Netral English Netral Mandarin
banner paskah
07:59wib
Pemerintah melalui Kementerian Agama memutuskan awal puasa atau 1 Ramadan 1442 Hijriah di Indonesia jatuh pada Selasa (13/4/2021). Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) setuju penggabungan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
Muannas Soal FPI, NU, Muhammadiyah: Enggak Pas Perbandingannya  Cenderung Merendahkan

Jumat, 22-January-2021 21:20

Muannas Alaidid
Foto : Istimewa
Muannas Alaidid
5

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua Cyber Indonesia Muannas Alaidid mengungkapkan kalau setiap wilayah Indonesia Muhammadiyah dan NU dipastikan ada. Sebaliknya, FPI belum tentu ada.

Menurut Politisi PSI itu, pandangan sosiolog Thamrin Tomagola masih tak faktual. Namun, Komedia Pandji hanya alasan saja membawa pernyataan ahli tersebut.

Apalagi, kata Muannas perbandingannya tidak pas. Bahkan cenderung merendahkan. Hal itu diungkapkan Muannas lewat akun resmi twitternya @muannas_alaidid seperti dilansir Jakarta, Jumat (22/1/2021).

"Jd alasan aja @pandji ini apa yg menjadi ucapan pak tam, tapi kt hormati pk tam msh sebatas cara pandang, Fpi itu ditiap ranting & kecamatan blum tentu ada, tp Nu, fatayat, muslimat, anshor, banser, Nu smp ranting2. Makanya gak pas membandingkan Nu & FPi apalagi smp merendahkan," tulisnya.

Seperti diketahui, Nama komika Pandji Pragiwaksono jadi Trending topic di Twitter sejak gara-gara pernyataannya yang menyoroti pembubaran FPI oleh pemerintah dalam video berjudul "FPI Dibubarkan Percuma? Feat Afif Xavi & Fikri Kuning" yang diunggah di kanal YouTube-nya pada (4/1/2021) lalu. 

Dalam video itu, Pandji membahas banyak hal tentang FPI. Salah satunya ia menilai percuma membubarkan FPI, karena ormas bentukan Habib Rizieq Shihab (HRS) itu bisa hadir lagi dengan nama yang berbeda. 

Pandji lantas menyinggung pendapat sosiolog Thamrin Amal Tomagola mengenai FPI yang mana FPI disebut hadir dan lebih dekat dengan rakyat gara-gara ormas NU dan Muhammadiyah jauh dari rakyat. 

Reporter : PD Djuarno
Editor : Sulha Handayani