan saat mereka menggelar konferensi pers di Hambalang, Bogor, Jawa Barat.

Sontak warganet riuh rendah menanggapi berita tersebut. Di akun FB Mak Lambe Turah, Kamis (25/3/21) sejumlah netizen berkomentar bahwa antar kubu tampaknya saling :menggigit".

MLT: “Edisi cokot mencokot dimulai, Mak bagian ngeser aja.”

Ay Yun: “jabatan terancam bakal ada yg buka bukaan aib. udah biasa itu.”

Elizabeth Mamik: “Gigit menggigit ya Maak...”

Luhut Tobing: “Logika sederhana sj..yg bukan keluarga inti sj terpidana Tipikor..bagaimana dgn keluarga inti?”

Sebelumnya diberitakan, dalam satu konferensi, kubu Moeldoko meminta  agar KPK bergerak menindaklanjuti adanya pihak yang ikut menikmati korupsi Hambalang, namun belum juga tersentuh hukum. 

Senior Partai Demokrat Max Sopacua lantas menyebut nama anak sulung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) diduga terlibat dalam kasus korupsi di Wisma Atlet Hambalang. Dia adalah Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas).

Pernyataan itu disampaikan usai mendapatkan pertanyaan dari awak media. “Tidak disebutkan di media di mana starting point-nya. Bagiannya tidak terlepas, kalau kita menyampaikan, Pak Anas dapat berapa, Ibas dapat berapa, dan yang lain-lain dapat berapa, itu panjang nantinya.”

“Pak Anas masih menjalani proses hukum yang dibuat oleh Pemerintah, yang kita pertanyakan yang lain, yang tidak disentuh hukum, itu persoalannya,” kata Max dikutip live di Kompas TV, Kamis 25 Maret 2021.

Kata Max, alasan pihak Demokrat kubu Moeldoko agar publik memahami bahwa kepemimpinan Demokrat di bawah SBY yang dilanjutkan anaknya, juga terlibat dalam kasus korupsi ini.

“Mas Ibas sendiri belum (tersentuh). Mas Ibas disebutkan oleh saksi berapa banyak oleh para saksi. Kan belum. Yang masuk penjara kita tahu siapa-siapa makanya kita kembali ke Hambalang,” katanya.

Pernyataan itu sendiri disampaikan Max agar ke depan, Demokrat di bawah kepemimpinan Moeldoko dapat menatap masa depan yang lebih cerah, tanpa memakai baju yang kotor akibat kasus korupsi. Beban itu dikatakan bakal sirna jika KPK mau bergerak memproses pelaku yang belum tersentuh hukum itu.

Bau busuk akan tercium juga

Keterangan soal korupsi di Hambalang kemudian dilanjutkan oleh Darmizal, salah seorang inisiator KLB Partai Demokrat.

Menurut Darmizal, pihaknya sengaja menjadikan Hambalang sebagai tempat konferensi pers karena memang ingin mengungkap secara utuh siapa saja yang terlibat dalam korupsi proyek Hambalang beberapa tahun lalu yang menyeret sejumlah elite politikus Partai Demokrat.

“Karena kami ingin bahwa satu ketika kalau kepala ikan itu disimpan di mana pun, pasti busuknya akan terungkap, lebih baik kita ungkap di awal-awal, mumpung ada kesempatan untuk memperbaiki, daripada nanti busuk-busuk sudah menyebar ke mana-mana,” kata Darmizal.

Ia mengatakan jika kasus korupsi proyek Hambalang tidak terjadi, saat ini Partai Demokrat masih berjaya dan masih berada di puncak elektabilitas bersama Anas Urbaningrum, eks Ketua Umum Partai Demokrat yang dilengserkan karena tersangkut korupsi proyek Hambalang.

“Peristiwa Hambalang ini menjadi catatan sejarah yang harus kita ungkap. Siapa yang bermasalah?” kata Darmizal dinukil hops.id.

Seperti diketahui, kasus korupsi proyek Hambalang telah menyeret sejumlah politikus Partai Demokrat ke penjara antara lain mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng. Lalu, mantan anggota DPR dari Partai Demokrat Angelina Sondakh, serta mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto