Netral English Netral Mandarin
14:03wib
Hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen masyarakat setuju sekolah dan rumah ibadah dibuka kembali meski masih di tengah kondisi pandemi corona. Data pengguna Facebook yang mencapai 533 juta, baru-baru ini dikabarkan telah dicuri hacker. Facebook menyatakan, tak akan memberi tahu data siapa saja yang telah dicuri.
Mengenal Perbedaan Corona Versi Lama dan Corona Varian Baru B.1.1.7

Kamis, 04-Maret-2021 12:00

Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban.
Foto : Twitter @ProfesorZubairi
Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Profesor Zubairi Djoerban.
39

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua Satgas Covid-19 dari Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Profesor Zubairi Djoerban mengatakan, banyak yang mengira dengan turunnya kasus, Pandemi Covid-19 hampir berakhir. 

Menurutnya, jenis corona lama memang berkurang, tapi strain B.1.1.7 atau disebut sebagai corona varian baru bertambah dan telah ditemukan di Indonesia. 

Lalu, apa bedanya B.1.1.7 dengan virus asli sebelumnya?

"Mutan baru ini menyebabkan shedding virus lebih intens. Artinya produksi jumlah virusnya jauh lebih banyak di saluran napas," jelas Prof Zubairi, dikutip dari cuitannya, Kamis (4/3/2021).

Jadi menurut Prof Zubairi, istilah untuk B.1.1.7 sebagai super spreader tidak tepat. Lebih tepat super shedder, karena virus itu bisa lebih menularkan ke banyak orang.

Apakah B.1.1.7 ini amat berbahaya karena lebih menular dan bisa membebani kapasitas rumah sakit? Jawabannya adalah, ya.

"Iya. Bisa jadi jumlah kasus harian kita bertambah lagi dan rumah sakit juga terkena imbasnya—jika varian ini dominan. Tapi tidak benar akan menyebabkan kematian yang lebih banyak," jelas Prof Zubairi.

Lantas, apakah Prof Zubairi memiliki gambaran seberapa cepat orang akan terpapar B.1.1.7?

Hal yang jelas, B.1.1.7 berkembang biak lebih banyak saat menumpang hidup di saluran napas manusia. Sehingga, virus ini muncul dengan jumlah lebih banyak juga. Hal itu yang menyebabkan penularannya lebih cepat.

Kalau di Indonesia, mutasi apa yang paling banyak ditemukan?

Di banyak negara dan di Indonesia sendiri, mutasi yang paling banyak ditemukan adalah D614G. Itu adalah mutan yang ditemukan pada awal 2020. 

"Pertama kan virus ini dari Wuhan, kemudian bermutasi jadi D614G, lalu muncul B.1.1.7 dan varian yang ada di Afsel," ujar dia.

 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Irawan HP