Netral English Netral Mandarin
banner paskah
06:55wib
Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin, Senin (10/5/2021), mengumumkan lockdown atau penerapan perintah kontrol pergerakan (MCO) di seluruh wilayah negara untuk mencegah penyebaran Covid-19. Kementerian Agama akan menggelar sidang isbat atau penetapan 1 Syawal 1442 Hijriah pada hari ini, Selasa (11/5) secara daring dan luring.
Musni: Penyebab Utama Terorisme Adalah Ketidakadilan, Contoh Kasus Habib Rizieq

Jumat, 02-April-2021 15:20

Sosiolog Musni Umar
Foto : Istimewa
Sosiolog Musni Umar
11

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sosiolog Musni Umar berpendapat, penyebab utama adanya gerakan radikalisme dan terorisme adalah ketidakadilan di bidang hukum maupun ekonomi.

Hal itu disampaikan Musni terkait dua aksi teror yang terjadi dalam sepekan ini, yakni bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar pada Minggu (28/3/2021) dan serangan wanita bersenjata di Mabes Polri, Rabu (31/3/2021).

"Sebagai sosiolog yang selalu mengamati fenomena sosial, saya berpendapat bahwa penyebab utama radikalisme dan terorisme adalah ketidakadilan," kata Musni dalam tulisannya berjudul 'Sumber Radikalisme dan Terorisme: Ketidakadilan, Apa Yang Harus Dilakukan?'.

Soal ketidakadilan di bidang hukum sebagai penyebab munculnya radikalisme dan terorisme, Musni mencontohkan kasus kerumunan yang menjerat mantan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab (HRS).

"Dalam bidang hukum, sangat banyak yang melanggar protokol kesehatan, tetapi yang ditangkap hanya Habib Rizieq Syihab dan pentolan FPI," ungkap Rektor Universitas Ibnu Chaldun Jakarta itu.

Berikut tulisan lengkap Musni Umar, dikutip netralnews.com dari websitenya, arahjaya.com, Jumat (2/4/2021).

Sumber Radikalisme dan Terorisme: Ketidakadilan, Apa Yang Harus Dilakukan?

Sejak terjadi bom bunuh diri di depan gereja Katedral Makassar beberapa hari lalu, isu radikalisme dan terorisme mencuat kembali.

Para pakar, ulama, ormas dan pengamat ramai membahas masalah bom bunuh diri tersebut. Pada saat yang sama, aparat menangkap mereka yang diduga teroris di beberapa daerah, yang dianggap merupakan jaringan para teroris bom bunuh diri di Makassar.

Penangkapan demi penangkapan terhadap mereka yang dicurigai sebagai teroris akan marak di hari-hari mendatang. Apalagi sore ini (31/3) terduga teroris menyerang Mabes Polri dan tampak membawa senjata. Walaupun terduga teroris telah ditembak mati.

Akan tetapi, dampak dari bom bunuh diri di depan gereja Katedral Makassar, serta adanya terduga teroris yang menerobos Markas Besar Polri dan terjadi tembak menembak, maka hampir pasti sebagaimana dikemukakan di atas, diduga akan dilakukan penangkapan demi penangkapan terhadap mereka yang dianggap bagian dari teroris. Ada yang menyebut bahwa pelaku bom bunuh diri dari JAD (Jamaah Ansharuttauhid).

Umat Islam Disudutkan

Isu radikalisme dan terorisme sangat merusak citra Islam. Apalagi media sosial ramai sekali yang mem-bully mereka yang diduga teroris. Walaupun belum tentu mereka teroris, tetapi citra yang dibangun di tengah-tengah sangat buruk. Bahkan ada yang tidak mau mendekat kepada mereka yang bercadar, celana cingkrang, mukanya ada bekas sujud, dan berjenggot.

Mereka dicitrakan radikal, tidak toleran dan teroris. Bahkan mereka yang diduga teroris di Bekasi, ditemukan ada baju FPI. Hal tersebut sudah dibantah Munarman, Sekretaris Umum FPI. Dia duga sebut sebagai operasi intelijen untuk mengkriminalisasi FPI. Tujuannya untuk menutup pembunuhan 6 laskar FPI di KM 50.

Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin telah menegaskan bahwa tindak kejahatan terorisme dan penyebaran paham radikalisme tidak berkaitan dengan agama karena tidak ada satu agama pun yang mengajarkan tentang kekerasan.

“Terorisme itu tidak ada kaitannya dengan agama. Tidak ada agama yang memberikan toleransi untuk terjadinya aksi terorisme, kekerasan; apalagi sampai membunuh orang lain, bahkan membunuh dirinya sendiri,” kata Maruf Amin usai meninjau pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di Barito Utara, Kalimantan Tengah, Selasa (30/3/2021).

Oleh karena itu, Wapres RI mengharapkan supaya tindakan terorisme dan penyebaran radikalisme tidak usah dikaitkan dengan agama, walaupun sangat sulit masyarakat tidak mengkaitkan dengan agama Islam karena pelakunya oknum-oknum dari umat Islam.

Faktor Ketidakadilan

Berbagai macam analisis yang dikemukakan tentang penyebab adanya masyarakat yang nekat bom bunuh diri atau menyerang Markas Besar Polri, sebagai sosiologis saya menolak pernyataan yang mengatakan pintu masuk radikalisme dan terorisme adalah Wahabi dan Salafi.

Sebagai sosiolog yang selalu mengamati fenomena sosial, saya berpendapat bahwa penyebab utama radikalisme dan terorisme adalah ketidakadilan.

Dalam bidang hukum, sangat banyak yang melanggar protokol kesehatan, tetapi yang ditangkap hanya Habib Rizieq Syihab dan pentolan FPI. Sementara para calon kepala daerah yang mengikuti Pilkada, mereka yang sedang berkuasa dan pendukung kekuasaan tidak dikenai sanksi hukum melanggar protokol kesehatan seperti HRS dan para pentolan FPI. Sikap tidak adil dalam penegakan hukum sangat menyakiti hati para pendukung HRS dan masyarakat yang sadar hukum dan keadilan.

Selain itu, ketidakadilan dalam bidang ekonomi yang luar biasa menyolok. Sekelompok menguasai ekonomi yang kemudian berkolaborasi dengan penguasa dan mendapat perlindungan dan perlakuan istimewa. Ketidakadilan semacam ini telah menjadi pengetahuan umum masyarakat.

Mereka yang tidak berpikir panjang atau sumbu pendek, ada yang memilih bom bunuh diri atau menyerang Markas Polisi untuk melawan ketidakadilan.

Perbuatan radikal dan teror harus diakhiri dalam melawan ketidakadilan karena tidak akan pernah menang. Pertanyaannya, apa yang harus dilakukan? Gunakan hak suara dalam pemilu. Pilih pemimpin dan partai yang benar.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sesmawati