Netral English Netral Mandarin
banner paskah
18:04wib
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem mulai Rabu (14/4) hingga Kamis (15/4). Cuaca ekstrem ini diakibatkan Siklon Tropis Surigae. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebut semua komponen utama yang digunakan dalam pengembangan Vaksin Nusantara diimpor dari Amerika Serikat.
Pandji Sebut Ormas FPI Disukai Rakyat, DS: Hati-hati Lho NU dan Muhammadiyah Bisa Tersinggung

Kamis, 21-January-2021 13:20

Komika Pandji Pragiwaksono.
Foto : Fajar
Komika Pandji Pragiwaksono.
4

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pegiat media sosial (medsos) Denny Siregar menanggapi pernyataan aktor dan komedian, Pandji Pragiwaksono yang menilai ormas FPI dekat dengan masyarakat kalangan bawah.

Dari chanel YouTubenya, Panji mengatakan, FPI terkenal dan disukai di masyarakat kalangan bawah ketika para elit dari ormas Islam besar, yakni Nahdaul Ulama (NU) dan Muhammadiyah jauh dari masyarakat.

Menanggapi hal itu Denny mempertanyakan dasar pemikiran Panji. Ia pun memperingatkan, pernyataan tersebut dapat membuat ormas NU dan Muhammadiyah tersinggung.

"Mas @pandji ini dasar pemikirannya darimana ? Apa cuma denger ceritanya orang FPI doang ?" kata Denny dalam akun Twitternya.

"Hati2 lho, @nahdlatululama dan @muhammadiyah bisa tersinggung dengar ucapan begini..," lanjutnya.

Sebelum Pandji menilai langkah pemerintah membubarkan organisasi FPI, bukan langkah yang tepat. Sebab akan muncul para simpatisan FPI ini dengan bentukan ormas yang berbeda.

Pandji mengatakan, di masyarakat ada banyak para simpatisan FPI. Terlebih lagi di kalangan bawah. Itu karena FPI selalu ada ketika masyarakat kalangan bawah meminta bantuan.

Menurut Pandji Pragiwaksono, pendapat itu dia dengar dari Sosiolog Thamrin Amal Tomagola ketika diwawancarainya di Har Rock FM Jakarta tahun 2012 silam

“FPI itu dekat dengan masyarakat. ini gue dengar dari Pak Thamrin Tomagola, dulu tahun 2012, kalau misalnya ada anak mau masuk di sebuah sekolah, kemudian ga bisa masuk, itu biasanya orang tuanya datangi FPI minta surat. Dibikinin surat ke FPI, dibawa ke sekolah, itu anak bisa masuk, terlepas dari isi surat itu menakutkan atau tidak, tapi nolong warga gitu,” ujar Pandji.

Pandji melanjutkan, FPI terkenal dan disukai di masyarakat kalangan bawah ketika para elit dari ormas Islam besar, yakni Nahdaul Ulama (NU) dan Muhammadiyah jauh dari masyarakat.

“FPI itu hadir gara-gara dua ormas besar Islam (NU dan Muhamamdiya) jauh dari rakyat.

Mereka elit-elit politik. Sementara FPI itu dekat. Kalau ada yang sakit, ada warga yang sakit mau berobat, ga punya duit, ke FPI, kadang-kadang FPI ngasih duit, kadang FPI ngasih surat. Suratnya dibawa ke dokter jadi diterima,” ungkap Pandji.

Pandji melanjutkan, menurut Tamrin Tomagola, pintu ulama-ulama dari kalangan FPI selalu terbuka untuk membantu masyarakat yang sedang kesusahan. Sementara NU dan Muhammadiyah, terlalu elitis, sehingga masyarakat enggan untuk mendekat.

“Kata Pak Tamrin Tomagola, pintu rumahnya ulama-ulama FPI kebuka untuk warga, jadi orang kalau mau datang bisa. Nah, yang NU dan Muhammadiyah yang terlalu tinggi dan elitis, warga tuh ngga kesitu, warga justru ke FPI. Makanya mereka pada pro FPI, karena FPI ada ketika mereka butuhkan,” ungkap pria 41 tahun ini.

Pandji bilang, bubarkan FPI bukan sebuah solusi yang tepat. Dia mengatakan, jika pemerintah tidak mau melihat FPI eksis, maka harus menyelesaikan masalah sosial lingkungan.

Diketahui pemerintah resmi membubarkan organisasi Front Pembela Islam (FPI) pada Rabu (30/12/2020) silam. Segala bentuk aktifitas FPI juga dilarang karena dianggap ilegal.

Reporter : Wahyu Praditya P
Editor : Sulha Handayani