JAKARTA - Saat membaca buku The Winning Mindset, aku terhenti sejenak pada kisah luar biasa dari Stephen Hawking. Ia lahir pada tahun 1942 dan di usia 21 tahun divonis mengidap penyakit langka yang melemahkan otot dan sistem sarafnya. Dokter bahkan memperkirakan hidupnya hanya tinggal dua tahun lagi. Tapi ternyata, Hawking tidak menyerah. Dengan segala keterbatasan fisiknya, ia tetap melanjutkan pendidikan di Universitas Cambridge dan mendalami ilmu kosmologi. Ia tidak hanya bertahan hidup lebih lama, tapi juga mengguncang dunia dengan teorinya tentang lubang hitam dan asal-usul alam semesta. Saat membaca kisah itu, aku benar-benar tersentuh. Rasanya seperti diingatkan: kalau seseorang yang hampir lumpuh total saja bisa menorehkan sejarah dunia, kenapa aku harus mengeluh dengan keterbatasan yang aku hadapi? Dari Hawking, aku belajar bahwa keterbatasan bukanlah akhir, tapi justru bisa menjadi alasan untuk terus melangkah maju. Stephen Hawking divonis hanya hidup dua tahun karena penyakit otot yang membuatnya sulit bergerak. Tapi ia membuktikan sebaliknya, bahkan berhasil menjadi ilmuwan besar di bidang kosmologi. Yang bikin aku terinspirasi bukan cuma kecerdasannya, tapi juga konsistensinya melawan keterbatasan. Kadang aku ngerasa minder karena kondisi atau keterbatasanku, tapi dari Hawking aku belajar bahwa keterbatasan itu bukan akhir. Yang penting aku tetap melangkah meski kecil, tetap konsisten meski belum kelihatan hasilnya.