Netral English Netral Mandarin
banner paskah
05:50wib
Hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen masyarakat setuju sekolah dan rumah ibadah dibuka kembali meski masih di tengah kondisi pandemi corona. Data pengguna Facebook yang mencapai 533 juta, baru-baru ini dikabarkan telah dicuri hacker. Facebook menyatakan, tak akan memberi tahu data siapa saja yang telah dicuri.
Pasukan Nasi Bungkus Tak Lagi Bela 5 Anak Soeharto saat Digugat Perusahaan Singapura, DS: Sudah Dipreteli Jokowi

Kamis, 08-April-2021 06:56

Kolase anak-anak Soeharto dan Denny Soregar
Foto : FB/Denny Siregar
Kolase anak-anak Soeharto dan Denny Soregar
6

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Denny Siregar secara khusus memberikan tanggapan atas kasus gugatan terhadap kelima anak Soeharto oleh Perusahaan asal Singapura, Mitora Pte Ktd.

“Situasi yang pas secara waktu, karena sebuah perusahaan Singapura juga sedang menggugat keluarga Cendana untuk menyerahkan aset di TMII. Entah perusahaan beneran, atau sebuah cara saja mereka kuasai TMII dengan pakai tangan perusahaan asing seolah2 berpekara,” kata Denny Siregar.

“Ada yang ribut? Ada yang demo? Gak ada. Kenapa?” tanyanya. 

"Karena "kaki tangan" Cendana para pasukan nasi bungkus itu, sudah dipreteli duluan oleh pemerintah, sehingga mereka gak bisa bikin ribut lagi di jalanan," jawab Denny.

“Cara yang keren, pakde. Sebelum skak sang Raja, sikat dulu benteng, menteri sama kudanya. Rajanya sekarang terpojok, gak tau mesti harus bagaimana.. Seruput kopinya?” pungkasnya seperti dinukil NNC, Rabu Malam (7/4/21).

Berikut pernyataan lengkap Denny Siregar. 

TAMAN MINI CENDANA INDAH..

Tahun 1970, sesudah pulang berlibur dari Disneyland di Amerika, bu Tien Soeharto punya ide "brilian".

"Bagaimana kalau kita bikin model yang sama di Indonesia ?" Katanya.

Gak ada yang membantah bu Tien. Memang siapa yang berani membantah waktu itu ? Bisa hilang dia. Dan jaminan diberikan oleh Mendagri waktu itu Amir Machmud, "Percayalah bu Tien, semua aparat daerah akan saya kerahkan.." katanya dengan senyum mengembang.

Dan terwujudlah akhirnya Taman Mini Indonesia Indah di lahan 150 hektar di Jakarta Timur. Dananya gede banget, sekitar 5 trilyun lah dengan kurs sekarang. Dan publik marah, "Lha kita diperintah kencangkan ikat pinggang, kok enak sekali Soeharto buang2 uang ?"

Yah, namanya rezim Soeharto, dengan senyum misteriusnya, bilang, "Ah itu hanya perbedaan pendapat saja.." Tapi di lapangan, siapapun yang demo dihajar pake preman.

Lalu dibentuklah yayasan Harapan Kita untuk mengelola TMII itu. Yayasan itulah yang mengatur keluar masuknya uang yang - konon - tidak pernah disetor ke negara pendapatannya. Enak memang mereka. Taman

Mini dibangun pake uang negara, diatas tanah negara, eh keuntungannya masuk kantong pribadi. Mana hutang pajaknya miliaran rupiah lagi..

Masalah ini tidak pernah ada yang mengusik, siapapun Presidennya. Jangan tanya SBY, dia lagi asik dengan banyak proyek lainnya. Ibaratnya, sesama bus kota dilarang saling menyenggol.

Baru dimasa Jokowi lah, masalah aset2 negara yang dikuasai swasta ini di inventarisasi, kemudian dikembalikan ke negara lagi termasuk pengelolaannya. 

Sesudah 44 tahun yayasan Harapan Kita yang mengelola TMII, yang mulai dari Pembina sampe anggotanya itu adalah keluarga Cendana, diusir oleh negara. "Dalam waktu 3 bulan, serahkan TMII ke negara.." kata Mensesneg Pratikno.

Situasi yang pas secara waktu, karena sebuah perusahaan Singapura juga sedang menggugat keluarga Cendana untuk menyerahkan aset di TMII. Entah perusahaan beneran, atau sebuah cara saja mereka kuasai TMII dengan pakai tangan perusahaan asing seolah2 berpekara.

Ada yang ribut? Ada yang demo? Gak ada. Kenapa? 

Karena "kaki tangan" Cendana para pasukan nasi bungkus itu, sudah dipreteli duluan oleh pemerintah, sehingga mereka gak bisa bikin ribut lagi di jalanan. 

Cara yang keren, pakde. Sebelum skak sang Raja, sikat dulu benteng, menteri sama kudanya. Rajanya sekarang terpojok, gak tau mesti harus bagaimana..

Seruput kopinya ?
Denny Siregar

Gugatan Perusahaan Singapura

Perusahaan asal Singapura, Mitora Pte Ktd, menggugat 5 anak Presiden Soeharto senilai Rp 584 miliar ke PN Jaksel. Selain itu, Mitora meminta agar Museum Purna Bhakti Pertiwi yang berlokasi di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) disita dalam proses tersebut.

Hal itu tertuang dalam Sistem Informasi Penelusuran Perkara Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (SIPP PN Jaksel) seperti dikutip detikcom, Senin (29/3/2021). 

Perkara itu mengantongi nomor 244/Pdt.G/2021/PN JKT.SEL. Mitora menggugat:

1.Yayasan Purna Bhakti Pertiwi2.Ny Siti Hardianti Hastuti Rukmana3.Tn H. Bambang Trihatmojo4.Ny Siti Hediati Hariyadi5.Tn H Sigit Harjojudanto6.Ibu Siti Hutami Endang Adiningsih

Adapun turut tergugat ialah:

1.Soehardjo Soebardi2.Pengurus Museum Purna Bhakti Pertiwi3.Kantor Pertanahan Jakarta Pusat4.Kantor Pertanahan Jakarta Timur

Apa yang dituntut? Berikut ini petitum Mitora:

1.Menerima dan mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya;

2.Menyatakan bahwa para tergugat, telah melakukan Perbuatan Melawan Hukum;

3.Menyatakan sah dan berharga Sita Jaminan yang diletakan pada Sebidang Tanah dan Bangunan beserta dengan isinya:

-Sebidang Tanah seluas +/- 20 Ha (lebih kurang dua puluh hektare) dan bangunan yang berdiri di atasnya beserta dengan seluruh isinya yang ada dan melekat serta menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan yakni Museum Purna Bhakti Pertiwi dan Puri Jati Ayu, yang beralamat di Jl. Taman Mini No.1, Jakarta Timur;

-Sebidang Tanah berikut dengan Bangunan yang berdiri d iatasnya beserta dengan seluruh isinya yang ada dan melekat serta menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan yang terletak di Jalan Yusuf Adiwinata Nomor 14, Menteng, Jakarta Pusat.

4.Menghukum para tergugat secara tanggung renteng untuk membayar kewajiban Rp 84.000.000.000 serta kerugian immateriil sebesar Rp 500.000.000.000.

5.Menghukum para tergugat untuk melaksanakan Putusan ini.

Sidang pertama digelar pada 5 April 2021 di PN Jaksel Ruang Sidang 01.

Sebelumnya, Mitora pernah mengajukan gugatan serupa pada 4 Desember 2018. Para tergugatnya pun sama ditambah Siti Hutami Endang Adiningsih dan Yayasan Purna Bhakti Pertiwi.

Saat itu besarnya gugatan yang dilayangkan adalah sebesar Rp 1,1 triliun. Namun akhirnya gugatan itu dicabut per 15 April 2019. Penggugat saat itu diwajibkan membayar biaya perkara kepada Penggugat sebesar Rp 2.991.000. Namun tak dirinci apa akar masalah dan penyebab dicabutnya gugatan tersebut.

Lalu apakah itu Museum Purna Bhakti Pertiwi? Berdasarkan website resmi TMII, museum itu dibangun dari gagasan Ibu Tien Soeharto dalam upaya mengungkap rasa syukur dan penghargaan yang tinggi atas peran serta dan dukungan masyarakat Indonesia dan mancanegara, serta keinginan beliau agar koleksi barang-barang keluarga Soeharto, termasuk cendera mata yang diperoleh dari para sahabat dan kenalannya selama masa pengabdiannya kepada nusa dan bangsa dapat dinikmati oleh masyarakat luas.

Dibangun oleh Yayasan Purna Bhakti Pertiwi selama 5 tahun, yaitu dari 26 Desember 1987 sampai dengan 26 Desember 1992 di atas area seluas 19,73 hektare. Kemudian diresmikan pembukaannya pada 23 Agustus 1993.

Selain menggugat anak Cendana di PN Jaksel, Mitora menggugat Siti Hardianti Hastuti Rukmana, Sigit Harjojudanto dan Bambang Trihatmodjo ke PN Jakpus. Mitora menggugat Yayasan Harapan Kita dkk dengan nilai gugatan sebesar Rp 584 miliar.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto