Netral English Netral Mandarin
banner paskah
08:16wib
Pemerintah melalui Kementerian Agama memutuskan awal puasa atau 1 Ramadan 1442 Hijriah di Indonesia jatuh pada Selasa (13/4/2021). Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) setuju penggabungan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
Penembakan Laskar Disebut Langgar HAM, TZ Sarankan Kapolri Bentuk Gugus Tugas Khusus Ungkap Kasus Ini

Sabtu, 09-January-2021 22:15

Mantan Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia MUI, Tengku Zulkarnain
Foto : Istimewa
Mantan Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia MUI, Tengku Zulkarnain
13

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Tokoh oposisi Tengku Zulkarnain meminta Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) untuk membentuk gugus tugas khusus untuk mengungkap secara transparan terhadap kasus pelanggaran HAM yang dilakukan jajarannya dalam kasus tewasnya enam laskar Front Pembela Islam.

Menurut Tengku Zul, gugus tugas yang dibentuk Kapolri nanti seharusnya bisa mengungkap kasus ini, sekaligus ia juga ingin agar identitas pelakunya dibuka ke publik.

“Kapolri bentuk gugus tugas khusus lanjutkan rekumendasi Komnas HAM utk ungkap ditembaknya 4 orang Lasykar.

Ungkap secara transparan adalah janji Kapolri.

Publik ingin tahun identitas pembunuhnya pak...

Siapa siapa...?

Ditunggu segera...” tulis Tengku Zul di akun Twitternya, Sabtu (9/1/2021).

Sebelumnya, Polri masih menunggu surat dari Komnas HAM yang baru saja mengumumkan hasil penyelidikan atas peristiwa bentrok antara polisi dan laskar Front Pembela Islam ( FPI).

“Polri menghargai hasil investigasi dan rekomendasi dari Komnas HAM. Kedua, Polri masih menunggu surat resmi,” kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono di Gedung Bareskrim, Jakarta Selatan, Jumat (8/1/2021).

Apabila sudah menerima surat, polisi bakal mempelajari temuan serta rekomendasi Komnas HAM. Argo pun tidak berkomentar banyak. Ia menegaskan pihaknya masih menunggu rekomendasi dari Komnas HAM. Ia kemudian mengklaim bahwa penyidikan yang dilakukan polisi atas suatu tindak pidana didasarkan keterangan saksi, barang bukti, dan petunjuk.

“Tentunya nanti semuanya harus dibuktikan di sidang pengadilan,” ucapnya. Dalam kasus ini, enam anggota laskar FPI tewas ditembak anggota Polda Metro Jaya setelah diduga menyerang polisi pada 7 Desember 2020 dini hari.

Komnas HAM membagi dua konteks peristiwa. Konteks pertama, dua laskar FPI tewas ketika bersitegang dengan aparat kepolisian dari Jalan Internasional Karawang Barat sampai Tol Jakarta-Cikampek KM 49.

Sedangkan, tewasnya empat laskar FPI lainnya disebut masuk pelanggaran HAM. Sebab, keempatnya tewas ketika sudah dalam penguasaan aparat kepolisian. Komnas HAM kemudian merekomendasikan penembakan empat anggota laskar FPI tersebut dilanjutkan ke pengadilan pidana.

Reporter : Dimas Elfarisi
Editor : Sesmawati