Netral English Netral Mandarin
banner paskah
15:26wib
Singapura akan melarang masuk orang yang dalam 14 hari belakangan memiliki riwayat perjalanan ke India, negara yang kini sedang dilanda gelombang kedua pandemi Covid-19. Pemerintah melalui Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 memutuskan untuk memperpanjang masa larangan mudik Hari Raya Idulfitri 1442 Hijriah.
Oli Pertamina Fastron Mampu Tingkatkan Efisiensi Penggunaan Bahan Bakar

Senin, 25-January-2021 08:15

Oli Fastron.
Foto : Istimewa
Oli Fastron.
4

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Oli Pertamina Fastron kerap jadi pertimbagan ketika membahas tentang kebutuhan perawatan mobil yang tentu tidak akan pernah ada habisnya. Pasalnya segala jenis perawatan layak dilakukan demi mobil kesayangan selalu dalam keadaan prima.

Tetapi untuk perawatan mobil rutin, satu hal yang tidak boleh terlupakan dan sangat penting pastinya adalah mengganti oli. Memilih jenis oli yang tepat menjadi salah satu aspek penting untuk menunjang kesehatan mesin mobil kamu.

Banyak kasus mesin harus mengalami kerusakan seperti keausan dinding silinder atau ring piston hanya karena kesalahan dalam memilih oli. Jika sudah demikian, maka mesin harus dibongkar dan kita harus siap keluar banyak biaya.

Memilih Oli yang Tempat untuk Mesin Mobil

Masalahnya, sebagian orang mungkin belum mengetahui tentang bagaimana cara memilih oli yang tepat untuk mesin. Untuk memilih oli yang tepat untuk mobil harus disesuaikan dengan spesifikasi dan teknologi mesin.

Untuk mesin-mesin mobil keluaran terbaru, menuntut oli yang lebih modern karena sudah menerapkan banyak teknologi maju seperti drive by wire, VTEC dan teknologi lainnya. Salah satu merk oli terbaik yang ada di Indonesia saat ini adalah oli Pertamina Fastron.

Oli Pertamina Fastron Irit Penggunaan Bahan Bakar

Oli asli bikinan dalam negeri ini dikenal mengadopsi teknologi NANO GUARD yang mampu melapisi setiap sudut mesin dengan optimal secara spontan pada saat mesin pertama kali dinyalakan. Selain itu pelumas ini juga diklaim mampu meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar dan direkomendasikan untuk pemakaian sampai dengan 10.000 km.

Nah, sebelum memilih oli Fastron yang cocok untuk mobil kamu, setidaknya ada tiga hal penting yang perlu kamu jadikan patokan dalam memilih oli mesin yang tepat. Apa saja?

Kenapa harus harga yang pertama? Sebab banyak orang yang mengeluhkan mahalnya sebuah oli mesin. Meski begitu, ada harga, ada kualitas.

Sehingga sebelum kamu memastikan membeli oli, bandingkan antara kualitas yang tertera beserta harganya. Soal pilihan jenisnya, itu tergantung dari jenis mesin kamu. Kamu perlu mempertimbangkan aspek teknologi dan rekomendasi oli pabrikan.

Sebisa mungkin, jangan langsung tergiur dengan harga murah yang ditawarkan oleh para pedagang. Pasalnya, bisa saja pelumas yang ditawarkan dengan harga jauh dibawah pasaran merupakan produk palsu. Itu sebabnya, kamu juga perlu memeriksa produk yang akan kamu beli terlebih dahulu dengan teliti.

Tidak berhenti sampai disitu, kamu juga perlu mengetahui tipe dan spesifikasi mobil dengan karakter oli yang hendak kamu pilih. Misalnya untuk mobil injeksi standar bisa memakai oli Fastron Techno. Sementara untuk mobil dengan teknologi lebih tinggi seperti Mercedes Benz, BMW, Porsche dan mobil mewah lainnya, kamu bisa menggunakan jenis Fastron Gold.

Sementara Fastron Platinum, sudah berasosiasi dengan Lamborghini Squadra Corsa. Dengan desain sebagai oli racing, maka oli-oli ini cocok untuk mobil sport.

2. Perhatikan tingkat kekentalan oli

Tips kedua yang perlu kamu tahu sebelum memilih oli mobil Fastron adalah memperhatikan tingkat kekentalan oli. Nah, tingkat kekentalan oli ini ditandai dengan SAE. SAE merupakan singkatan dari Society of Automotive Engineering yang merupakan badan penentu kekentalan oli mesin. Setiap oli pasti memiliki label SAE dengan kode 5W, 10W dan seterusnya.

SAE menunjukan seberapa kental oli mesin tersebut, semakin mendekati nol maka oli semakin encer, dan semakin tinggi angka SAE maka semakin kental pula olinya.

Kesalahan dalam memilih SAE ini bisa berakibat fatal pada komponen mesin. Sebab, jika kita pakai oli Pertamina Fastron yang lebih kental maka celah terkecil tidak mampu dilumasi sehingga memperbesar risiko keausan komponen. Oleh karena itu, kita harus jeli dalam memilih oli sesuai kebutuhan, di Indonesia yang beriklim tropis banyak menggunakan oli multigrade.

Oli multigrade adalah oli dengan SAE yang bervariasi biasanya akan dilabeli SAE 5W-30 artinya kekentalan oli bervariasi antara 5W hingga 30. Pastikan kamu memilih jenis oli multigrade ini karena kekentalan oli dapat menyesuaikan suhu atau iklim.

3. Ketahui kode API

API adalah singkatan dari American Petroleum Institute yang merujuk pada tingkat kualitas suatu produk minyak. Pada oli mesin, biasanya selain dilabeli kode SAE juga dilabeli kode API, kamu pasti akan menemui kode API SG, API SN atau API CG.

Kode pertama (S atau C) merupakan kode yang menunjukan bahwa oli tersebut dibuat untuk mesin apa, kode S untuk mesin bensin sementara kode C untuk diesel. Sementara huruf kedua (G atau N) menunjukan tingkat kualitas oli. Umumnya semakin bagus kualitas oli maka kodenya akan semakin jauh dari awal alfabet.

Dengan kata lain N lebih bagus dari G karena huruf N lebih jauh dari G. Jika nantinya ada kode lain setelah N misal R atau T maka itu akan semakin bagus.

Untuk mesin-mesin injeksi, pastikan kamu menggunakan oli dengan kode API SN karena didalamnya sudah terkandung zat aditif yang mampu mengurangi wear akibat gesekan pada mesin-mesin berteknologi tinggi. Oli SN juga biasanya sudah mengusung full synthetic, artinya 100 persen menggunakan bahan sintetis.

Kenali Kode yang Beraneka Macam Pada Oli

 Setiap jenis oli mesin biasanya memiliki kode yang beraneka macam pada botol atau bungkus merek olinya. Kode-kode tersebut tentu saja memiliki arti yang berbeda-beda, dan biasanya kode-kode tersebut menandakan spesifikasi dari oli tersebut.

Oleh karena itu, setiap pemilik kendaraan, baik roda empat atau roda dua, dianjurkan untuk memahami arti dari masing-masing kode yang ada pada oli tersebut.

Guna memudahkan Anda dalam memahami berbagai kode yang ada pada botol oli tersebut.

Standar Nasional Indonesia (SNI)

SNI menjadi kode wajib yang harus ada pada setiap botol oli yang beredar di Indonesia. Sebab, bila suatu oli tidak memiliki kode SNI, maka itu artinya oli tersebut seharusnya tidak boleh dipasarkan di Indonesia.

“Ini wajib ya, jadi kalau tidak ada bisa dilaporkan ke polisi. Karena bisa saja itu oli palsu,” jelas Nurudin, Jr. Technical Specialist Rotating Equipment and Gas Engine Pertamina Lubricants.

Selain itu, bila suatu oli tidak memiliki kode ini, maka kualitas dari oli tersebut tidak bisa dipertanggung jawabkan.

Society of Automotive Engineer (SAE)

Selanjutnya ada kode SAE, yang memiliki arti sebagai penanda kekentalan suatu oli. Setiap jenis mesin biasanya akan membutuhkan kekentalan oli yang berbeda-beda.

Di dalam kode SAE sendiri, Nurudin menjelaskan terdapat dua kategori pengkodean. Pertama ada monograde yang biasanya ditandai dengan kode 2 angka, seperti SAE 40, lalu kedua ada multigrade yang ditandai dengan kode 3 atau 4 angka, seperti SAE 5W-40, SAE 10W-40, SAE 15W-40 dan lain-lain.

“Untuk kendaraan penumpang di Indonesia, saat ini umumnya sudah menggunakan yang multigrade, karena jauh lebih baik saat mesin berada di temperatur dingin dan panas,” terang Nurudin.

Lebih lanjut Nurudin memaparkan, pada angka pertama yang terdapat pada oli multigrade seperti 15W-40, mengartikan tingkat kekentalan oli saat temperatur dingin. Sementara huruf W nya mengartikan winter atau temperatur dingin.

“Semakin kecil angka tersebut maka semakin encer tingkat kekentalan oli itu. Nah saat awal mesin dinyalakan, biasanya masih dalam kondisi temperatur dingin, otomatis dia akan membutuhkan oli yang lebih encer agar lebih cepat bekerja,”jelas Nurudin.

Sementara untuk dua angka belakang yang ada pada oli multigrade, menandakan tingkat kekentalan oli saat temperatur mesin panas. Semakin tinggi angka tersebut juga menandakan semakin kental oli tersebut.

Untuk kendaraan penumpang yang dipasarkan di Indonesia, seperti MPV, SUV, LCGC, hatchback atau city car, umumnya direkomendasikan untuk menggunakan spesifikasi kode oli belakang 30 atau 40. Ada beberapa juga yang merekomendasikan kode belakang 20.

“Kalau semakin tinggi kode belakangnya, maka oli akan semakin kental. Dan untuk mesin-mesin mobil biasa, dia akan lebih lama mengencernya, sehingga bila digunakkan pada mobil biasa akan membuat kerja mesin itu menjadi lebih berat,” beber Nurudin.

Lebih lanjut Nurudin memaparkan, pada angka pertama yang terdapat pada oli multigrade seperti 15W-40, mengartikan tingkat kekentalan oli saat temperatur dingin. Sementara huruf W nya mengartikan winter atau temperatur dingin.

“Semakin kecil angka tersebut maka semakin encer tingkat kekentalan oli itu. Nah saat awal mesin dinyalakan, biasanya masih dalam kondisi temperatur dingin, otomatis dia akan membutuhkan oli yang lebih encer agar lebih cepat bekerja,”jelas Nurudin.

Sementara untuk dua angka belakang yang ada pada oli multigrade, menandakan tingkat kekentalan oli saat temperatur mesin panas. Semakin tinggi angka tersebut juga menandakan semakin kental oli tersebut.

Untuk kendaraan penumpang yang dipasarkan di Indonesia, seperti MPV, SUV, LCGC, hatchback atau city car, umumnya direkomendasikan untuk menggunakan spesifikasi kode oli belakang 30 atau 40. Ada beberapa juga yang merekomendasikan kode belakang 20.

“Kalau semakin tinggi kode belakangnya, maka oli akan semakin kental. Dan untuk mesin-mesin mobil biasa, dia akan lebih lama mengencernya, sehingga bila digunakkan pada mobil biasa akan membuat kerja mesin itu menjadi lebih berat,” beber Nurudin.

Meski begitu, Nurudin tetap menyarankan agar menggunakan oli dengan kode SAE yang benar-benar sesuai dengan anjuran buku manual.

American Petroleum Institute (API)

Untuk kode ketiga ini, yaitu API menandakan suatu derajat performa oli saat diterapkan pada mesin kendaraan. Pengkodean dalam API sendiri dikatakan oleh Nurudin dibagi menjadi dua, yaitu untuk mesin bensin dan mesin diesel.

Pada kendaraan bermesin bensin biasanya ditandai dengan kode dua huruf yang diawali dengan huruf S (Spark). Sementara untuk kode huruf di belakang biasanya menandakan kualifikasi dari oli tersebut.

“Biasanya angka belakang ini diikuti dengan abjad A sampai yang terakhir saat ini N. Semakin besar abjad itu, maka kualifikasi olinya semakin bagus,” beber Nurudin.

Semakin bagus kualifikasi oli tersebut seperti SN, maka akan semakin jauh lebih baik dalam hal efisiensi bahan bakar, minim deposit kerak pada mesin, serta semakin lamanya penurunan kualitas oli tersebut.

Selanjutnya untuk mesin diesel, biasanya juga terdapat 2 angka, yang diawali dengan angka C. Sama seperti oli bensin, oli diesel juga diikuti dengan huruf abjad pada huruf keduanya.

“Diesel juga sama. Kualitas pelumas ditentukan dari kode huruf dibelakang huruf C. Semakin besar abjadnya, kualitasnya lebih bagus. Saat ini yang paling bagus adalah CK,” terang Nurudin.

Di pasaran terdapat dua jenis oli mesin untuk kendaraan, sintetik dan mineral. Keduanya pun sama-sama diolah dari hasil perut bumi. Fungsi oli sendiri adalah melumasi, membersihkan, dan mendinginkan bagian-bagian mesin. Namun jika salah pilih jenis oli bisa berdampak buruk pada kendaraan.

Oli sintetik umumnya dibuat dari gas bumi yang mengalami beberapa reaksi kimia bertahap menjadi rantai pendek yang diinginkan (monomer), lalu direaksikan kembali secara kimia dengan zat aditif sehingga menjadi liquid (olimerisasi).

Untuk Harian, Mesin Mobil Bagusnya Pakai Oli Sintetik atau Mineral?

Oli dengan spesifikasi SAE untuk mobil LCGC. Foto: Muhammad Ikbal/kumparan

Nah untuk jenis oli sintetik yang paling banyak digunakan untuk kendaraan terbuat dari bahan Poly Alpha Olefin (PAO). Pun demikian masih banyak jenis-jenis oil synthetic yang lain seperti Poly Alkylene Glycol (PAG), Phospate Ester, Polyol Ester (PO), Di-ester, Silicon, dan lain-lain, namun sangat sedikit sekali penggunaannya sebagai engine oil.

Sementara oli mineral diambil dari minyak bumi yang diproses dalam pemurnian lebih lanjut di Kilang Refinery, yakni diambil setelah proses distilasi yang kedua, yakni distilasi vacuum (Vacuum Distilation Unit).

 Dari proses ini kita mendapatkan raw material base oil dan diproses lebih lanjut untuk dihilangkan asphalt-nya, dihilangkan wax nya, dihilangkan beberapa zat pengganggu lainnya dan juga diperbaiki struktur rantai karbonnya.

 Setelah melalui proses panjang ini Mineral Base Oil sudah siap digunakan oleh perusahaan pelumas untuk di blending dengan additive tertentu menghasilkan lubricant atau  pelumas.

Namun tak jarang stigma konsumen terhadap oli sintetik lebih bagus ketimbang oli mineral. Bahkan mereka rela mengeluarkan kocek lebih dalam untuk membeli oli sintetik. Padahal, oli sintetik tak selamanya ramah untuk semua jenis kendaraan.

Nurudin, Jr. Technical Specialist Rotating Equipment and Gas Engine, PT Pertamina Lubricants mengatakan, pemilihan oli sintetik yang tak tepat pada kendaraan bisa menyebabkan kerusakan pada komponen elastomer.

"Untuk kendaraan dan kondisi di Indonesia seperti passenger car, LCGC, MPV, atau SUV saya sarankan pakai mineral saja. Oli sintetik didesain untuk temperatur yang lebih tinggi sangat direkomendasikan untuk mobil sport. Maka di titik seperti itu menjadi worth it menggunakan oli sintetik," kata Nurudin dilansir dari Kumparan.

Elastomer sendiri adalah sebuah zat karet yang digunakan untuk membuat seal seperti, o-ring, dan packing pada mesin. Menurutnya, tak semua kendaraan di Indonesia menggunakan elastomer dengan kualitas tinggi.

"Jenis poly alfa olefin di oli sintetik cenderung merusak seal tersebut,  Nah umumnya elastomer yang digunakan berjenis NBR. Ciri kerusakannya adalah seal tadi menjadi keras atau getas kemudian patah (Shrink). Ini akan membuat kebocoran oli," paparnya.

Secara praktiknya memang oli sintetik menawarkan durasi penggantian yang lebih lama dibandingkan oli mineral. Namun jika mengukur dari dampak yang dihasilkan, menurut Nurudin menggunakan oli mineral sudah sangat cukup.

"Kalau kita coba kuat-kuatkan 20 ribu km ya oli mineral gosong duluan. Tapi kan pemakaian normal itu ganti di 7500 km. Penggunaan oli sintetik yang tidak tepat justru merugikan. Sudah harganya mahal, ongkos servis yang lebih besar bila terjadi kebocoran," paparnya.

Saran Nurudin, jika ingin tetap menggunakan oli sintetik ada baiknya membaca terlebih dahulu rekomendasi dari pabrikan. Jika memang diwajibkan menggunakan oli sintetik, pilih yang terbuat dari Poly Alfa Olefin tadi.

"Jika kendaraan itu memang disarankan menggunakan oli sintetik. Pilih yang berbahan PAO atau bertuliskan full sintetik. Karena di pasaran juga banyak embel-embel semi sintetik yang padahal dari bahan mineral biasa ditambah aditif," ungkapnya.

PT Pertamina (Persero) melalui anak perusahaannya PT Pertamina Lubricants terus berkomitmen memenuhi setiap kebutuhan otomotif masyarakat Indonesia.

Pertamina Fastron Eco Green

Kamis (26/11), Pertamina Lubricants memberikan edukasi tentang produk pelumas synthetic terbaru “Pertamina Fastron Eco Green”. Pelumas ini khusus diformulasikan untuk kendaraan Low Cost Green Car (LCGC).

Sales Region Manager V PT Pertamina Lubricants, Syafa'at Jajuli ditemui di SPBU Pertamina COCO 51.801.30 Jalan Hayam Wuruk No. 142 Denpasar mengatakan,

Fastron Eco Green diformulasikan menggunakan aditif yang lebih unggul dalam menjaga kestabilan kekentalan sehingga lebih baik dalam melindungi mesin.

Formulasi baru yang dikembangkan untuk Fastron Eco Green juga lebih unggul dalam mencegah terjadinya deposit sisa pembakaran di dalam mesin.

Fastron Eco Green diformulasikan dengan Nano Guard teknologi, yakni teknologi pelumas sintetis untuk mesin bensin terbaru dan dirancang dengan cermat

untuk memenuhi persyaratan performa teratas yang terbukti efektif melindungi mesin dan membersihkannya secara menyeluruh hingga celah tersempit.

“Fastron Eco Green telah disesuaikan dengan kebutuhan mobil LCGC terbaru. Bahkan Fastron Eco Green dapat digunakan untuk mesin mobil LCGC yang dilengkapi turbo (non-direct injection) guna mendukung pengurangan emisi gas buang. Berbagai macam kelengkapan ini membuat jelas kelebihan kualitas Fastron Eco Green. Kami yakin dengan Fastron Eco Green, konsumen bisa merasakan berbagai keunggulan yang lebih. Lebih irit, lebih lancar, lebih awet, lebih bersih, berternaga, responsif dan pastinya lebih melindungi,” urainya.

Berbeda dengan pelumas Fastron Series lainnya, Fastron Eco Green hadir dengan ukuran 3,5 Liter dan 2 spesifikasi, yaitu 0W-20 API SN dan 5W-30 API SN ILSAC GF 5 sehingga pelumas ini cocok untuk mesin mobil LCGC seperti Toyota (Agya, Calya), Honda (Brio), Daihatsu (Ayla, Sigra), Datsun (Go), Suzuki (Ertiga) yang digunakaan untuk aktivitas sehari-hari.

Fastron Eco Green memiliki kualitas lebih dengan harga yang terjangkau dan berbahan baku sintetik yang telah didesain untuk perlindungan maksimal terhadap keausan mesin, konsumsi BBM, dan akselerasi optimal untuk aktivitas dalam kota.

Konsumen dan masyarakat Indonesia dapat dengan mudah mendapatkan Fastron Eco Green di General Outlet, bengkel Own-channel seperti Olimart dan, SPBU Pertamina.

 

Selain Fastron Eco Green, PT Pertamina Lubricants juga mengingatkan masyarakat untuk menggunakan produk oli berkualitas khusus kendaraan roda dua, yakni Pertamina Enduro.

“Bukan produk baru secara brand, tapi ini produk Enduro Racing lama dengan kemasan baru,” jelas Syafa'at Jajuli didampingi Ryan Alandra Sr. SE. Retail Balinusa.

 

 

Reporter : Widita Fembrian
Editor : Widita Fembrian