Netral English Netral Mandarin
banner paskah
19:15wib
Seorang anggota TNI AD berinisial DB luka-luka dan anggota kepolisian berinisial YSB tewas setelah diduga menjadi korban pengeroyokan oleh orang tak dikenal. Sebuah survei yang diinisiasi Lembaga Survei Indonesia (LSI) menemukan mayoritas pegawai negeri sipil (PNS) menilai tingkat korupsi di Indonesia meningkat.
Misteri Supersemar, Beraroma Klenik tapi Sakti

Jumat, 12-Maret-2021 15:25

Soeharto di belakang Sukarno, Maret 1966.
Foto : Beryl Bernay - gettyimages.com.
Soeharto di belakang Sukarno, Maret 1966.
34

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dalam perayaan Haru Ulang Tahun Kemerdekaan (HUT) Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1966, Soekarno menyampaikan pidato terakhirnya yang biasa dikenal dengan sebutan “Pidato Jasmerah.”

Salah satu cuplikan pidato pada saat itu mengungkapkan kritik Soekarno terhadap Gestok. Selain itu, ia juga mengkritik keras siapapun yang menggunakan Supersemar sebagai alat “transfer pemerintahan”.

Supersemar bukanlah “transfer of sovereignity” dan bukan pula “transfer of authority”. Sama sekali bukan pengalihan kekuasaan.

Dengan kata lain. Ia sebenarnya secara terang-terangan menyebut siapa yang sedang mensubversi kekuasaannya dari dalam melalui lisensi Supersemar. Siapa lagi jika menuding para politisi anti-Soekarno, Angkatan Darat, aktivis angkatan ’66, dan Soeharto?

Bertahap

Tak bisa dimungkiri Supersemar atau Surat Perintah 11 Maret 1966 terbukti digdaya saat dipegang Soeharto. Surat ituberisi perintah Soekarno kepada Soeharto untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memulihkan ketertiban dan keamanan umum.

Perintah berikutnya adalag untuk melindungi presiden, semua anggota keluarga, hasil karya dan ajarannya. Namun, ternyata Soeharto tidak melaksanakan perintah tersebut dan justru menggunakannya untuk mengambil tindakan di luar kehendak Soekarno.

Begitu surat itu diperoleh, Soeharto langsung menyatakan membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan mengeluarkan Surat Keputusan Presiden No. 1/3/1966 yang ditandatanganinya pukul 04.00 Sabtu, 12 Maret 1966.

Dalam memoar Saya dan Mas Harto, Probosutedjo, adik Soeharto, menyebutkan bahwa “Mas Harto memiliki keyakinan bahwa pemulihan keamanan hanya akan terjadi jika PKI dibubarkan.”

Gebrakan berikutnya adalah dengan mengerahkan pasukan RPKAD di bawah kepemimpinan Kolonel Sarwo Edhie, untuk berkonvoi menunjukkan kekuatan. KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), Front Pancasila, dan sejumlah organisasi massa disusupi dan “diarahkan”.

Dalam demonstrasi tersebut, “salinan Supersemar dan surat pembubaran PKI disebarluaskan,” kata Jusuf dalam memoarnya Menyibak Tabir Orde Baru.

Tak hanya itu, RPKAD bergerak ke Jawa Tengah kemudian ikut membakar kemarahan rakyat dan terjadilah pembantaian massal terhadap mereka yang dituduh sebagai anggota PKI dan dianggap terlibat G-30-S.

Terang saja, Soekarno marah dan terpukul dengan keputusan Soeharto. Ia sempat memanggil semua panglima angkatan bersenjata ke Istana dan memarahi mereka. Dalam pertemuan itu, ia mengatakan bahwa Supersemar tidak pernah dimaksudkan untuk membubarkan PKI.

Rupanya, Soeharto sudah tahu dan menguasai medan. Dengan tenang ia menjawab, “Mungkin karena miskin, susah di masa mudanya, dia mempunyai kekuatan batin yang hebat. Dia bisa saja menyerah saat itu, tetapi dia tidak mau. Dia berlaku pura-pura tidak tahu.”

Langkah berikutnya, sepertinya tak ada penghalang lain yang lebih berat. Ia kemudian mengeluarkan Surat Keputusan Presiden No. 5 tanggal 18 Maret 1966 tentang penahanan 15 orang menteri yang dianggap terkait PKI dan terlibat Gerakan 30 September 1965.

Sebagai penggantinya diangkatkal lima menteri koordinator ad interim (Sultan Hamengkubuwono IX, Adam Malik, Roeslan Abdulgani, KH Idham Chalid, dan J. Leimena) dan beberapa orang menteri ad interim lainnya sampai terbentuknya kabinet baru.

Uniknya, Supersemar yang dibuat Soekarno di masa kemudian berubah. “pasal kedua mengenai perlindungan bagi Soekarno dicoret dari dokumen tersebut,” ungkap Jusuf.

Kekuatan anti-PKI yang digalang Soekarno semakin membesar. Ia arahkan kemudian untuk mendesak digelar Sidang MPRS. Pada 20 Juni-6 Juli 1966, Sidang MPRS digelar.

Pertanggungjawaban Soekarno yang berjudul Nawaksara, ditolak MPRS. Pada saat yang sama, MPRS menetapkan TAP MPRS No. IX/MPRS/1966 tetang Supersemar.

Dengan surat Supersemar menjadi ketetapan MPRS, habislah kekuasaan Soekarno. “Dia (Soekarno, red) pun tak akan dapat mencabut surat perintah itu,” tulis Baskara dalam Membongkar Supersemar.

Menurut Jusuf, Supersemaradalah “kemenangan hukum dan politik Soeharto, walaupun belum sepenuhnya karena secara konstitusional Soekarno masih presiden dan masih berkuasa.” Soeharto baru berkuasa penuh ketika dilantik sebagai penjabat presiden pada 12 Maret 1967.

Sementara itu, di masa selanjutnya, Soekarno dijadikan sebagai “tahanan rumah” di Istana Bogor, kemudian di Wisma Yaso di Jakarta sampai meninggal pada 21 Juni 1970 setelah sempat menderita sakit dan kurang perawatan dokter.

Berbaur memori klenik

Nurinwa Ki S Hendrowinoto, seorang penulis bermacam buku biografi,  suatu ketika mengaku pernah menemukan lembar Supersemar yang asli secara tak sengaja saat napak tilas ke petilasan Majapahit di Surabaya pada 2012. 

Sebelumnya, Nurinwa sempat bersua dengan Indra Musafah, teman lamanya semasa SD Seruni di Surabaya. Perhatian Nurinwa terusik tatkala Indra , anak juru kunci petilasan itu, memperlihatkan sesuatu padanya.

“Dia (Indra) menunjukan kepada saya, iki loh (Supersemar). Ayahnya Indra itu bernama Ahmad Musafah,” tutur Nurinwa.

Menurut Nurinwa, Ahmad Musafah bekerja sebagai pegawai Pemda Jawa Timur. Namun dia juga dikenal sebagai paranormal. Kabarnya Ahmad Musafah adalah orang kepercayaan Soeharto untuk meruwat benda-benda yang diserahkan oleh presiden RI kedua itu kepadanya.

Lebih jauh, kata Nurinwa, surat yang didapatnya ditemukan di dalam makam yang ditengarai sebagai pusara Panglima Majapahit (Pangeran Yudho Kardhono-Red).

Surat itu tersimpan dalam pigura kecil yang berada di balik gapura makam. Menurutnya, Soeharto percaya betul pada kekuatan panglima tersebut.

“Secara simbolik, Pak Harto lebih percaya hal-hal spiritual daripada para jendralnya. Demikian halnya dengan Supersemar, Pak Harto lebih mempercayakannya pada hal yang sifatnya transenden daripada menyerahkannya ke Arsip Nasional,” kata Nurinwa yang dikenal dekat dengan adik tiri Soeharto, Probosutedjo.

Nurinwa meyakini lembar surat yang didapatnya sebagai naskah Supersemar yang otentik. Alasannya, surat tersebut dipegang oleh salah satu paranormal yang pernah berfoto bersama Pak Harto, Ibu Tien, dan Soedjono Hoemardani yang disebut-sebut berperan sebagai penasihat spiritual Soeharto.

Secara kronologis, alur perpindahan tangan pemegang naskah asli Supersemar tidak begitu panjang. Tetapi sarat praktik klenik. S

Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Asvi Warman Adam membenarkan keberadaan naskah Supersemar yang berasal dari Jawa Timur tersebut. Asvi mengakui, dirinya juga pernah diperlihatkan lembar Supersemar oleh putra seorang kyai di Surabaya.

Seperti halnya penuturan Nurinwa, Asvi menjelaskan, pada 1966, Soedjono Hoemardani yang kala itu menjabat Asisten Pribadi Soeharto mengantarkan Supersemar kepada sang kyai untuk mendoakan pengemban surat tersebut. Surat itu ditinggalkan, kemudian oleh pemilik rumah dibuatkan pigura dan dipajang di ruang tamu.

Meski surat itu pada akhirnya dinyatakan tidak otentik, “Imajinasi masyarakat yang berbaur dengan klenik akan berkembang terus kalau pemerintah tidak mendudukan perkara (Supersemar) secara benar,” kata Asvi dinukil Historia.

Dengan ketidakotentikannya supersemar yang ditemukan Nurinwa membuktikan bahwa surat Supersemar yang asli hingga kini tetap saja menjadi sumir alias supersumir.

Sementara masyarakat Indonesia yang gemar klenik semakin membumbui misteri “supersemar yang supersumir” tersebut. Entah sampai kapan.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto