Netral English Netral Mandarin
banner paskah
18:06wib
Isu reshuffle kabinet kian mengemuka pasca rencana penggabungan Kemenristek ke dalam Kemendikbud. Satgas Penanganan Covid-19 memastikan pengembangan vaksin Merah Putih tetap berjalan dan tidak terpengaruh peleburan Kemenristek dengan Kemendikbud.
PAN: Segera Cabut Laporan dan Labelisasi Radikal Terhadap Din Syamsuddin

Senin, 15-Februari-2021 08:00

Foto : Istimewa
7

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) DPR mengomentari langkah Gerakan Anti Radikalisme (GAR) Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) melaporkan Din Syamsudin ke Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) dengan tudingan radikal.

Ketua Fraksi PAN DPR Saleh Partaonan Daulay mengatakan, pihaknya sangat menyayangkan adanya tuduhan radikal terhadap Din, apalagi makna radikal itu sendiri sebetulnya belum dipahami secara utuh oleh mereka yang melabeli itu. Menurutnya, istilah radikal tidak selamanya buruk, namun ketika diaporkan ke KASN berarti makna radikal itu sendiri menjadi jelek dan buruk.

"Karena itu, kami tentu merasa bahwa tuduhan itu menyakiti salah seorang tokoh besar Indonesia yang selama ini dikenal sebagai orang yang memberikan keteduhan, dan membangun dialog lintas agama, lintas peradaban, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia internasional," kata Saleh dalam keterangan tertulisnya, Minggu (14/2/2021). 

"Setahu kami, Pak Din Syamsuddin itu selalu menggelar dialog interfaith, dialog antaragama, serta dialog antarperadaban. Dan beliau itu ikut di dalam organisasi-organisasi interfaith seperti itu bukan hanya di Indonesia, tetapi dunia internasional," sambungnya. 

Bahkan, lanjut Saleh, Din pernah juga bicara di PBB terkait dengan bagaimana Indonesia bisa membangun hubungan yang sangat harmonis, kemudian meningkatkan kohesivitas sosial yang didasarkan pada Pancasila dan UUD 1945. "Semua orang bisa mendengar ceramah beliau di PBB, itu ada di youtube, silakan saja, masih terekam dengan bagus," ujarnya. 

Secara pribadi, Saleh mengaku dirinya memiliki hubungan yang dekat dengan Din. Selain hubungan sebagai senior dan junior di Muhammadiyah dan Pemuda Muhammadiyah, Din juga merupakan dosennya di UIN Syarif Hidayatullah yang mengajarkan tentang pemikiran Islam kontemporer, sehingga ia paham betul pemikiran dan gerakan Din Syamsuddin. 

"Mata kuliah yang beliau ajarkan, mata kuliah yang saya ambil itu adalah mata kuliah yang saya kira sangat modern, terutama tentang pemikiran Islam kontemporer. Nah, pemikiran Islam kontemporer yang diajarkan itu di dalamnya ada toleransi, ada dialog, ada civil society dalam perspektif Islam, dst. Karena itu, saya paham betul bagaimana pemikiran dan gerakan Pak Din Syamsuddin," ungkapnya. 

Karenanya, Saleh menilai, apabila mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu menyampaikan kritik kepada pemerintah, maka hal tersebut harus dipastikan dalam konteks membangun Indonesia.

"Karena, tentu di dalam sistem demokrasi yang kita anut seperti ini harus ada juga kritik yang konteksnya membangun. Saya pastikan Pak Din Syamsuddin tidak ada niat sedikit pun berniat buruk, berniat jahat dan membenci dalam kritiknya itu," papar Saleh. 

"Hal itu harus dimaknai sebagai tugas beliau sebagai seorang profesor, tugas beliau sebagai tokoh umat, tokoh bangsa dan juga sebagai warga negara. "Presiden (Jokowi) kan juga sudah menyatakan enggak apa-apa kalau dikritik. Kenapa kok ada sekelompok kecil orang di ITB yang mengatakan seperti itu," terangnya.

Lebih jauh, Saleh mengatakan bahwa berdasarkan informasi yang dia kumpulkan, pihak yang melaporkan Din merupakan kelompok kecil yang mengatasnamakan ITB. Menurut dia, masih banyak pendukung Din di ITB, mulai dari alumni, mahasiswa, hingga dosen. Mereka, kata dia, masih menaruh rasa hormat dan simpati kepada tokoh Muhammadiyah itu.

"Oleh karena itu, saya mendorong agar pelaporan dan labelisasi radikal kepada Prof. Din Syamsuddin segera dicabut. Banyak orang yang tersinggung. Tidak hanya Pak Din, tetapi juga banyak kalangan dari berbagai latar belakang. Lebih baik kita fokus merajut kohesivitas dalam menangani pandemi ini. Kita hindari segala hal yang memancing kegaduhan," pungkas Anggota Komisi IX DPR itu. 

 

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Irawan HP