Netral English Netral Mandarin
banner paskah
13:48wib
Pemerintah melalui Kementerian Agama memutuskan awal puasa atau 1 Ramadan 1442 Hijriah di Indonesia jatuh pada Selasa (13/4/2021). Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) setuju penggabungan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
Ngeri! Bukan Ratu Kidul, Ini Penampakan Hantu di Pesisir Selatan Purworejo

Rabu, 13-January-2021 13:39

Ilustrasi Penampakan Penunggu Pesisir Selatan Purworejo
Foto : Netralnews
Ilustrasi Penampakan Penunggu Pesisir Selatan Purworejo
30

PURWOREJO, NETRALNEWS.COM – Suara gelombang air laut Pantai Selatan kota Purworejo, Jawa Tengah menderu bak suara gledek di laut lepas.

Laut mengamuk. Pusaran air kelojotan ke kanan dan ke kiri. Laksana amarah menggelora tiada akhir. Gempuran pertama membentur pantai pasir, datang lagi gelombang kedua, dan seterusnya.

Di langit tampak sinar rembulan menjelang purnama. Dua orang pengarung malam masih setia menunggu joran pancing laut seolah tak tak takut hadapi gelombang air laut yang sedang pasang.

“Malam itu gelombang mencapai sekitar 2,5 meter. Tanggal 13 bulan Jawa, jadi bulan bersinar terang. Kalau malam puncak purnama, saya tak berani memancing. Gelombang pasang bisa mencapai lebih dari 4 meter,” kata Maman (54) kepada Netralnews, Sabtu (2/1/21).

Baca Juga :

Saat ombak tinggi, jangan coba-coba mengais rejeki di Pantai Selatan. Nekat berarti mengundang maut. Sebab, sudah berulangkali terjadi nelayan hilang di tengah laut saat gelombang tinggi mendera selatan Purworejo.

Maman dan rekannya adalah engler yang rutin mengharap berkah ikan kakap putih yang biasa disebut “gatho” di daerah Purworejo. Rasanya yang sangat gurih membuat ikan jenis ini diincar banyak orang.

“Ikan gatho saat terang bulan suka makan umpan. Kalau pas musim bisa besar di atas satu kilo per ekor,” kata Maman yang malam itu baru memperoleh dua ekor seukuran 0,5 kg per ekor.

Sementara temannya baru memperoleh dua ekor “luthok” sejenis patin laut. Ukurannya cukup besar. Perekor bisa mencapai sekitar 1 kg.

“Kalau tidak gemar mancing malam di pasiran pantai selatan Purworejo, pasti ngeri, Mas,” kata Maman.

Menurut pengalamannya, di pesisir selatan Jawa ini banyak hal mistis pernah ia alami.

Padahal, menghadapi gemuruh laut di malam gelap saja sudah mengerikan, apalagi jika ada penampakan misteri. Pasti lebih mengerikan.

“Yang terpenting harus fokus. Pernah terjadi, pemancing sudah lelah dan mengantuk. Saat melempar kail, kan mendekat laut. Karena tidak fokus dan salah lihat, ia mendekat gelombang tinggi dan tergulung. Pernah itu satu orang hilang tak ditemukan,” kata Maman.

Memancing di pantai pasir, memang membutuhkan tenaga kuat saat melempar kail dan timah pemberat dengan mendekati gelombang laut. Biasanya ikan berada di belakang ombak tinggi.

“Namun, di sini juga terkenal angker,” kata Maman sambil menunjuk salah satu lokasi yang berada di perbatasan daerah Purworejo dan Kebumen.

“Suatu malam, saya melihat langsung ada sosok hitam besar menunggui saya saat mancing. Saya sadar betul itu bukan manusia. Tubuh saya merinding, namun saya hanya berdoa agar tak diganggu dan keberadaan saya hanya mau cari ikan, bukan yang lain,” katanya.

Menurut Maman, yang menakutkan di lokasi spot mancing tersebut justru bukan sosok Ratu Pantai Selatan yang sangat legendaris. Namun menurutnya, di daerah itu juga ada sosok genderuwo penunggu pantai.

“Menurut saya itu genderuwo ya. Saya tak berani nyalakan senter dan menyoroti sosok tubuh hitam besar itu. Saya khawatir malah membuatnya marah dan saya tak kuat. Makanya saya memilih diam dan tetap fokus memancing. Setelah doa saya selesai, saat saya tengok, sosok itu telah menghilang,” kata Maman.

Lokasi angker berikutnya yang menurut Maman sering ada penampakan adalah di muara sungai di perbatasan Purworejo-Kebumen.

“Nah, di sebelah Barat muara, saya pernah melihat sendiri sosok perempuan melayang menyeberangi muara. Kalau itu, saya yakin jenisnya kuntilanak. Prinsipnya saya juga sama, hanya tetap fokus memancing dan tak mau mengganggu. Makanya dia pun tak mengganggu,” tutur Maman.

Selain penampakan makhluk yang disebut genderuwo dan kuntilanak, menurut Maman, di pesisir Selatan Purworejo juga terkenal angker karena terdapat jalur selatan yang terkenal dengan sebutan Jalan Daendels

Jalan Daendels memiliki panjang 130 kilometer menghubungkan empat wilayah di Selatan yakni Kota Bantul, Purworejo, Kebumen dan Cilacap. Jalan ini sebenarnya sudah ada sebelum zaman colonial Belanda.

Sebelum bernama Jalan Daendels, sudah digunakan di masa kerajaan sebagai jalur Urut Sewu.

Bahkan, di masa Perang Diponegoro atau Perang Jawa, jalan ini sering dilalui terutama saat Diponegoro membangun pertahanan di sekitar Bagelen Purworejo. Makanya, jalan ini sempat dinamakan Jalan Diponegoro.

Pasca Perang Diponegoro, Bagelen dibagi menjadi empat wilayah yakni Kebumen, Ambal, Ledok, dan Kutoarjo.

Pada masa tersebut, sekitar tahun 1883 wilayah Ambal dimana Jalur Diponegoro berada dikepalai oleh seorang Assistent-resident (semacam Walikota) yang bernama A.D. Daendels dengan seorang Regent pribumi bernama Raden Tumenggung Purbanegara.

Nama A.D Daendels inilah kemudian yang dijadikan nama pengganti untuk jalur Diponegoro.

Meski A.D. Daendels (1838) sebagai Assistent Resident Ambal di pantai selatan tersebut lebih muda masanya dibanding dengan Herman Willem Daendels saat membangun Jalan Raya Pos Anyer-

Panarukan, De Grote Postweg di tahun 1808, akan tetapi jalan tersebut keberadaannya memang jauh lebih awal dibanding dengan jalan "Daendels" Utara.

Di sekitar jalan Daendels ini menghampar sawah dan hutan Kelapa. Bila jalan ke selatan, barulah akan dijumpai lautan pasir menuju Samudera Hindia.  

Jalanan di selatan Purworejo ini kini semakin ramai sebab menjadi jalur alternatif menuju ke Bandara Kulon Progo DI Yogyakarta. Jalannya sudah sangat bagus.

“Hanya saja, hati-hati. Di jalan ini juga terkenal angker. Walau belum terlalu lama diresmikan menjadi jalur menuju Yogya lewat selatan, namun sudah berulangkali memakan korban jiwa,” kata Maman.

“Kalau yang ini, saya belum pernah melihat. Tapi kalau menurut pengakuan banyak warga, sebelum kecelakaan terjadi, selalu diawali oleh penampakan sosok perempuan putih menyeberang jalan. Sosok itu mengganggu fokus pengendara sehingga mengakibatkan jatuh atau disambar kendaraan lain,” lanjut Maman.

Di langit sebelah Barat, sinar rembulan mendekati garis horizon. Sebentar lagi bulan tenggelam. Maman memutuskan untuk pulang.

Kisahnya kepada Netralnews pun kemudian ditutup meski menyisakan hal mengganjal tentang semua kisah misteri yang diceritakannya. Antara percaya dan tidak, namun itulah kesaksian salah satu warga Purworejo.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto