Netral English Netral Mandarin
banner paskah
15:17wib
Pasukan TNI/Polri yang tergabung dalam Satgas Nemangkawi menembak mati Lesmin Waker, Komandan Pasukan Pintu Angin Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Lekagak Telenggen di Papua. Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta warga untuk mewaspadai hujan lebat disertai petir yang diperkirakan bakal mengguyur sejumlah wilayah pada hari kedua Lebaran, Jumat (14/5).
Heboh Pejabat AS Berjilbab, Akhmad Sahal: Sekulerisme AS Gak Anti Agama tapi Anti Pemaksaan Agama/Atribut Agama

Minggu, 28-Februari-2021 12:15

Akhmad Sahal dan Sameera Fazili
Foto : Istimewa
Akhmad Sahal dan Sameera Fazili
22

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Seorang pejabat  Amerika Serikat  (AS) membuat heboh dunia maya saat tampil dengan mengenakan  jilbab  ketika memberikan pengarahan di  Gedung Putih.

Para pengguna media sosial memuji momen langka tersebut sebagai bentuk simbolis setelah bertahun-tahun Islamofobia dinormalisasi oleh pemerintahan sebelumnya.

Akhmad Sahal pun ikut angkat bicara. Mulanya akun Dipo Alam dipoalam49 mencuit: "Heboh, Pejabat AS Pakai Jilbab Saat Konferensi Pers di Gedung Putih."

Akhmad Sahal pun meretweets: Ada pejabat AS muslimah berjilbab itu contoh nyata penerapan sekulerisme a la Amerika. Negara BUKAN anti agama tp NETRAL agama. Atribut agama itu hak warga. Negara ga boleh ngralang atau mewajibkan." 

"Sekulerisme AS gak anti agama. Tp anti pemaksaan agama/ atribut agama," imbuh Akhmad Sahal, Minggu (28/2/21).

Sebelumnya diberitakan, adalah Sameera Fazili, Wakil Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS, yang membuat para netizen terpesona dengan penampilannya. Itu terjadi saat ia berbicara kepada wartawan atas perintah eksekutif Presiden Joe Biden untuk mengatasi kekurangan chip elektronik dan masalah rantai pasokan penting lainnya pada Rabu lalu.

Lulusan Universitas Harvard dan Sekolah Hukum Yale ini diangkat ke posisi kunci dalam pemerintahan baru bulan lalu. Dewan Ekonomi Nasional akan menangani proses pembuatan kebijakan ekonomi dan memberikan saran kebijakan kepada presiden.

Pengguna media sosial menyambut baik penampilan pertama Fazili sebagai pejabat di pemerintahan Biden, dengan beberapa menafsirkan gambar pejabat Muslim yang mengenakan jilbab sebagai simbol pergeseran dari warisan kefanatikan Donald Trump yang anti terhadap Muslim.

"Sebulan setelah Trump pergi dan kami memiliki seorang saudara perempuan berjilbab yang memberikan konferensi pers di Gedung Putih," tulis Imraan Siddiqi, direktur eksekutif Dewan Muslim Hubungan Islam Amerika (CAIR) cabang Washington. 

"Para Islamaphobia menangis," tambahnya seperti dikutip dari Al Araby, Sabtu (27/2/2021).

Shahed Amaah, seorang pengusaha teknologi Muslim yang menjabat sebagai penasihat senior di Departemen Luar Negeri AS antara tahun 2011 dan 2014, juga mengungkapkan sentimen serupa.

Dia menggambarkan penampilan Fazili, putri imigran Kashmir, menunjukkan bahwa AS hanya dalam sebulan telah mencapai dari ketidakmampuan dan pengucilan hingga kecerdasan dan inklusi.

Aymaan Ismail, seorang jurnalis Muslim AS yang berfokus pada identitas dan agama, membandingkan penampilan Fazili dengan aktivis anti-Islam Brigette Gabriel, yang diundang ke Gedung Putih oleh Trump.

"Trump mengundang para Islamofobia seperti Brigette Gabrial ke WH. Hari ini, saudari @sameerafazili menyampaikan konferensi pers. Betapa cepatnya hal-hal berubah," tweetnya.

Tak lama setelah menjabat pada tahun 2017, Trump memberlakukan "larangan perjalanan Muslim", yang dibatalkan Biden dalam serangkaian perintah eksekutif bulan lalu.

Larangan itu adalah salah satu dari beberapa janji kampanye xenofobia yang dibuat oleh Trump, yang mencakup pembuatan pendaftaran Muslim dan pengawasan masjid.

Dia juga mengomentari dugaan 'ancaman' yang ditimbulkan oleh Muslim yang tinggal di Barat selama masa kepresidenannya, memicu kemarahan di antara supremasi kulit putih dan sayap kanan. 

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto