Netral English Netral Mandarin
banner paskah
16:00wib
Jaksa penuntut umum (JPU) menuntut Rizieq Shihab dengan pidana penjara selama dua tahun dalam kasus dugaan pelanggaran kesehatan di Petamburan, Jakarta Pusat. Mabes Polri mengklaim ada 1.864 kasus yang ditangani menggunakan pendekatan restorative justice (keadilan restoratif) sepanjang 100 hari kinerja Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menjabat.
Betapa Mulia di Balik Sembahyang Kubur Ceng Beng Warga Tionghoa

Minggu, 21-Maret-2021 10:45

Ilustrasi Perayaan Tradisi Ceng Beng
Foto : Hallo Riau
Ilustrasi Perayaan Tradisi Ceng Beng
28

RIAU, NETRALNEWS.COM - Pemkab Kepulauan Meranti, Provinsi Riau mengizinkan masyarakat Tionghoa di wilayah itu untuk melakukan tradisi sembahyang kubur (Ceng Beng) di saat pandemi COVID-19, namun harus dengan protokol kesehatan secara ketat.

Kapolres Kepulauan Meranti AKBP Eko Wimpiyanto Hardjito di Selatpanjang, Minggu, mengatakan hal itu sesuai hasil rapat yang dilakukan Polres Kepulauan Meranti bersama pihak terkait tentang pelaksanaan sembahyang kubur.

"Pelaksanaan sembahyang kubur tahun ini tentu berbeda dari sebelumnya, karena dilaksanakan di tengah pandemi dan protokol kesehatan yang ketat harus dikedepankan," katanya.

Untuk itu, pihaknya bersama aparat terkait lainnya akan menerjunkan personel guna mengamankan pelaksanaan kegiatan sembahyang agar dapat berjalan aman dan tertib.

Baca Juga :

"Setiap orang yang akan masuk area pemakaman wajib menggunakan masker, mencuci tangan, dan bersedia dicek suhu tubuhnya," tuturnya dinukil Antara.

Tahun sebelumnya, tradisi Ceng Beng tidak dilaksanakan mengingat wabah COVID-19 baru saja memasuki wilayah Indonesia. Saat itu, warga Tionghoa diminta menggelar baca doa di rumah masing-masing untuk mendoakan leluhurnya.

Proses sembahyang kubur akan dilaksanakan pada 21-25 Maret 2021 yang terbagi dalam lima sesi guna menghindari kerumunan.

Dalam pelaksanaan kegiatan sembahyang kubur, seluruh peserta wajib mengikuti tata tertib yang telah disepakati dan wajib datang tepat waktu sesuai tanggal dan waktu yang telah dicantumkan dalam kartu kupon yang telah dibagikan sebelumnya.

Ceng Beng adalah tradisi semacam ziarah kubur yang dilakukan masyarakat Tionghoa untuk mendoakan para leluhurnya yang telah dimakamkan. Tradisi tersebut juga dipercaya meningkatkan tali persaudaraan, sehingga banyak masyarakat yang hadir.

Menghormati Leluhur

Tradisi Ceng Beng merupakan tradisi kuno, dalam bahasa Hokian disebut Ceng Beng, dan atau Qing Ming dalam bahasa lain. Kedua istilah terminologi tersebut memiliki tujuan sama yakni tradisi ziarah kubur untuk menghormati para leluhur.

Ceng Beng digelar pada 5 April setiap tahunnya. Lima hari sebelumnya, warga Tionghoa membersihkan dan merapihkan area makam bersama-sama, dan beribadah pada 5 April atau lima hari setelahnya.

Dalam tradisi itu, saat itu mereka tiba sejak pagi dan langsung menyediakan berbagai macam makanan-minuman. Warga Tionghoa kemudian menggelar ritual dan mendoakan para orangtua dan leluhur di pemakaman. 

Prosesi Ceng Beng berlangsung sekitar 60 menit. Usai berdoa, tiap warga menziarahi makam orangtua, sanak keluarga, serta leluhur masing-masing. Mereka merapihkan dan memperindah makam lalu mendoakan para leluhur dengan harapan Tuhan memberikan tempat terbaik.

Bagi orang Tionghoa, ziarah ini wujud dari penghormatan kepada leluhur. Dalam posisi apapun di manapun berada, mereka akan selalu kembali mengenang jasa-jasa leluhur dengan membersihkan, menabur bunga, dan lainnya. Ini juga upaya reuni antar keluarga dan warga Tionghoa.

Usai ziarah, para warga Tionghoa berbagi suka dan bahagia dengan memberikan paket sembako kepada warga sekitar.  

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto