Netral English Netral Mandarin
banner paskah
03:34wib
Pasukan TNI/Polri yang tergabung dalam Satgas Nemangkawi menembak mati Lesmin Waker, Komandan Pasukan Pintu Angin Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Lekagak Telenggen di Papua. Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta warga untuk mewaspadai hujan lebat disertai petir yang diperkirakan bakal mengguyur sejumlah wilayah pada hari kedua Lebaran, Jumat (14/5).
Disebut Dedengkot Tua, Hendropriyono Sebut Sopan Santun dan Akal Budi Natalius Pigai Lenyap

Sabtu, 02-January-2021 11:10

Mantan Kepala Badan Intelijen Negera (BIN) Hendropriyono
Foto : Istimewa
Mantan Kepala Badan Intelijen Negera (BIN) Hendropriyono
19

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Mantan Kepala Badan Intelijen Negera (BIN) Hendropriyono memberikan jawaban menohok kepada Natalius Pigai yang  telah menyebutnya sebagai dedengkot tua saat berkomentar soal pembubaran Front Pembela Islam (FPI) oleh pemerintah di akun Twitternya.

Dalam cuitan di akun Twitternya, Natalius mempertanyakan kapasitas mantan Jenderal Kopassus itu. 'Orangtua mau tanya. Kapasitas Bapak di negara ini sebagai apa ya, Penasehat Pres, Pengamat? Aktivis?. Biarkan diurus generasi abad ke-21 yang egaliter, humanis, Demokrat. Kami tidak butuh hadirnya dedengkot tua. Sebabnya Wakil Ketua BIN & Dubes yang Bapak tawar saya tolak mentah2. Maaf', tulis Natalius Pigai.

Hendropriyono langsung menanggapi hal tersebut.

"Buat seorang pejuang tdk ada kata berhenti ananda @NataliusPigai2 Jika negara dlm bahaya, kita hrs membelanya. Harus tanpa hitung untung atau rugi dan muda atau tua", ucap Hendropriyono dalam cuitan akun @edo751945 pada Sabtu 2 Januari 2021.

"Sebagai pejabat sy dulu berjuang dg kewenangan saya, sekarang sbg rakyat dg mulut sy dan jk kelak tak berdaya scr fisik, mk sy akan berjuang dg do'a saya. Begitu bntuk tingkatan iman sy, sbg seorang muslim", ucap selanjutnya.

Melanjutkan tulisnnya, Hendropriyono mengatakan mengenal Natalius sebaga “. Krn itu sy tanya knp kmu tdk jd pejabat saja, agar semua bakat dan potensimu tersalur dan bermanfa'at, Bukan sy tawari jabatan di pemerintahan, krn sy tdk pny kewenangan apapun apalagi sbg formatur," tulis Hendropriyono.

"Patriotik dan cerdas krn sy dengar kamu mengkritik ide separatisme dg mngatakan, bhw seharusnya bercita-cita jadi Presiden RI daripada hanya sbg Presiden Papua".

Menurut Hendropriyono, waktu pertama kali mengenal Natalius ketika pria asal Papua ini masih menjadi anggota komisioner Komnas HAM dan  bertemu di restoran Kunskring di Jl Teuku Umar. Saat itu, Pigai dengan semangat menawarkan jasa untuk membelanya  saya dalam kasus Talangsari".

"Saya tdk menaggapi, krn sy merasa kasus tsb sdh selesai secara hukum. Juga sdh selesai scr Islam melalui islah".

"Setelah lama tidak bertemu dan kmu bukan penguasa lagi, kamu berubah 180 derajat. Selain patriotisme dan kepandaianmu, moralmu juga sangat merosot. Sopan santun dan akal budimu lenyap, krn ditelan kekecewaan sbg penganggur yg tak terakomodasi di tempat yg kmu inginkan".

"Semua kata yg keluar dri mulutmu adalah ungkapan dari pikiranmu. Itulah sebabnya sy bs bilang kamu bukan Pigai yg dulu lagi".

Pada  akhir tulisannya, Hendropriyono mengucapkan terimkasih atas penghinaa  Pigay yang menyebutkanya dirinya sebagai orangtua. Hendro pun berharap Pigay tetap teguh pada prinsipnya agar banyak orang yang menghargainya dan mndapat etmpat yg terhormat di masyarakat"

"Demikian Pigai, semoga kita masih bisa bertemu lagi, sebelum umur tdk memungkinkannya. Salam dan selamat tahun baru 2021", pungkasnya. Hendro

Kasus ini berawlal setelah pemerintah membubarkan FPI. Dalam cuitan di akun Twitter, Hendro mengatakan, setelah FPI  dibubarkan, giliran organisasi yang melindung eks FPI dan para provokatornya yang akan ditertibkan.

Menurut Hendropriyono dalam cuitannya di akun Twitternya, @edo751945 Kamis (31/12/2020), masyarakat Indonesia saat ini merasa lega  karena di penghujun tahun 2021 ini mendapat hadiah dari pemerintah berupa  pembubaran atau pelarangan seluruh aktivitas FPI. Namun, masih ada saja pihak-pihak atau provokator yang bermain.  “Organisasi pelindung ex FPI dan para provokator tunggu giliran," cuit Hendropriyono.

Menurut Guru Besar Sekolah Tinggi Intelijen Negara dan Sekolah Tinggi Hukum Militer ini, para benalu demokrasi adalah para provokator dan demagog yang termasuk dalam kejahatan terorganisasi (organized crime).

Menurutnya, kegiatan FPI telah dilarang oleh pemerintah karena semakin jauh dari kehidupan masyarakat Pancasila yang toleran terhadap perbedaan. "Rakyat kini bisa berharap hidup lebih tenang, di alam demokrasi yg bergulir sejak reformasi 1998," cuitnya.

Dengan dilakukannya pembubaran FPI, ke depan tidak akan ada lagi aksi penggerebekan terhadap orang yang sedang menjalankan ibadah. "Tidak akan ada lagi penggerbegan thd org yg sdg beribadah, thd acara pernikahan, melarang mnghormat bendera merah putih, razia di cafe-cafe, mini market, toko2 obat, warung makan, mall dan lain lain kegiatan yg main hakim sendiri," katanya.

Lebih jauh  Hendropriyono mengatakan, kegiatan kriminal yang terorganisir dengan kedok agama, kini telah dihentikan pemerintah demi tegaknya hukum sekaligus disiplin sosial. "Hanya dg disiplin kita bs mncapai stabilitas dan hanya dg stabilitas kita dpt bekerja, utk mencapai keamanan dan kesejahteraan bersama," cuitnya.

Seperti dikeetahui, pemerintah resmi melarang seluruh aktivitas dan penggunaan atribut FPI. Pelarangan tersebut tertuang dalam putusan Mahkamah Konstitusi (MK) tertanggal 23 Desember tahun 2014 yang mencabut legal standing (kedudukan hukum) organisasi masyarakat tersebut.

Reporter : Wahyu Praditya P
Editor : Nazaruli