Netral English Netral Mandarin
05:50wib
Hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen masyarakat setuju sekolah dan rumah ibadah dibuka kembali meski masih di tengah kondisi pandemi corona. Data pengguna Facebook yang mencapai 533 juta, baru-baru ini dikabarkan telah dicuri hacker. Facebook menyatakan, tak akan memberi tahu data siapa saja yang telah dicuri.
Ngeyel Tetep Impor Beras Meski Ditolak Bulog dan DPR, TZ: Pak JKW Sekadar Marah? Andai Rp1000/kg Duitnya 1 Triliun lho...

Jumat, 19-Maret-2021 16:00

Tengku Zulkarnain
Foto : Repelita
Tengku Zulkarnain
16

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Di sosial media ramai gunjingkan keputusan Pemerintah RI ngeyel tetap lakukan impor beras meski ditolak oleh Bulog mengingat stoknya dianggap mencukupi. 

Persoalan ini juga menjadi sorotan tajam mantan Wasekjen MUI, Tengku Zulkarnain. Melalui akun Twitternya, Zul mempertanyakan apakah Presiden Jokowi hanya sekadar marah?

“Bulog mengatakan cadangan beras berlimpah. Kementan bilang stok 25 juta ton. DPR RI menolak impor satu juta ton beras. Kementan berkata tdk punya legal standing menolak impor. Pak @jokowi bagaimana? Apa sekedar marah saja? Andai impor untung Rp 1000/kg duitnya SATU TRILYUN lho...,” kata Zulkarnain, Jumat (19/3/21).

Sementara sebelumnya secara terpisah diberitakan, Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori menilai Bulog akan kesulitan menjual atau mengeluarkan stok beras yang tersedia di gudang Bulog bila pemerintah kembali mengimpor beras. Ditambah menurut Khudori, kualitas beras yang tersedia di gudang Bulog berpotensi rusak karena merupakan sisa impor pada 2018-2019.

“Ketika pada saat dikatakan bahwa impor-impor harus dilakukan sementara di gudang Bulog itu sudah potensial rusak, kalau tidak dikeluarkan. Sementara penyaluran outlet yang pasti tidak ada, ini kan perjudiannya semakin besar itu potensi untuk terjadi tidak terurus semakin besar. Itu saya kira kepentingannya ya itu pak Buwas teriak-teriak,” ujar Khudori dalam keterangannya, Kamis (18/3).

Khudori menjelaskan Bulog seperti kehilangan pasar setelah pemerintah pada 2017 mengubah kebijakan bantuan dalam bentuk beras yang bernama raskin dan rastra menjadi bantuan tunai.

“Dulu ketika masih ada raskin, ada rastra, outlet penyaluran yang pasti untuk beras Bulog kira-kira 2,8-3 juta ton per tahun. Saya kira penjelasannya kenapa Bulog itu menyerap beras produksi domestik dalam jumlah kecil, karena sepertinya tidak ingin berjudi karena beras dalam jumlah banyak, terus outlet penyalurannya itu semakin kecil bahkan tidak ada, itu kan dia harus bertarung dengan pelaku usaha yang lain termasuk merintis bisnis komersial itu ya, yang itu outlet-nya tidak pasti,” jelas Khudori.

Menurunnya kualitas beras milik Bulog yang sudah berusia lebih dari dua tahun tersebut, menurut Khudori menjadi kepentingan mendesak bagi Bulog untuk dikeluarkan dari gudang. Sementara di sisi lain, Bulog selaku pelaksana tetap harus menjalankan instruksi jika pemerintah memutuskan impor.“Ketika ini turun mutu, mau diapain. Jadi kepentingan mendesak bagi Bulog, termasuk Pak Buwas yang teriak-teriak itu adalah menyelesaikan persoalan dingin. Ketika pada saat yang sama mereka diwajibkan, sebagai operator kan mau tidak mau ya harus jalan lah,” ujarnya.

Anggota Kelompok Kerja (Pokja) Dewan Ketahanan Pangan ini menambahkan hingga saat ini izin impor belum dikeluarkan oleh Pemerintah. Menurutnya, idealnya waktu impor dilakukan pada Agustus-September setelah musim panen raya.

“Sekarang belum dilakukan karena memang izin impornya belum dikeluarkan, termasuk perkiraan waktunya kapan masuk. Kenapa impor itu keputusannya bisa dibuat di Agustus atau September karena pada saat itu kita akan tahu kira-kira produksi kita bagus atau tidak, cukup atau tidak. Padi itu ada 3 siklus, siklus pertama itu panen raya. Panen raya itu terjadi antara Februari sampai Mei,” kata Khudori dinukil Kontan.co.id.

Sebelumnya Direktur Utama Bulog, Budi Waseso menyebut di Gudang Perum Bulog masih tersimpan ratusan ribu ton beras impor yang belum terserap pasar. Stok beras tersebut banyak yang rusak dan cadangan beras pemerintah di Gudang Bulog masih ada lebih dari 300 ribu ton yang kualitasnya sudah mulai menurun.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto