Netral English Netral Mandarin
01:49wib
Hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen masyarakat setuju sekolah dan rumah ibadah dibuka kembali meski masih di tengah kondisi pandemi corona. Data pengguna Facebook yang mencapai 533 juta, baru-baru ini dikabarkan telah dicuri hacker. Facebook menyatakan, tak akan memberi tahu data siapa saja yang telah dicuri.
Resmi Jadi PM Italia, Mario Draghi Diharapkan Mampu Atasi Krisis Terburuk Sejak PD II 

Sabtu, 13-Februari-2021 23:00

Mario Draghi, eks Kepala ECB kini jadi PM Italia.
Foto : Youtube ECB
Mario Draghi, eks Kepala ECB kini jadi PM Italia.
6

ROMA, NETRALNEWS.COM - Eks kepala Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) Mario Draghi resmi menjabat sebagai perdana menteri di Italia setelah ia mengucapkan sumpah jabatan di hadapan Presiden Sergio Mattarella, Sabtu (13/2/2021).

Draghi diharapkan dapat menyatukan seluruh kalangan di Italia demi menghadapi krisis kesehatan dan ekonomi akibat pandemi COVID-19.

Hampir seluruh partai-partai besar di Italia mendukung penunjukan Draghi. Kabinet pemerintahan Draghi pun diisi oleh politisi dari berbagai kelompok politik serta para teknokrat yang mengisi jabatan penting seperti Kementerian Keuangan dan otoritas yang mengatur transisi ke energi bersih.

Banyak orang yang menggantungkan harapan ke pundak Draghi.

Draghi, yang punya latar belakang sebagai ekonom, mengemban tugas untuk memulihkan perekonomian di Italia yang terpuruk akibat pandemi.

Ia juga harus menyusun rencana bagaimana mengalokasikan dana lebih dari 200 miliar euro (sekitar Rp3.353 triliun) yang diberikan oleh Uni Eropa untuk bangkit dari resesi.

Jika Draghi berhasil, maka ia turut memperkuat stabilitas di Eropa yang lama berusaha mengatasi krisis di Italia. Draghi, apabila berhasil, juga akan meyakinkan sekutu Italia di Utara yang skeptis terhadap Roma.

Kepercayaan itu dapat berujung pada bantuan dana ke negara-negara lebih miskin di selatan. Bantuan dana itu diyakini dapat memperkuat stabilitas di seluruh kawasan.

Namun, Draghi juga menghadapi tantangan besar. Italia jatuh dalam krisis terburuk sejak Perang Dunia Kedua. Ratusan orang terserang COVID-19 tiap harinya. Vaksinasi berjalan lambat. Namun, tidak banyak waktu yang dimiliki Draghi untuk mengatasi seluruh masalah di Italia.

Italia akan menggelar pemilihan umum dua tahun ke depan. Namun banyak pihak ragu Draghi mampu bertahan sebagai kepala koalisi.

Koalisi pemerintah saat ini terdiri dari partai-partai yang memiliki sikap radikal terhadap isu-isu seperti imigrasi, hukum, pembangunan infrastruktur, dan kesejahteraan. Demikian seperti dikutiip Antara dari Reuters. 

Reporter : Irawan HP
Editor : Irawan HP