Netral English Netral Mandarin
banner paskah
09:23wib
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem mulai Rabu (14/4) hingga Kamis (15/4). Cuaca ekstrem ini diakibatkan Siklon Tropis Surigae. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebut semua komponen utama yang digunakan dalam pengembangan Vaksin Nusantara diimpor dari Amerika Serikat.
Menag Yaqut Ajak Bangun Toleransi, PKS Malah Sebut Toleransi Bukan Sinkretisme, FH: Sok Pintar tapi Bodoh?

Kamis, 08-April-2021 16:27

Menag
Foto : Kemenag Yaqut Cholil Qoumas
Menag
9

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas meminta jajarannya di Kementerian Agama turut memberikan kesempatan doa versi agama selain Islam dibacakan dalam setiap kegiatan mereka.

Menurut pengamatan Ferdinand Hutahaean, secara garis besar, ajakan Menag Yaqut menunjuk pada ajakan membangun toleransi. Namun parahnya, ajakan itu dianggap lain. Salah satunya menurut pandangan DPP PKS yang menyebut “toleransi bukan sinkretisme.”

Ferdinand Hutahaean pun ikut memberikan pernyataan keras. 

“Menurut sy akun PKS ini tak memahami yg dimaksud olh Gus @YaqutCQoumas sehingga menyebut SINKRETISME. Tidak ada pencampur adukan disana tapi memberi ruang yang sama bg semua pemeluk agama dalam acara2  @Kemenag_RI bkn acara2 agama,” kata Ferdinand, Kamis (8/4/21).

“Marah tdk kalau dibilang sok pintar tp bodoh?” imbuh Ferdinand.

Sementara cuitan akun DPP PKS @PKSejahtera sebelumnya mengatakan: “Maaf Gus! Toleransi Bukan Sinkretisme.”

Akun PKS juga mengunggah tautan catatan Presiden GEMA Keadilan, Dr. Indra Kusumah yakni sebagai berikut: 

Ide pembacaan doa semua agama di acara Kementerian Agama ini setidaknya ada dua kemungkinan teknis pelaksanaannya, yakni:

Ada satu orang yang membacakan doa semua agama.Ada 6 orang yang bergiliran membacakan doa sesuai agamanya.

Kemungkinan pertama, itu termasuk kategori sinkretisme, yaitu mencampuradukan satu agama dengan agama lain. Setiap orang cukup membaca doa sesuai ajaran agamanya saja, tidak boleh dipaksa membaca doa dari ajaran agama yang tidak dianutnya.

Kemungkinan kedua, ini masih mungkin dilaksanakan, namun pelaksanaannya akan menghabiskan waktu banyak dan anggaran berkali lipat.

Waktu untuk pembacaan doa akan enam kali lebih lama, dan Kemenag setiap acara berarti harus menyiapkan enam anggaran untuk pembaca doa.

Masalah juga bisa muncul jika peserta yang hadir hanya terdiri dari satu atau dua agama misalkan, tapi doanya harus dari semua agama yang diakui di Indonesia. Masa harus cari orang hanya untuk pembaca doa padahal pesertanya tidak ada dari agama tersebut? 

Apa yang terjadi selama ini sudah cukup. Pembacaan doa cukup oleh satu orang sesuai agama mayoritas yang hadir. Yang lain menyesuaikan berdoa sesuai agama masing-masing.

Misalkan di Jawa Barat pembacaan doa biasanya oleh muslim, di Sulawesi Utara biasanya oleh Kristiani dan di Bali oleh pemuka agama Hindu. Peserta dari agama lain menyesuaikan berdoa sesuai ajaran agamanya. Itu toleransi. Semua saling menghormati tanpa harus mencampuradukan ajaran satu agama dengan agama lain.

So, toleransi itu bukan sinkretisme, Gus Yaqut!

Dr. Indra Kusumah

Presiden GEMA Keadilan

Untuk diketahui, sebelumnya Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas meminta jajarannya di Kementerian Agama turut memberikan kesempatan doa versi agama selain Islam dibacakan dalam setiap kegiatan mereka.

Yaqut menyampaikan hal tersebut ketika memberi kata sambutan dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kemenag, Senin (5/4). 

Mulanya, saat pembukaan acara Rakernas tersebut ada pembacaan ayat suci Alquran serta pembacaan doa, namun hanya dengan cara agama Islam.

"Pagi hari ini saya senang Rakernas dimulai dengan pembacaan ayat suci Alquran. Ini memberikan pencerahan sekaligus penyegaran untuk kita semua, tapi akan lebih indah lagi jika doanya semua agama diberikan kesempatan untuk memulai doa," ujar Yaqut.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto