Netral English Netral Mandarin
banner paskah
21:35wib
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem mulai Rabu (14/4) hingga Kamis (15/4). Cuaca ekstrem ini diakibatkan Siklon Tropis Surigae. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebut semua komponen utama yang digunakan dalam pengembangan Vaksin Nusantara diimpor dari Amerika Serikat.
Menakar Peluang Puan Jadi Capres 2024, Pengamat: Lebih Rasional PDIP Usung Ganjar Pranowo

Selasa, 30-Maret-2021 17:20

Pengamat Komunikasi Politik Jamiluddin Ritonga
Foto : Istimewa
Pengamat Komunikasi Politik Jamiluddin Ritonga
5

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pengamat Komunikasi Politik Jamiluddin Ritonga mengatakan, para kader PDIP sudah intens mencalonkan Puan Maharani jadi calon presiden (capres) pada 2024. Bahkan Ketua DPR ini sudah digadang- gadang oleh Barisan Relawan Puan Maharani untuk Indonesia (Barani).

"Peluang Puan menjadi capres memang sangat besar. Sang ibunda, Megawati Soekarnoputri tampaknya sudah mempersiapkan Puan jauh-jauh hari," kata Jamiluddin melalui keterangan tertulisnya, Senin (29/3/2021).

Jamiluddin menyebut, Puan sudah dimagangkan menjadi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) di era Pemerintahan Jokowi-JK dan sekarang dimagangkan menjadikan Ketua DPR.

Sayangnya, menurut Jamiluddin, publik tidak mendengar prestasi monumental saat Puan menjabat Menko PMK. Bahkan Program Revolusi Mental yang berada dibawa kendali Menko PMK tak jelas hasilnya.

"Minus prestasi juga terlihat saat Puan menjabat Ketua DPR. Setelah memimpin DPR satu setengah tahun, tidak ada gebrakan yang membuat masyarakat kagum terhadap dirinya dan DPR," ujarnya.

"Masyarakat hanya tahu kasus kontroversial Puan saat mematikan pengeras suara pada suatu acara paripurna," sambung Jamiluddin.

Dengan dua jabatan bergengsi itu, lanjut Jamiluddin, seharusnya elektabilitas Puan sudah meroket. Sebab, dua jabatan itu berhubungan langsung dengan masyarakat, sehingga kalau ia menonjol tentu elektabilitasnya sudah tinggi.

Namun kenyataannya, ungkap Jamiluddin, elektabilitas Puan sangat rendah. Hasil survei terbaru Lembaga Survei Indonesia (LSI), elektabilitas Puan hanya 1,1 persen. Bahkan hasil survei Parameter Politik Indonesia (PPI), elektabilitasnya hanya 0,7 persen.

"Jadi terlihat ada kaitan antara prestasi jabatan publik dengan elektabilitas seseorang. Semakin menonjol prestasinya sebagai pejabat publik, maka akan semakin tinggi elektabilitasnya," terangnya.

"Dengan rendahnya elektabilitas Puan selama menjadi pejabat publik, maka diperkirakan elektabilitasnya memang sulit untuk dikerek. Nilai jual Puan tampak rendah, sehingga akan menyulitkan relawan dan PDIP membrandingnya," papar Jamiluddin.

Hal itu, tambah Jamiluddin, akan menyulitkan Megawati untuk mengusung Puan menjadi capres. Apalagi kalau Megawati diperhadapkan adanya kader PDIP yang elektabilitas tinggi, seperti Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

"Sebagai panutan di PDIP, tentu Megawati harus objektif saat memutuskan siapa yang layak menjadi capres, Puan atau Ganjar," ucap dia.

"Kalau hasil survei relatif stabil hingga pertengahan 2023, maka pilihan paling rasional tentulah Ganjar. Puan dengan berat hati harus rela tidak diusung jadi capres," ucap Jamiluddin.

Namun, kata Jamiluddin, bila pilihan capres lebih bersifat politis, maka Megawati Soekarnoputri akan tetap memilih Puan. Resikonya peluang Puan tidak terpilih pada Pilpres 2024 akan sangat besar.

"Dalam kondisi elektabilitas rendah, yang paling rasional Puan diusung menjadi cawapres. Disini Puan berpeluang mendampingi Prabowo yang selama ini elektabilitasnya sangat tinggi. Megawati berpeluang memilih opsi ini bila elektabilitas Puan tetap jeblok," pungkasnya.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sesmawati