3
Netral English Netral Mandarin
01:47 wib
Kementerian Lingkungan Hidup mengungkap ada peningkatan titik panas yang berpotensi menyebabkan kebakaran hutan di beberapa provinsi. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menargetkan kegiatan sekolah tatap muka bisa dilakukan pada semester kedua tahun ini, atau tepatnya pada Juli 2021 mendatang.
Selama Setahun, Indonesia 'Menantang' Dunia Internasional

Rabu, 17-Februari-2021 16:27

Ilustrasi Konfrontasi Indonesia-Malaysia
Foto : Liputan6.com
Ilustrasi Konfrontasi Indonesia-Malaysia
4

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Presiden Soekarno berang. Pasalnya, Malaysia diberikan kemerdekaan oleh Inggris pada 1956. Menurutnya, Malaysia adalah negara boneka.

Sementara ia adalah tokoh yang anti imperialisme dan kolonialisme. Inilah salah satu penyebab ketika Indonesia kemudian berani “menantang” dunia internasional yang tercermin dalam sikap “keluar dari keanggotaannya di PBB”.

Secara lebih detail, peristiwa itu sebenarnya juga diwarnai dengan aksi operasi militer untuk “membebaskan” Malaysia dari kekuasaan Inggris. 

Dalam beberapa catatan sejarah, sebenarnya pengerahan massa untuk persiapan “perang” perebutan wilayah Malaysia sudah terjadi. 

Namun aksi tersebut kemudian harus berakhir karena kekuasaan Soekarno tumbang. Mereka yang sempat berperang di hutan Kalimantan pun banyak akhirnya bernasib :malang” karena kemudian dituduh terlibat dengan kelompok Komunisme (PKI).

Keputusan melakukan berkonfrontasi dengan Malaysia memang menjadi puncak kekesalan Soekarno. Kala itu Malaysia ingin membuat Federasi Malaya, atau dikenal dengan Persekutuan Tanah Melayu.

Federasi ini menggabungkan Borneo Utara, Sarawak, Sabah, dan Singapura untuk dijadikan satu negara baru.

Dalam pandangan Soekarno, Malaysia bisa menjadi wilayah untuk memperkuat kolonialisme Inggris di Asia Tenggara. Hal ini tentu bisa mengancam kedaulatan RI. 

Dalam catatan Kompas.com, Sukarno khawatir Federasi Malaya akan jadi pangkalan militer Barat di Asia Tenggara yang menurutnya akan mengganggu stabilitas di kawasan Asia Tenggara.

Ada anggapan dari Sukarno kalau Inggris akan menggunakan negara baru itu untuk mengetatkan kontrol dan kekuasaannya.

Dengan kata lain, mereka akan melanjutkan kolonialisme gaya baru. Indonesia sendiri ketika masih disebut Hindia Belanda pernah merasakan kependudukan Inggris pada 1811-1816.

Kekesalan Soekarno kemudian berlanjut ketika PBB menyatakan akan menjadikan Malaysia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB pada 1964.

Oleh sebab itu, pada 1 Desember 1964, wakil Indonesia di PBB akhirnya menyampaikan pernyataan kepada Sekretaris Jenderal PBB, U Thant, tentang keinginan negeri ini untuk keluar dari PBB jika organisasi tersebut tetap menjalankan rencana dan niatnya itu.

Sayangnya, ancaman ingin keluar tidak ditanggapi dan Malaysia kemudian sah menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB pada 7 Januari 1965. Tak ada pilihan lain selain menjaga kewibawaannya, maka Sukarno menyatakan keluar dari PBB. 

Deklarasi keluar PBB secara resmi baru diserahkan pada 20 Januari 1965 oleh Menteri Luar Negeri RI, Subandrio. 

Hanya sayangnya, peristiwa ini terjadi di masa-masa akhir kekuasaan Soekarno (Orde Lama). Sebab, setahun kemudian, pasca meletusnya G-30-S 1965, kekuasaanya tumbang. 

Lahirlah era Orde Baru. Di masa pemerintahan Soeharto, Indonesia kembali menjadi anggota PBB. 

Peristiwa ini persisnya terjadi pada 28 September 1966 atau tepat 16 tahun setelah diterima untuk pertama kalinya menjadi anggota PBB.

Dalam sejarah dunia, Indonesia ternyata merupakan satu-satunya negara yang pernah berani keluar dari PBB. 

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto