Netral English Netral Mandarin
02:31wib
Komut PT Pertamina Basuki Tjahaja Purnama mengungkap selain menghapus fasilitas kartu kredit bagi direksi, komisaris, dan manajer, juga menghapus fasilitas uang representatif. Terdakwa kasus tes usap palsu RS Ummi Bogor, Rizieq Shihab, akan membacakan duplik pagi ini di Pengadilan Negeri Jakarta Timur.
Mandikan Jenazah Wanita Terancam Penjara, Eko: Jangan Jadi Bangsa Biadab dengan Dalil Penistaan Agama

Senin, 22-Februari-2021 09:25

Ilustrasi mayat perempuan
Foto : shutterstock
Ilustrasi mayat perempuan
62

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Heboh tenaga kesehatan terjerat hukum gegara memandikan jenazah wanita dianggap telah menista agama masih menjadi pergunjingan publik.

Merasa tergelitik, Senin (22/2/21), Eko Kuntadhi menyampaikan penilaiannya.

"Petugas medis. Petugas forensik. Petugas pemulasan jenazas pasien Covid19. Mereka bekerja dengan resiko.  Di Sumatera Utara mereka dikriminalisasi. Hanya karena memandikan jenazah pasien Covid19 perempuan. Mestinya kita berterimakasih pd mereka. Bukan malah dikriminalisasi," kata Eko.

"Pak polisi. Jaksa dan hakim. Tolonglah. Jangan beri ruang pada oknum minim akal. Agama jangan dibenturkan dgn akal sehat.  Tokoh2 agama bersuaralah. Jangan jadikan dalil agama utk mengkriminalisasi para pahlawan medis.  Ajarilah kami cara beragama yg bijak dan berakal," lanjutnya.

Ia juga mencolek pihak-pihak lain dan berharap agar bangsa Indonesia tidak menjadi bangsa biadab yang menggunakan dalil penistaan agama.

"BPNB, Kementerian Kesehatan, Kementerian Agama, Menhumkam bertindaklah. Hentikan kasus ini. Jika sudah terlanjur. Tolong siapkan lawyer terbaik buat petugas medis yang dikriminalisasi.  Kita semua berutang pada mereka. Jangan balas jasa mereka dengan memenjarakannya!" kata Eko.

"Janganlah kita menjadi bangsa biadab. Membalas jasa para petugas medis dengan memenjarakannya!  Apalagi dengan dalil penistaan agama. Sesuatu yang sama sekali tidak mereka lakukan," pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, kasus petugas forensik pria memandikan jenazah perempuan di sebuah rumah sakit di Kota Pematang Siantar, Sumatera Utara, terus berlanjut.

Saat, berkas 4 tersangka kasus tersebut telah berada di tangan jaksa. Polisi menjerat para tersangka dengan pasal penistaan agama.

“Berkasnya sudah dilimpahkan ke kejaksaan," kata Kasat Reskrim Polres Siantar, AKP Edi Sukamto kepada Digtara.com - jaringan Suara.com, Minggu (21/2/2021).

Kasus menghebohkan itu terjadi di RSUD Djasamen Saragih Pematang Siantar. Empat perawat yang kini jadi tersangka berinisial DAAY, ESPS, RS, dan REP.

Mereka diduga memandikan jenazah seorang perempuan bernama Zakiah (50). Hal ini membuat suami almarhumah, Fauzi Munthe kecewa hingga menyeret masalah itu ke ranah hukum.

MUI juga kecewa dengan cara kerja RSUD Djasamen Saragih. Sebab, bersama Satgas Covid-19 setempat sebelumnya sudah disepakati tentang mekanisme penanganan jenazah pasien.

AKP Edi Sukamto mengatakan, para tersangka dijerat Pasal 156 huruf a Jo Pasal 55 ayat 1 tentang Penistaan Agama dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

"Itu keterangan saksi ahli dan keterangan MUI yang kita pegang. Sudah kita panggil MUI dan MUI menerangkan perbuatan mengenai penistaan agama," katanya.

Keempat petugas forensik memang telah menjadi tersangka. Namun, polisi tidak melakukan penahanan kepada yang bersangkutan.

Salah satu pertimbangannya karena keempat petugas forensik itu masih dibutuhkan untuk menangani jenazah di RSUD Djasamen Saragih.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) juga turun tangan untuk memberikan pendampingan hukum kepada petugas tersebut.

“Kami sebagai kuasa hukum PPNI siap memberikan bantuan hukum hingga proses persidangan,” kata Pengacara dari Badan Bantuan Hukum PPNI, Muhammad Siban.

Sementara itu, Ketua DPW PPNI Sumut, Mahsur Al Hazkiyani mengimbau para perawat untuk bekerja profesional dan tidak terpancing dengan upaya provokasi.

Reporter :
Editor : Taat Ujianto