Netral English Netral Mandarin
banner paskah
14:32wib
Jaksa penuntut umum (JPU) menuntut Rizieq Shihab dengan pidana penjara selama dua tahun dalam kasus dugaan pelanggaran kesehatan di Petamburan, Jakarta Pusat. Mabes Polri mengklaim ada 1.864 kasus yang ditangani menggunakan pendekatan restorative justice (keadilan restoratif) sepanjang 100 hari kinerja Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menjabat.
Mengapa Ahlussunnah Wal Jamaah Bisa Bersatu dengan JAD Wahabi? DS: Butuh Inang Baru, Kenapa Polisi Tak Langsung Bergerak?

Rabu, 21-April-2021 08:51

Kolase Denny Siregar dan ilustrasi teror bom di gereja
Foto : FB/Denny Siregar
Kolase Denny Siregar dan ilustrasi teror bom di gereja
5

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pegiat media sosial lagi-lagi mengurai tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik Front Pembela Isalam (FPI) dibubarkan. Menurutnya, FPI jelas organisasi teroris, bahkan sudah disusupi Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

“Meski berbeda paham, tapi JAD butuh inang baru sesudah mereka diberantas habis oleh Densus 88. Lagian FPI waktu itu adalah ormas yang diakui pemerintah,” kata Denny Siregar, Rabu 21 April 2021.

“Jadi anggota JAD bisa sembunyi didalamnya, sekaligus mencuci otak orang2 FPI supaya mau melakukan bom bunuh diri untuk mencapai tujuan,” imbuh Denny.

Menurut Denny, Munarman sangat paham ini. 

“Dia berperan besar dalam memasukkan anggota JAD ke tubuh FPI, karena dia butuh orang2 yang bisa melatih FPI dalam hal kemiliteran,” katanya. 

“Dan yang bisa menyatukan FPI dan JAD dalam satu ideologi adalah ISIS, yang pada waktu itu dianggap sebagai organisasi besar dan akan menguasai dunia atas nama agama,” lanjut Denny.

“Itulah kenapa terjadi pembaiatan ISIS disana. Munarman gak usah ngelak. Jejak dia terpampang jelas disana. Videonya juga ada..,” tegas Denny.

Namun, kenapa dulu polisi tidak  bisa bertindak menangkap kelompok teroris itu? “Karena dulu polisi masih pake UU terorisme tahun 2003,” jawab Denny. 

UU itu menyulitkan polisi. Mereka baru bisa bergerak kalau sudah ada kejadian. Aparat tidak  punya payung hukum yg kuat. 

"Meski tahu si A itu teroris dan mau ngebom, polisi harus menunggu si A itu ngebom dulu baru bisa bertindak. Telat, kan? kata Denny.

Berikut catatan lengkap Denny Siregar:

FPI ORGANISASI TERORIS 

Bagian 1 : JAD menyusup ke FPI

Kemaren malam saya habis ngobrol2 dengan seorang teman yang "tahu" apa yang terjadi tentang maraknya penangkapan teroris oleh Densus 88 ini..

Mungkin ceritanya agak panjang, tapi gapapa. Saya rencananya memang mau bikin serial tulisan lagi, supaya kita semua juga bisa mengikuti sepak terjangnya polisi.

Sekarang ini sudah 33 teroris yang ditangkap polisi pasca bom bunuh diri di Makasar. Salah satunya pensiunan BUMN. Gak heran, BUMN kita dalam 10 tahun pemerintahan SBY, banyak disusupi oleh kelompok radikal yang berpotensi jadi teroris. 

Dari 33 teroris itu, puluhan lainnya anggota FPI aktif. Mereka semua terkoneksi dalam satu jaringan yaitu villa Mutiara. Kenapa dinamakan villa Mutiara ? Karena mereka semua mendapat pelatihan teror di sebuah komplek perumahan bernama villa Mutiara di Makasar. 

Villa Mutiara ini dulunya, tahun 2015, sebagai tempat pembaiatan ISIS yang dihadiri oleh Munarman. Sehabis pembaiatan, dua orang pasangan kemudian berangkat ke Filipina dan meledakkan diri mereka di gereja Katedral disana.

Di villa Mutiara inilah kelompok teroris JAD atau Jamaah Ansharut Daulah menyusup ke dalam FPI. JAD ini adalah organisasi teroris pimpinan Abu Bakar Baasyir. Di villa Mutiara ini mereka berkedok pengajian, tapi disana rutin pelatihan militer sekaligus pembuatan bom bunuh diri.

Kenapa FPI dipilih sebagai tempat penyusupan JAD? Kan paham mereka sangat berbeda? FPI itu ahlusunnah wal jamaah, sedangkan JAD itu wahabi ?

Ini yang menarik. Meski berbeda paham, tapi JAD butuh inang baru sesudah mereka diberantas habis oleh Densus 88. Lagian FPI waktu itu adalah ormas yang diakui pemerintah. 

Jadi anggota JAD bisa sembunyi didalamnya, sekaligus mencuci otak orang2 FPI supaya mau melakukan bom bunuh diri untuk mencapai tujuan.

Munarman sangat paham ini. Dia berperan besar dalam memasukkan anggota JAD ke tubuh FPI, karena dia butuh orang2 yang bisa melatih FPI dalam hal kemiliteran. 

Dan yang bisa menyatukan FPI dan JAD dalam satu ideologi adalah ISIS, yang pada waktu itu dianggap sebagai organisasi besar dan akan menguasai dunia atas nama agama.

Itulah kenapa terjadi pembaiatan ISIS disana. Munarman gak usah ngelak. Jejak dia terpampang jelas disana. Videonya juga ada..

Kenapa dulu polisi gak bisa bertindak menangkapi kelompok teroris itu? Karena dulu polisi masih pake UU terorisme tahun 2003. 

UU itu menyulitkan polisi. Mereka baru bisa bergerak kalau sudah ada kejadian. Aparat gak punya payung hukum yg kuat. 

Meski tahu si A itu teroris dan mau ngebom, polisi harus menunggu si A itu ngebom dulu baru bisa bertindak. Telat, kan?

Nah, tahun 2018, UU terorisme itu direvisi. Polisi bisa lebih aktif menangkap orang yang dicurigai sebagai teroris. Meski agak terlambat, tapi lumayanlah daripada tidak sama sekali..

Ketika tau UU terorisme itu mau direvisi dan akan menyulitkan pergerakan mereka, anggota2 JAD mencoba menekan pemerintah dengan mengaktifkan bomber2nya.

Ingat kan kejadian tahun 2018, waktu ada satu keluarga bom bunuh diri di gereja Surabaya? 

Tahun 2018 itu memang masa dimana anggota2 JAD sedang ngamuk2nya. Sebelum bom di Surabaya, mereka ngamuk dulu di Mako Brimob dan membunuh 5 anggota polisi disana..

Tapi revisi UU itu jalan terus. Sesudah diketok di DPR, polisi semakin punya payung hukum untuk menangkapi para teroris itu..

Eh, panjang ya? Lanjut ngga? Seruput kopi dulu, mumpung imsak masih lama…

Denny Siregar

Munarman Emosi

Seperti diketahui, sebelumnya diberitakan Kuasa Hukum Rizieq Shihab sekaligus eks Sekretaris Umum FPI, Munarman meluapkan emosinya saat menjadi bintang tamu dalam acara Mata Najwa ‘Teror Untuk Siapa’ pada Rabu (7/4/2021).

Dalam acara tersebut dibahas mengenai hadirnya Munarman dalam baiat ISIS di Makassar pada 2015 lalu. Akan tetapi eks Sekretaris Umum FPI ini membantah jika dirinya berada dalam acara tersebut.

“Di Makassar itu ada dua peristiwa, saya diundang pengurus FPI Makassar dalam acara seminar. Di situ tidak ada baiat,” jelas Munarman dalam tayangan Mata Najwa.

Kemudian ia menjelaskan bahwa acara kedua yang ia ikuti ternyata bukan acara yang sama. Namun Munarman mengklaim sama sekali tidak tahu bahwa acara tersebut baiat ISIS.

“Karena tiket (pesawat) saya itu besok siangnya. Mereka menawarkan besoknya masih ada lagi katanya. Ikutlah saya di situ, saya kira itu sama, tidak tahunya ada (baiat) itu,” kata Munarman.

Ketika ditanya apakah ia pernah menyampaikan klarifikasi tersebut ke polisi, Munarman naik pitam.

“Anda menyampaikan iniklarifikasi ke polisi atau sempat dipanggil tidak, itu tadi pertanyaannya,” tanya Najwa Shihab.

Munarman pun menjawab: "Lho perbuatan saya di undang tu apakah perbuatan pidana? Kenapa saya harus klarifikasi? Itu dulu,” tanya Munarman.

"Pertanyaan saya, apakah sempat ada yang memanggil?" jawab Najwa.

"Pertanyaan saya, apakah itu kejahatan, menceritakan dalam seminar, tentang strategi counter terrorism jangan sampai orang tidak terjebak, itu apakah kejahatan?" ungkap Munarman.

"Bang Munarman, saya bukan polisi, saya mengundang Anda, bertanya pengalaman Anda, apakah Anda pernah dipanggil? Pertanyaan saya itu," ujar Najwa.

"Makanya saya jawab, apakah itu kejahatan, karena itu bukan kejahatan berarti tidak ada kewenangan pemanggilan itu," kata Munarman.

Namun lagi-lagi Munarman tidak menjawab apakah dia pernah dipanggil polisi terkait hal tersebut atai tidak.

“Berarti Anda minta saya dipanggil?” sahut Munarman.

“Saya bertanya pernah atau tidak?” balas Najwa.

"Yang dipanggil oleh polisi itu peristiwa pidana, jangan menggiring, ini menggiring ini," ungkap Munarman.

"Mbak Nana, itu dalam teori hukum itu namanya pertanyaan jebakan, Anda tidak boleh melakukan pertanyaan jebakan, itu berbahaya buat opini," imbuhnya.

Akan tetapi perdebatan tersebut ditengahi oleh Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI 2011-2013, Soleman B Ponto.

“Kalau kehadiran seperti itu apa alasannya pemanggilan? Kita harus meletakan ini duku dalam situasinya apa?,” kata Soleman B Ponto.

Soleman menyebut kehadiran Munarman itu merupakan indikasi.

Namun indikasi itu akan diperbincangkan secara tertutup.

“Kalau bagi saya intelegent, ini indikasi. Dan indikais ini akan saya perbincangkan tertutup.

Jadi kehadiran itu hanya indikasi. Tidak mungkin saya bisa memutuskan ini ada pelanggaran atau tidak, nanti itu akan kembali,” jelasnya.

Lebih lanjut, Soleman berkata jika hal tersebut tidak boleh dipublikasikan. Sebab jika salah bisa membahayakan kedua belah pihak.

"Hanya Indikasinya apa, kalau kita berbicara indikasi, indikasi bahwa FPI ada hubungan dengan ISIS atau apa, dari indikasi itu kita nyatakan warning, ingin tidak boleh keluar, ini sifatnya rahasia. Karena apa bisa benar bisa salah. Inilah akibatnya, jika berita dari Intelejen keluar terjadilah kekacauan ini," kata Soleman seperti dinukil Tribunnews.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto