Netral English Netral Mandarin
03:11wib
Pemerintah Kota (Pemkot) Depok melarang kegiatan buka puasa bersama saat ramadan seiring dengan pandemi Covid-19. Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan melarang total operasi semua moda transportasi darat, laut, udara, kereta pada 6 Mei-17 Meri 2021.
Memaknai Pesan Sejarah di Balik Lukisan Pertemuan Bung Karno dan Marhaen

Selasa, 06-April-2021 21:00

Ketua DPRD Kota Surabaya Adi Sutarwijono saat melihat lukisan pertemuan Bung Karno dan Marhen karya  pelukis Sudiyanto Pandji Wiryo Atmojo
Foto : Antara
Ketua DPRD Kota Surabaya Adi Sutarwijono saat melihat lukisan pertemuan Bung Karno dan Marhen karya pelukis Sudiyanto Pandji Wiryo Atmojo
60

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua DPRD Kota Surabaya Adi Sutarwijono menilai lukisan pertemuan Bung Karno dan Marhaen karya pelukis Sudiyanto Pandji Wiryo Atmojo dipamerkan di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag), Selasa (6/4/21), sarat dengan pesan sejarah.

"Ini merupakan sebuah kebanggaan. Salah satu momen terpenting dalam perjalanan bangsa ini berhasil dilukiskan dengan sangat baik oleh pelukis Surabaya, Bapak Pandji. Ini akan menjadi penguat semangat bagi kita semua untuk meneruskan cita-cita Bung Karno," ujar Adi Sutarwijono saat di Untag.

Pertemuan antara Bung Karno dan petani bernama Marhaen (Mang Aen) sendiri terjadi di Cigelereng, Bandung, pada 1923, ketika Bung Karno sedang kuliah di ITB setelah lulus dari HBS Surabaya pada 1921.

Saat itu Bung Karno bersepeda keliling desa dan bertemu Marhaen yang sedang mengerjakan sawahnya. Marhaen adalah sosok petani kecil yang hidupnya menderita, tenaganya terkuras hanya untuk sekadar memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Baca Juga :

"Itu adalah momen dialog dua anak manusia yang kemudian menjadi inspirasi bagi Bung Karno, sehingga beliau menamakan pemikiran perjuangan politiknya sebagai Marhaenisme, dengan gelora semangat untuk membebaskan rakyat dari kemiskinan dan kebodohan," ujar Adi.

Lukisan berdimensi 100 x 130 cm tentang pertemuan Bung Karno dan Marhaen yang diperkenalkan hari ini adalah karya pelukis Surabaya, S. Pandji, atas permintaan dari aktivis senior, Yacobus Mayong Padang. Lukisan itu bakal dipasang di Institut Marhaen di Bandung yang diinisiasi oleh Yacobus.

Adi Sutarwijono menambahkan, lukisan yang sarat nilai sejarah itu harus menjadi pendorong bagi para pemangku kepentingan di Surabaya untuk terus memperkuat kerja-kerja kerakyatan.

"Lukisan ini bukan sekadar lukisan, tapi lukisan yang menggambarkan betapa mendalamnya pemikiran Bung Karno tentang bangsa ini. Itulah yang harus kita teladani dengan terus melahirkan kebijakan yang baik bagi masyarakat," ujarnya.

Sementara itu, Yacobus menjelaskan arti pentingnya lukisan tersebut, sebagai penanda dari salah satu segmen sejarah bangsa yang tak boleh dilupakan. Pertemuan itulah yang titik awal perjuangan kemerdekaan. Dialog dengan Pak Marhaen menyadarkan Bung Karno sebagai kaum terpelajar, betapa menderitanya rakyat ketika itu.

"Bung Karno tidak tahan melihat penderitaan rakyat. Saat itu juga, Bung Karno bertekad, Indonesia harus merdeka untuk membebaskan rakyat yang menderita," kata Kobu, panggilan akrabnya.

Pandangan Wali Kota Surabaya

Lain lagi dengan pandangan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. Ia mengapresiasi lukisan pertemuan Bung Karno dan Marhaen karya pelukis Sudiyanto Pandji Wiryo Atmojo yang dipamerkan di Gedung Graha Wiyata, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.

"Ini adalah kehormatan untuk Surabaya, dan semakin meneguhkan kami sebagai dapur nasionalisme karena di kota ini Bung Karno lahir, tumbuh hingga remaja, mendapat gemblengan pemikiran dan bersentuhan dengan dinamika rakyat," kata Eri Cahyadi.

Menurut dia, lukisan berdimensi 100 x 130 cm itu sarat dengan nilai sejarah karena menggambarkan pertemuan bersejarah antara proklamator kemerdekaan Ir Sukarno (Bung Karno) dan seorang petani bernama Marhaen di Cigelereng, Bandung pada 1923.

Lukisan yang dilukis oleh pelukis Surabaya bernama Sudiyanto Pandji Wiryo Atmojo itu atas permintaan dari aktivis kerakyatan senior bernama Yacobus Mayong Padang. Lukisan itu rencananya dipasang di Institut Marhaen di Bandung yang diinisiasi oleh Yacobus Mayong Padang.

Pada peresmian lukisan tersebut, hadir pula Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Tujuh Belas Agustus (YPTA) 1945 Bambang DH, Ketua DPRD Surabaya Adi Sutarwijono, Rektor Untag Surabaya Mulyanto Nugroho dan Nuniek Silalahi yang menjembatani lahirnya lukisan tersebut.

Eri Cahyadi mengungkapkan rasa bangga dan bahagianya dapat menyaksikan proses pembuatan lukisan itu melalui seuplik dokumentasi video yang disaksikan secara bersama-sama. Selain itu dia memaparkan, lukisan yang mengandung nilai sejarah itu diciptakan oleh pelukis asal Surabaya, Sudiyanto Pandji W yang dikerjakan mulai April-November 2020.

Ia mengatakan, Bung Karno adalah sosok pemimpin yang jiwanya dipenuhi keikhlasan. Tidak ada satu pun motif pemikiran dan perjuangan Bung Karno kecuali hanya untuk membebaskan rakyat kecil dari penderitaan akibat penjajahan.

"Jiwanya beliau yang tulus ikhlas itu semoga selalu menurun kepada jiwa warga Surabaya," ujarnya.

Selain itu, dia memastikan lukisan yang menggambarkan pertemuan Bung Karno dan Marhaen tersebut membawa imajinasinnya hingga puluhan tahun silam.

Eri membayangkan, Bung Karno ketika itu bersepeda keliling desa hingga bertemu Marhaen. Di tengah terik matahari, di tengah sawah, terjadilah dialog di antara keduanya, yang menjadi inspirasi bagi Bung Karno untuk memberi nama Marhaenisme pada pemikiran politiknya.

"Saya membaca kisahnya di otobiografi Bung Karno. Salah satu kisah yang paling saya ingat. Dari itu pula selalu menjadi pengingat saya untuk tidak pernah ingkar janji kepada rakyat kecil," ujarnya.

Selain itu, orang nomor satu di Kota Pahlawan ini mencontohkan kisah Marhaen tak lain sebagai representai rakyat kecil saat ini. Oleh sebab itu, Cak Eri sapaan lekatnya akan terus memperjuangkan hak-hak warga demi kesejahteraan bersama mulai dari memberikan pelayanan terbaik, melanjutkan program permakanan, berobat gratis, sekolah gratis dan sebagainya.

"Pemikiran Bung Karno harus dibumikan di Surabaya. Semua itu tidak membuat kami berpuas diri, karena Pemkot Surabaya masih dan akan terus berinovasi untuk membahagiakan warganya," ujarnya.

Sementara itu, Yacobus Mayong Padang mengungkapkan sejarah Indonesia terurai sangat panjang. Menurutnya, kemerdekaan diperingati setiap 17 Agustus 1945, namun ada satu momen yang sangat penting dalam perjalanan menuju kemerdekaan, yaitu momen ketika Bung Karno bertemu Marhaen (Mang Aen) di tengah sawah di Cigereleng, Bandung, pada 1923.

"Dialog dengan Pak Marhaen itulah yang menyadarkan Bung Karno sebagai kaum terpelajar, betapa menderitanya rakyat ketika itu. Saat itu juga, Bung Karno bertekad bahwa Indonesia harus merdeka untuk membebaskan rakyat yang menderita," katanya dilansir Antara.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto